Dia Sungguh Mengerikan

1778 Words
Besoknya SMA Sinar Harapan bergaung riuh setelah Ara resmi jadi siswi di sekolah itu. Lalu lintas koridor di depan XII IPA 2 mendadak padat. Ratusan siswa dari berbagai penjuru berbondong-bondong menyerbu kelas itu. "Halo, Keiraaa!!!" "Keira? Ini beneran yang asli, nih? Buset dah, silau bener mukanya!" "Eh, Keira. Kok, lo masuk sekolah ini, sih? Bukannya lo home schooling? Best friend-nan, yuk. Gue panggil lo Ira boleh, ya? Ya, ya? Atau lo mau dipanggil Rara aja?" Ara tenggelam dalam lautan manusia. Mendekam di bangkunya tanpa celah melarikan diri karena sejak bel istirahat bernyanyi lima belas menit yang lalu, ribuan masa berkerumun di tempat duduknya. Pada nggak lapar apa, ya? keluh Ara dalam hati. Banyak juga yang mengambil foto Ara. Tidak pakai sembunyi-sembunyi lagi, terang-terangan! Bahkan, ada yang memfoto dalam jarak terlalu dekat hingga Ara refleks memundurkan kepala, kalau tidak mau hidung mancungnya berkenalan dengan casing HP Android yang berminyak itu. "Ra, lo belom hapal seluk beluk sekolah ini, kan? Ikut gue keliling, yuk!" Ara menolak ajakan itu dengan gelengan pelan, tidak lupa sambil tersenyum supaya kesannya sopan. Namun, yang terjadi malah kegaduhan di sekitar Ara semakin tidak terkendali. Terutama dari para cowok. Karena siapa pun yang melihat senyum mematikan barusan, bisa mengira ada Dewi Aphrodite yang lagi kesasar. Sebuah ide melintas di kepala Ara. Daripada harus mencari di sekolah yang luas ini, langsung saja ia tanyakan pada kerumunan dari berbagai alam di hadapannya. "Sebenarnya, gue lagi cari seseorang." Seisi kelas bersorak 'HUUUUUUU' secara kompak. Ada juga yang menyelipkan siul. "Siapa yang lo cari, Ra? Jangan-jangan gue lagi!" celetuk salah seorang cowok berambut cepak yang disambut tawa riuh teman-temannya. Ara kembali tersenyum, menggeleng pelan. "Gue cari cowok kelas XII IPS 1. Namanya Rega Nathanael Randaya. Ada yang kenal?" Kalimat Ara barusan bagaikan menjatuhkan bom di tengah kerumunan. Kegaduhan yang sejak tadi mengisi ruangan mendadak menguap, terganti dengan sunyi senyap yang mencekam. Menciptakan ketegangan yang sangat ketara terutama setelah Ara meneliti satu per satu wajah pucat di hadapannya kini. Ara mengerutkan kening. "Kok, lo semua jadi diem? Kenapa?" "Lo punya urusan sama Rega?" tanya Egi, cowok berkaca mata di sebelah Ara. Ekspresi jahil yang sejak tadi terpasang di wajah cowok itu sudah menghilang, menyisakan keseriusan dan ketegangan. Ara tidak tahu sejauh mana ia bisa membocorkan misinya. Karena itu ia menjawab, "nggak. Gue cuman mau tahu anaknya yang mana. Soalnya kemaren guru-guru pada ngomongin dia di ruang kepala sekolah." "Mending lo jauhin si Rega deh, Ra. Jangan nyari masalah sama dia. Soalnya, kagak ada beda sama nyari mati!" celetuk cowok yang lain. "Bener banget, Ra. Soalnya nih, si Rega tuh kalo udah emosi bisa ngelempar orang. Nggak pandang bulu! Kekejaman si Rega juga mengenal kesetaraan gender, mau cowok atau cewek, kalo di mata dia nyolot ya, libas! Gue takut muka bidadari lo nggak ngefek ke Rega. Yang ada, nanti lo malah dikira titisan succubus yang mau ngegoda dia!" jelas seorang cowok beramput tipis. Bahkan, ia sampai memukul meja di akhir kalimat untuk memperjelas semua kata-katanya adalah fakta! Ara mengerutkan kening. "Kenapa sih, emangnya? Dia berandal banget, ya?" "Bukan. Psikopat!" celetuk Egi. Ia kira berhasil menakut-nakuti artis cantik di sebelahnya ini. Namun ternyata, sorot mata Ara malah menagih penjelasan. Egi menghela napas. "Ngomong sama Rega tuh serasa b***l di puncak mount everest. Dingin banget! Natap orang tajemnya kayak ditembus tombak. Kalo emang bebal banget mau berurusan sama si Rega, mending lo bertapa dulu ke gunung kawi buat belajar ilmu nggak mempan dibacok, nggak mempan dilindes kereta, sama nggak mempan diterkam serigala!" *** Semakin banyak informasi yang Ara gali, ia semakin yakin kalau yang namanya Rega ini bukan dari spesies yang sama. Bukan manusia yang mempunyai akhlak dan berpegangan pada norma. Jika ucapan para guru yang memiliki gelar sarjana saja tidak dipandang, apalah daya cewek ingusan sepertinya? Ia juga tidak yakin nama dan status Ira sebagai artis muda berbakat, bisa jadi tamengnya jika begundal sekolah itu benar-benar tega mencekiknya. Usahanya mendatangi kelas XII IPS 1 pun hanya mendapat pepesan kosong. Bermodal foto Rega yang ia terima dari Kevin, Ara meneropong satu per satu wajah cowok yang keluar dari XII IPS 1. Namun tidak satu pun yang memenuhi, atau setidaknya mendekati kriteria di foto. Ara malah habis digoda oleh warga IPS kelas XII hingga mau tidak mau, ia harus mundur. Menurut informasi yang diberikan Egi, cari Rega itu susah-susah gampang. Kalau mau cara susah, pantengin saja kelasnya sampai sore atau subuh sekalian dengan resiko tidak akan pernah ketemu, soalnya lebih banyak tidak masuk daripada masuknya. Nah, kalau mau cara yang lebih praktis, sebelum mulai pastikan dulu dosa sudah menipis, atau paling tidak sudah ada niat tobat. Soalnya meskipun presentase bertemu jauh lebih besar, kemungkinan kembali dengan selamat dan utuh anggota badan tidak terjamin. Saudara Rega hampir bisa selalu ditemui di markas yang letaknya di pinggir kota, jauh dari pemukiman, berupa bangunan kosong setengah jadi dan konon, penghuninya terdiri dari puluhan preman dari delapan penjuru! Ara memijat pelipisnya yang berdenyut. "Kenapa juga gue terima tugas nggak jelas ini, sih?" gerutunya kesal. Untuk menghindari ratusan masa yang tidak henti mengintilnya di jam istirahat ini, Ara menyepi di halaman belakang sekolah yang jarang dilalui orang. Cewek itu mengeluarkan foto Rega dari saku rok. Ditatapnya foto itu lekat, dipelototinya. Mau dilihat berapa kali pun, tampang di foto ini sama sekali tidak mencerminkan deskripsi liar dari teman-temannya. Ara terlalu sibuk dengan pikiran sendiri. Karena pandangan yang terus menempel ke foto, Ara tidak melihat rintangan yang terbentang di hadapannya hingga ia tersandung, menghantam kerasnya tanah dengan kedua tangan dan lutut sebagai penumpu. "Aduh!" Ara meringis. Pelan-pelan, ia menoleh. Keningnya berlipat rapat ketika melihat pelaku yang baru saja menyandungnya, ternyata kaki seseorang yang terjulur dari balik semak-semak. Cewek itu terpaku diam. Cukup lama hingga ia memutuskan bangkit berdiri dan mengintip di balik semak itu. Seorang cowok—entah dia beneran tidur atau ternyata pingsan—berbaring miring di ruang sempit yang tersisa di balik semak-semak. Kakinya yang panjang sampai harus menabrak serta menghancurkan beberapa ranting dan daun. Ara tidak dapat melihat wajahnya karena setengah badan hingga kepala cowok itu, diselimuti jaket abu-abu tebal. Penampilan yang semakin meyakinkan Ara kalau cowok ini bukan sekedar tidur! Jangan-jangan dia korban perampokan? Atau yang lebih mungkin, korban bullying karena Ara dapat melihat puntung rokok yang masih menyala di sebelah cowok itu. "Halo?" panggil Ara pelan. Tidak ada respon dari cowok itu. Terpaksa Ara mendekatinya, mengulurkan tangan perlahan dan hati-hati. Kemudian, semua terjadi dengan begitu cepat. Cowok itu menangkap tangan Ara. Menarik lalu memutar tubuhnya, hingga cewek itu terbaring menubruk kerasnya tanah dengan posisi cowok itu di atas Ara. Menahannya dengan tekanan lengan di leher. Kedua mata Ara kontan melebar. Di saat yang sama, Ara dapat melihat setiap lekuk wajah cowok itu dengan jelas. Alis tebal cowok itu, hidung mancung serta tatapan setajam elang. Ara berani bertaruh jika si mata duitan Kevin menemukan makhluk luar biasa cakep di hadapannya ini, maka akan segera ditarik ke agensi sebagai gudang uang. Tunggu dulu! Ara ternganga. Cowok ini... dia si siswa begundal yang bertubruk pandang dengannya di lapangan basket! Tekanan lengan cowok itu di lehernya yang semakin kuat telah mempersempit saluran pernapasan Ara, mencekiknya. Ara terbatuk-batuk sambil memukul lengan cowok itu berkali-kali. Gila, kalo kayak gini, lama-lama gue bisa mati! Cowok itu akhirnya menjauhkan lengan dari leher Ara. Ia bangkit duduk, memberi kesempatan untuk Ara beringsut mundur hingga menciptakan jarak di antara keduanya. "Mau ngapain lo!" ucap cowok itu to the point, terkesan dingin. Seperti ada pintu freezer besar yang terbuka lebar di sebelahnya. Ara menelan ludah. Ia berucap pelan, nyaris terdengar seperti bisikan, "sori... gue kira tadi lo pingsan." Cowok itu tidak merespon, sama sekali tidak bergerak dengan tatapan tajam yang setia menghunus Ara. Sekali lagi, Ara menelan ludah. "Sori, kalo gue ganggu tidur siang lo." Masih mendapat respon yang sama. Diam tanpa ekspresi dengan tatapan yang membuat Ara merasa dihujani ribuan panah. Perlahan-lahan, Ara bangkit berdiri. Ia berjalan hendak mengambil secarik foto yang jatuh dari genggamannya tadi. Namun, Ara kalah cepat ketika cowok aneh bin misterius itu menyambar foto itu dari atas tanah. Cewek itu sontak melongo. Ditatapnya heran cowok yang sedang meneliti setiap inci foto Rega. "Ada apa?" Kening Ara berlipat rapat saat cowok itu menoleh cepat, menghunus Ara dengan tatapan yang jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. "Jadi, elo anjing yang dikirim si Baskara!" Hah? Ara mengerjapkan mata berkali-kali. Baskara yang dimaksud itu... Baskara Randaya? Papanya Rega yang nunjuk Ira sebagai tentornya si Rega? Otak Ara tidak sempat berpikir terlalu jauh karena cowok itu keburu bergerak cepat, mendorongnya kasar hingga punggung Ara menabrak dinding yang dingin. Ara meringis menahan sakit karena cengkraman cowok itu di kedua pundaknya begitu kuat, seperti hendak meremukkan tulang belikatnya. "Dibayar berapa lo sama Baskara?" "Ma-maksud lo apa?" "Nggak usah pura-pura! Elo orang suruhan Baskara buat mata-matain gue, kan?" "A-apaan sih, lo? Lepas!" Ara mengayunkan kaki kanan, hendak menendang tulang kering cowok itu, tetapi ditepis dengan mudah oleh kaki si cowok misterius. Kemudian cowok itu merapatkan sepatu Ara, menahannya menggunakan kedua kaki dari sisi kanan dan di kiri. "Elo cari mati?" hardik cowok itu tajam. Untuk sesaat jantung Ara berhenti berdetak. Cowok di hadapannya begitu menyeramkan. Tekanan yang dirasakan telah menginjak-injak keberanian Ara. Cewek itu menggigit bibir bawahnya kuat, menutupi gemetar karena ketakutannya. "G-gue beneran nggak ngerti maksud lo...," ucapnya lirih. "Lo kayaknya salah orang. Gue nggak kenal lo... gue... cuman diminta buat bantu Rega belajar—" "Gue Rega!" potong cowok itu cepat. Kedua mata Ara kontan melebar diikuti mulut yang ternganga. Serius? Jadi, ini si begundal Rega? Terus, cowok di foto itu siapa? Foto balita nih cowok, atau foto sebelum dia reinkarnasi? Cowok itu mendekatkan wajahnya, mendesis pelan. "Lo tinggal pilih, cabut dari sekolah ini... atau mati!" Lagi-lagi Ara ternganga lama. Gila bener nih cowok! Kemudian, menelan ludah susah payah. "Gue nggak mau dibunuh... tapi... gue juga nggak bisa cabut." Rega menggertakan giginya. Cengkramannya di pundak Ara kian menguat. Cewek itu tidak lagi bisa menahan sakit seolah-olah pundaknya sedang dihancurkan secara perlahan hingga ia meronta kuat, meringis perih, dan menggerakkan tubuhnya tidak beraturan. Kedua tangan mungilnya yang bebas bergerak cepat, menancapkan kuku-kukunya di punggung tangan Rega, merobek kulit hingga darah mengucur perlahan dari punggung tangan cowok itu. Namun, syaraf nyeri cowok itu seolah mati. Ia tetap bergeming. Dengan mulut terkatup rapat, ekspresi dingin yang sama sekali tidak terlihat kesakitan, ia tidak melonggarkan cengkraman kuatnya sedikit pun. Sampai akhirnya, cewek itu memekik nyaring, "SAKIT!" Akhirnya Rega menarik tangannya dari pundak Ara. Detik itu juga Ara luruh ke tanah, menyentuh rikuh pundaknya yang serasa remuk. Tubuhnya gemetar, napasnya berderu. Cowok itu lalu berjongkok di hadapan Ara dengan satu lutut menyentuh tanah. Dicengkramnya pipi halus cewek itu. Diangkatnya kasar hingga kedua mata mereka beradu. Sekian detik hening, kemudian cowok itu mendesis pelan. Tajam! "Elo b**o main-main sama gue!" Dilepaskannya Ara kasar lalu berjalan pergi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD