Bab 8 - Mau gimana lagi ?

1550 Words
Tanpa mempedulikan omongan Lika aku langsung membuka underwearnya. "REXA, AKU TUH MALU!" Tegasnya Ku dekap lagi tubuhnya sembari mencium bibir mungilnya "Mmpphhh Reeeexxxaaaaa......." Ia pun memukul-mukul pelan bagian pundakku "Reeeexxxxaaaa......" "Udaaaaahhhhh jaannggaannnn" lanjutnya "Aaarrrgggghhhhhh....!!!" Pertahanannya pun akhirnya telah kutembus. Terlihat ia mengeram kesakitan memejamkan kedua matanya sembari mencengkram lenganku. "Y-your lie" desahnya pelan Kutancapkan lebih dalam lagi "Aaarrrrggggghhhhhhh.....!!!!" Ia kini hanya bisa menggigit bagian bawah bibirnya. "Jahaatt" desahnya pelan tepat berada ditelingaku Ku kecup lagi keningnya lalu kurebahkan kepalanya dipundakku "Aku sayang kamu Lika" Kali ink benar-benar berbeda dengan yang sebelumnya, aku memang sengaja mengeluarkan hasratku di dalam tubuhnya, aku tau aku tidak memakai pelindung. Aku juga tidak peduli jika nantinya seperti apa, hanya bermain sekali dengannya saja sudah membuatku kecanduan, memang sensai yang beda dari biasanya. "Rexa, aku capek" tangannya pun memeluk tubuhku dari samping "Emang gapapa kita kaya gini" "Kaya gini gimana ?" "Maksudku kedepannya Rexa" "Kedepannya gimana sayang" lanjutku "Kamu kan yang pertama kali buat aku, kamu pasti bakal nikahin aku kan" "Iya gampang" kuusap bagian rambutnya agar hingga ia tertidur nyenyak dipundakku. Sudah hampir 4 hari kami tidak berangkat kuliah, jangankan berpikiran seperti itu, pakaian saja sengaja tidak kami pakai. Bersentuhan satu sama lain membuat gairah kami meningkat, walau aku harus mengajarkan beberapa teknik agar Lika bisa pandai memainkanku, tetap saja aku merasa kecanduan bermain dengan Lika, atau mungkin ini memang saatnya aku hanya mencintai satu wanita. "Tok tok tok" terdengar ada yang mengetuk pintu depanku "Rexaaa tumben lu kunci dari dalem" "Woi kampret" lanjutnya lagi Dari suaranya aku sudah tau kalau itu adalah Raka, dia benar-benar mengganggu. "Rexa nya ga ada dirumah" sahutku "Oh yaudah deh," "Eh kampret itu berarti lu di dalem kampret" Suaranya pun terdengar lebih keras dari yang sebelumnya "Bukain dong woi, panas nih diluar" lanjutnya lagi "Siapa sayang ?" Lika pun seketika langsung memelukku "Ini si Raka sayang" Tidak seperti biasanya, ketika aku menjalin hubungan dengan seseorang aku pasti akan memanggilnya dengan sebutan "baby" tapi kata itu tidak berlaku untuk Lika, aku hanya ingin memanggilnya "sayang", entah aku pun tak tau menau soal itu Lalu Lika pun pergi kembali ke kamar "Sayang, ini baju kamu, ayo pakai dulu" teriaknya. Aku pun mengiyakan omongannya barusan dan kembali menuju kamar juga "Mmmmppphhhhhh" Lika tiba-tiba menciumku "Sayang ah, tuh kan justin bangun lagi" "Biarin biar kamu pusing yeeeeaayy" "Kamu jahat ih" gerutuku sebal karena ia sama sekali tak peka saat aku meng kode i dia. Ceekkrreekk "Lama amat sih lu buka pintu doang, kampret lu emang!" Raka pun sedikit menggerutu karena sedari tadi ia menunggu diluar "Iye iye maap" aku pun berusaha meng hiburnya "Ohh pantes si kampret dari kemaren-maren ga berangkat" Bisiknya padaku "Gue ganggu elu ga sih ?" Sebelum aku menjawab pertanyaan Raka, sepertinya Lika sudah mendengar obrolan kami "Enggak kok ga ganggu, ini aku juga mau pulang, maaf ya nunggu lama kamu tadi di depan" sembari keluar dari kamar "Aku pulang ya Rexa, makasih ya" "Mmpphhhss" kembali ku cium bibirnya yang menggoda itu. "Iya sayang" sahutku "Duluan ya Raka" Lika pun berpamitan denganku dan Raka "Iya Lika hati-hati dijalan ya, maaf ya Lika aku ganggu kamu" Raka pun membalasnya Lika pun hanya tersenyum kepada kami tanpa menjawab sepatah kata pun, aku tau dia pasti sangat malu karena kedatangan Raka, aku bisa membayangkan pipinya yang sudah kemerahan "Ngapa lu senyam-senyum" Raka pun menepak pundakku dan membuyarkan imajinasiku tadi "Jadi gini boss, ada sedikit masalah!" Raka pun terlihat sangat serius. "Jangan panggil gue boss lagi, gue ga bakal mau, titik!" "Tapi boss udah dapet be..." "Ssstttt!" aku oun memberi isyarat agar dia bisa diam dan tak melanjutkan kata-katanya barusan. Suasana pun terlihat hening sesaat. Raka langsung mengambil ponsel dikantongnya "Hallo, bisa dateng ga ? Tolong dibereskan sebentar" Ia pun menaruh kembali ponsel dikantongnya. "Raka, party yuk, udah lama nih ga main game" sahutku membuka obrolan dengannya. "Tumben amat lu ngajakin gue party, kek udeh jago aje pake ngajakin gue segala" Lagi-lagi ia tertawa mengejekku dengan kesombongannya. "Permisi tuan" "Iya langsung aja mbak beresin kamarnya si kampret ini" Raka pun menjawab sapaan dari yang entah aku tidak tau siapa, aku tidak pernah bertanya atau pun mengobrol dengannya soal asisten rumah tangga itu, yang aku tau hanya ia sering sekali dihubungi Raka untuk membersihkan kontrakanku. "Dire Victory" Sudah 3 permainan kami menangkan bersama, kali ini aku harus mengakui bahwa ia sudah mulai terlihat pandai memainkan game nya. Krriingg kriiingggg "Hallo kak, udah dateng belum pizzanya ?" "Hallo dek, pizza apaan ?" "Aku pesenin pizza buat kakak, aku belum bisa kesana soalnya" Maudy pun sedikit tertawa "Yaudah nanti juga dateng dek" lanjutku "PIZZAAAA" "Tuh kan panjang umur, baru diomongin udah dateng aja, makasih lho dek" aku pun tersipu malu "Iya kakak sayang, love you muaacchh, byee" "Ka, tuh ada pizza di depan, lu makan aja, ngantuk gue mau tidur, capek" Aku pun tertawa sembari menepak pundaknya "Iyalah, lu olahraga berapa hari, ampe ga ada kabar" Lanjutnya ketus sembari menuju pintu depan untuk mengambil pizza. Tuutt tuuuuutt ttuuuuuttttt "Hallo sayang, aku kangen kamu" "Kamu ih, baru berapa jam aja udah kangen aku" Lika pun sedikit tertawa mendengar pernyataanku tadi Kami pun saling melempar kangen lewat video call yang entah berapa lama tapi jamdi dinding kamarku sudah menunjukan angka jam 4 pagi, ia pun lagi-lagi pamit ingin pergi tidur, aku yang tak tega mengajaknya untuk tetap terja harus mengikhlaskan ia menutup panggilanku. Kulihat Raka tertidur lelap di sofa, kuambilkan selimut dan menutupi tubuhnya agar ia tak kedinginan. Aku pun membuka laptop dan mengerjakan tugas ku kembali, hampir seminggu aku tidak melanjutkan kewajibanku sebagai seorang ... Brrakkk!! "Gila lu, ngapain ngedobrak pintu gue kampret" "Ehh ga sengaja kelepasan" ia pun tertawa kencang sembari menyodorkan selimut yang tadi pagi kupakaikan untuknya. "Tumben Xa lu perhatian ama bawahan lu" lanjutnya lagi sambil tertawa "Ga usah mulai deh, masih pagi nih" "Masih pagi pala lu, ini udah siang!" tegasnya. Benar saja ketika ku melihat jam ditangannya, jarum jamnya sudah menunjukan pukul 12.32 "Yuk makan yuk, tuh gue udeh pesen makanan tadi" sahutnya "Tumben Ka lu perhatian ama atasan lu" "Tuh kan lu duluan yang mulai kampret!" kesalnya diiringi suara mengejek ke arahku. "Xa, emang lu ga mau tau kabar bokap lu ?" tanya Raka setelah kami selesai makan siang "Kek sinetron bokap gue, paling ntar dia bilang kalo gue udah dijodohin ama cewek cantik anak dari temennya, terus gue suruh bla bla bla doang, capek gue Ka" Ia pun mengangguk tanda bahwa ia mengerti apa yang kumaksud "Tapi bukannya enak ya kalo dijodohin gitu ?" tanyanya lagi "Iya sih, tapi gue ga srek aja, iya kalo gue bisa pas ama orangnya, kalo enggak gimana ?" "Tapi udah hampir setahun lho lu disini, maksud gue emang lu ga kangen ama bokap lu ?" "Enggak!" Sebenarnya aku sedikit kangen dengan ayahku, tapi ada sesuatu yang mengganjal yang membuatku terus