“Baik. Setelah ini jelaskan padaku mengapa Anda kemari,” ucap Alandra kemudian.
Alandra bangkit, menuju dapur. Untuk mengambil apa yang diinginkan gadis itu.
Tak berapa lama, ia kembali membawa kudapan dan minuman hangat.
“Maaf, hanya makanan pelayan. Kami, tidak memiliki makanan terbaik selain ini,” ucap Alandra.
Irish menerimanya dengan senang hati.
“Terima kasih. Jangan kau pikir aku tidak pernah memakan makanan yang buruk. Aku pernah makan rumput bahkan tidak makan selama tiga hari dan aku baik-baik saja hingga sekarang.”
Alandra menatap tak percaya, tidak mungkin seorang putri mengalami hal seperti itu. Ia saja yang sudah terbiasa tidak pernah sampai tidak makan tiga hari lamanya.
Irish menoleh ke arahnya. “Kau tak percaya ucapanku?”
“Jika Aku tidak percaya apakah kau akan marah?” tanya Alandra polos, mengundang gadis itu untuk tertawa.
“Aku tidak akan marah tapi percayalah ucapanku itu benar.”
Alandra mengangguk saja, tidak bertanya lebih, mengapa gadis itu sampai tidak makan berhari-hari
“Kau, belum tidur?” tanya Ishan.
Irish menggeleng, ia tersenyum tipis.
“Apa kamu punya waktu, untuk bicara denganku?” tanya Irish.
Keduanya duduk bersisian. Kilatan cahaya api bergerak-gerak di retina mata mereka.
“Aku selalu bermimpi, saat usiaku tiga tahun. Kepulan awan hitam berarak diiringi kilatan cahaya menyambar tempat tinggalku. Kemudian, angin kencang menerbangkan segala yang ada. Awalnya kupikir, angin itu muncul akan memporak-porandakan semua yang ada. Rumah penduduk, barang-barang atau apa saja yang ada.”
Irish menjeda ucapannya.
“Ternyata, seolah pertanda akan kehadiran sejumlah orang yang menyerang kampung kami. Sudah kubilang, di mimpi itu, aku masih tiga tahun namun begitu jelas di otakku merekam semuanya, seolah yang terjadi belasan tahun lalu, adalah nyata.”
Alis Ishan bertaut, masih meresapi tiap kalimat gadis itu.
“Yang terjadi belasan tahun lalu? Maksudnya?”
“Ya, penyerangan itu nyata adanya namun selalu datang lagi lewat mimpi. Namun, yang kuingat hanya mengetahui kenyataan, bahwa ibuku telah mereka bunuh beserta warga lainnya. Aku yang saat itu, tengah bingung mencari perlindungan karena terpisah dari kedua orang tuaku, tiba-tiba ada yang menolong. Kau tahu siapa?” tanya Irish.
Ishan menggeleng.
“Seorang wanita yang sekarang menjadi ibu kandungku.”
Irish tampak menarik napas panjang.
“Ia sangat baik pada awalnya, dan kuanggap sebagai ibu pengganti ibuku. Namun kian hari kiamat menunjukkan siapa dirinya sebenarnya Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena merasa punya hutang budi. Maka ketika ia mengejekku aku tadi pernah marah.”
Kini Alandra paham, mengapa Irish masih saja baik pada sikap ibu sambungnya.
“Sebentar. Siapa yang menyerang ibumu, dan para warga?”
Irish menggeleng lemah. “Aku menganggap mereka penjahat, dan tukang berontak. Yang kutahu, tempat itu sekarang telah berubah, sepertinya orang jahat itu lah yang mengubahnya untuk kepentingan mereka.”
Alandra tertegun. “Jika benar begitu, artinya penyerangan itu, adalah sebuah kesengajaan. Mereka memusnahkan kalian, agar tempat itu bisa mereka kuasai. Kamu sepemikiran denganku?” tanya Alandra.
Irish yang tengah menatapnya tiba-tiba memalingkan wajah. Dadanya terasa sesak, mengingat semua memori menyakitkan itu.
“Hal utama aku bicara begini padamu, karena ada yang mengganjal.”
Alandra mengangguk. “Katakanlah, Tuan Putri. Jangan sungkan, mungkin aku bisa membantu, setidaknya kamu jadi lebih baik.”
Irish mengangguk pelan.
“Sebenarnya, aku sudah berusaha melupakan tragedi itu. Namun .... akhir-akhir ini, mimpi tentang kejadian tadi seperti nyata, seolah aku yang dulu masih kecil telah menyaksikan kejadian itu seluruhnya. Dan aku tahu, apa yang kulihat di mimpi itu?”
“Apa?” tanya Alandra penasaran.
“Di balik orang,-orang yang menyerang kami. Di antara mereka ternyata ada ayahku.”
Mata Alandra terbuka lebar.
Lalu, Irish mengibaskan tangannya di udara.
“Ah, tapi rasanya tidak mungkin. Ayah, begitu baik padaku. Bahkan, saat ibu tiriku mulai bersikap buruk atau kerap memarahiku, ayah sigap menjadi tamengku. Kurasa, itu hanya mimpi belaka.”
Entah kenapa, ada yang mengganjal di hati Alandra terkait ini.
“Lalu, kenapa kamu sekalut ini hingga ingin membicarakannya denganku, malam begini?”
Irish menatapnya lekat-lekat. “Entah kenapa ... aku merasa, kamu bisa membantuku, Alandra.”
“Kau tahu, aku tak punya kekuatan lebih.”
“Aku merasa mimpi itu begitu nyata. Dan ini kerap menggangguku setiap hari. Aku yakin, orang terdekatku yang melakukannya.”
“Jangan sembarang berpendapat. Kau harus teliti mencari tahu tentang ini,” ucap Alandra kemudian.
Irish mengangguk pelan. Tatapannya tertuju pada api di depannya, sambil memeluk lututnya erat-erat.
“Aku ingat, saat pertama bertemu. Ketika ibu tirimu menyudutkanmu, raja Irlan lah yang membela. Artinya, ia menyayangimu.”
Hening.
“Tapi, hanya kau yang tahu seluk beluknya. Aku hanya menilai secara sekilas saja. Namun, aku terfokus pada pernyataanmu tadi. Kau ingin aku membantumu soal apa?” imbuh Alandra.
Kembali Irish meliriknya. “Menyelidiki ayah dan ibu tiriku. Aku ... curiga, salah satu keduanya pelaku di balik kematian ibu, beserta rakyat tak bersalah itu. Kamu, dan kedua temanmu bisa kan?”
Alandra beranjak dari tempat duduknya.
Ia tidak boleh lupa akan tujuan utamanya. Yaitu mencari guru, jika ia kembali menerima bantuan itu, semua akan kembali terhambat.
Tapi, jika tidak dibantu, ia merasa kasihan pada sang putri.
“Baiklah, Nona. Persoalan ini akan kubicarakan dengan kedua sahabatku terlebih dahulu.”
“Sebelumnya terima kasih banyak. Apakah, ini akan menghambat urusanmu?” tanya Irish.
“Maka dari itu, aku harus bicara dulu dengan mereka. Karena kami hanya petualang Nona. Banyak tempat yang akan kami tuju, untuk mencapai tujuan utama. Jujur saja, tempat ini yang paling lama kami singgahi. Biasanya hanya dua atau tiga hari lalu kemudian melanjutkan kembali. Jika, saya harus kembali terlibat pada urusan Anda, maka akan lebih lama lagi kami di sini,” ucap Ishan panjang lebar.
Mendengar itu, mata Irish meredup. Merasa salah telah meminta bantuan pada orang yang memiliki banyak urusan seperti Alandra.
Ia tersenyum tipis dan ikut bangkit.
“Maaf ya, telah banyak merepotkanmu, tapi aku tidak memaksa kok. Sudah malam, istirahatlah. Saya pun ingin tidur, selamat malam.”
Tanpa menunggu jawaban Alandra, gadis itu membalikkan tubuh dan berlalu meninggalkan lelaki tegap itu sendirian.
Ada hati yang terasa hampa menjalar. Namun, keduanya tidak mampu berbuat banyak.
Alandra pun berjalan, menuju dapur. Namun, seseorang muncul di balik tembok membuatnya cukup terkejut.
“Zahn? Mengagetkanku saja!” sungut Alandra.
Zahn hanya menyeringai lalu mengekor sahabatnya itu menuju kamar keduanya.
Pintu kamar ditutup, Alandra mulai berbaring. Namun Zahn mencoleknya, membuat mata yang terpejam kembali terbuka.
“Ada apa? Tidurlah!” Alandra membalikkan tubuh, namun kembali Zahn mencoleknya. Kini, Alandra duduk dengan wajah kesal.
“Kau mau apa?”
“Aku mendengar obrolanmu dengan tuan putri.”
Alandra mendesah kasar. “Apa kau tidak punya pekerjaan lain?”
“Aku hanya penasaran apa yang dia ucapkan padamu. Apakah ada hubungannya dengan obrolan dia siang tadi.”
“Kau dengarkan tidak ada hubungannya sekarang tidurlah,” ucap Alandra. Iya khawatir jika Zahn mendengarkan obrolan itu tentang sesuatu hal yang tidak ingin ia tahu.
“Tapi, kudengar putri Irish membutuhkan bantuan kita. kenapa kamu tolak?”
Alandra terkejut saat mendengar reaksi Zahn. Sangat berbeda dari dugaannya.
“Memangnya kamu mendengar apa saja?” Alandra balik bertanya.
“Semuanya,” jawab Zahn santai, ia mulai membalikkan tubuh dan berbaring dengan acuh tak acuh. Melihatnya, kini giliran Alandra yang penasaran.
“Semuanya?”
Zahn bergeming, Alandra pun mengguncang-guncang tubuhnya.
“Jangan pura-pura tidur. Jawab dulu pertanyaanku tadi!” ujar Alandra kesal.
Tidak tega membuat sang pangeran tidur penasaran, akhirnya Zahn kembali bangun.
“Iya. Sekarang jawab pertanyaanku kenapa kau tolak?”
Alandra mendesah panjang sambil mengusap wajahnya.
“Aku tidak mengatakan itu. Tadi, kubilang akan membicarakan hal itu pada kau dan paman terlebih dahulu. Namun ....”
Alandra menjeda ucapannya.
“Setelah kupikir-pikir, kita tidak selamanya di sini karena ada urusan penting yang harus diutamakan. sudah cukup kita membantu orang-orang di sini.”
Zahn terkejut. “Apa? kamu serius Pangeran? lalu bagaimana dengan tuan putri, dia seperti sangat kebingungan.”
Alandra merapatkan bibirnya, bingung harus menjawab apa.
“Sudahlah, kita minta pendapat paman saja besok jangan terburu-buru mengambil keputusan. Sebaiknya kita tidur mengumpulkan tenaga untuk pergi besok,” ucap Zahn pada akhirnya.
Kini, tak ada obrolan lagi. Namun, Alandra masih memikirkan perasaan Irish saat ini.