membenci dia, entah sampai kapan aku terus mengingat kejadian pahit dulu. Krriiinggg krriinngggg krriinngggg "Tumben ga lu angkat Xa" "Ga ah, nomernya ga dikenal, paling salah sambung Ka" Krrriiingggg kriinggg kriiiinngggg "Angkat aja sih, berisik bet gue denger nada dering hape lu, norak kek jaman dulu" ia pun mulai menggerutu seperti biasa "Iya hallo, ini siapa" "Rexa!" suaranya serak dan terdengar tak asing lagi untukku Prraannkkk!!! "Lah ngapain lu banting hape lu ?" tanya Raka "Bokap" aku pun cengengesan memberi jawaban pada Raka. Ia hanya terdiam tak mau berkata-kata lagi padaku. "Iye iye ntar gue service hapenya ga beli baru lagi kek kemaren" aku pun mencoba memecah keheningan Ia pun hanya tertawa mendengarkan perkataanku. Lika Pov "Mbak Likaaa, bojomu neng ngarep" "Iya mbak" sahutku kepada mbak Siti yang menjaga tempat kost ku Tumben Rexa ga ngabarin dulu kalo mau kesini, pasti mau ngasih surprise buat aku, batinku merasa gembira "Lika, aku balikan sama kamu!" Aku terkejut akan kedatangan Aldi, kutengok ke kanan dan ke kiri mencari Rexa tapi tidak ada "Oh jadi kamu yang dateng" sahutku sedikit kecewa akan kedatangannya "Kalo kamu ga mau balikan sama aku, kamu balikin hutang kamu sama aku sekarang!" tegasnya Sebenarnya aku sedikit keberatan saat meminjam uang kepada Aldi, aku melakukan itu semata-mata bukan untuk diriku pribadi, tapi ... Rexa Pov Sore ini aku ingin menjemput Lika, aku ingin membuatkan dia surprise, enggak sih ga gitu, sebenarnya karena aku belum membeli ponsel yang baru, makanya aku ingin menjemput dia secara mendadak. "Lho, bukannya itu si kampret, ngapain dia ke kost Lika, samperin ga ya, kalo disamperin nanti aku kaya pahlawan kesiangan seperti di sinetron-sinetron sachetan itu. Tapi kalo ga disamperin nanti dia ngapa-ngapain Lika addduhhhh!' teriak batinku menahan emosi. "Ah bodo amatlah mau kaya sinetron kek, ftv kek, bodo amat, yang penting Lika gue ga disentuh ama dia" lanjutku lagi dalam hati. "Wowowo ada banci, ehh mantannya Lika maksudnya" ucapku sedikit tertawa ke arahnya. "Gue kirain tikungannya tajem, ternyata ga separah yang gue kira," lanjutku lagi sembari mengejeknya. "Gue ga ada urusan ama lo boss, urusan gue ama Lika! Punya utang banyak dia sama gue" iya pun bernada tegas seperti memperingatkanku untuk tidak ikut campur urusannya "Maap nih, maap maap aja nih, Lika itu pacar gue, segala yang berhubungan ama dia, harus lewatin gue dulu!" Lika pun mencoba berlindung dibelakangku "Oh gitu, pinter banget Lika nyari cowok gang lebih kaya dari gue!" "MATRE LO!" lanjut Aldi tertawa "Enak aja kamu, kurang aj ..." Belum sempat Lika meneruskan perkataannya, ku acungkan jari telunjuk kearahnya agar ia bisa lebih tenang dan diam. "Gue ga bawa duit cash, gini aja berapa nomer rekening lu boss ?" "Gitu dong, percuma lo Lika punya pacar kaya tapi ga bisa bayar utang lo sama gue" ia pun sedikit tersenyum cengengesan "Bank BACA 6890 8939 26 atas nama Aldi Ferianto, utangnya Lika 85jt" lagi-lagi ia tersenyum penuh kemenangan. "Ehh enggak itu dia bohong, aku cuma pinjam 35jt, dasar kurang aj ..." Aku pun mengacungkan jari telunjukku lagi pada Lika. Ia pun seperti sudah mengerti isyaratku. "35jt emang utang lo, yang 50jt itu karena lu udah mutusin dan mempermalukan gue di depan umum" ia terus memasang wajah menyebalkannya itu, sungguh muak aku dibuatnya. Aku pun meyakinkannya bahwa ponselku terjatuh dan rusak, jadi aku harus ke bank untuk menarik uangku yang ada disana, sebagai jamninannya kutambahkan 15jt agar ia mau menungguku dan Lika pergi yang kurang lebih sekitar 1 jam. Ia pun setuju dan aku langsung bergegas pergi dengan Lika meningalkanya sendirian disana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD