Dengan tenang, ketiga lelaki menaiki kuda kembar, sama-sama berwarna coklat.
Semua normal, mereka melanjutkan perjalanan.
Karena medan yang dilalui bersuhu sangat dingin, ketiganya memakai mantel dan penutup kepala berbahan tebal dan hangat.
“Dari mana kau mendapatkan kuda gagah ini?” Tanya Oenix menunjuk kuda cokelat yang ukurannya lebih tinggi dari kuda miliknya dan Zahn.
“Entah bagaimana caranya, tuan Argus mengirimnya untukku. Kami, bahkan sempat berbincang jarak jauh dan itu semua karena Dayan, rubah putih yang dari awal selalu menemaniku.”
“Hm, ini yang ingin kutanyakan sejak tadi. Kau tidak lagi bersamanya?”
Alandra menggeleng lemah, matanya meredup mengingat begitu banyak kesalahannya pada Dayan.
“Dia pergi entah ke mana. Sebenarnya, Dayan cukup sabar menghadapiku selama ini, namun kejadian terakhir membuatnya tambah terluka dan memutuskan untuk berpisah denganku,” jawab Alandra.
“Anda ingin mencarinya, Pangeran?”
Alandra mengangguk kuat. “Tentu. Aku banyak salah dan hutang budi padanya, jadi aku harus mempertanggung jawabkan kesalahanku.”
Oenix tersenyum bangga, bahwa Alandra sudah mulai dewasa dan bertanggung jawab.
~~~
Angin kian dingin menusuk, tubuh ketiga lelaki kian menggigil. Medan yang dilalui pun sempit dan berkelok.
Kuda milik Alandra dengan mudah mendaki gunung es itu, sesuai dengan yang pernah diucapkan Argus. Namun tidak dengan kuda milik kedua temannya.
Kaki-kaki kuda itu, tak jarang terpeleset membuat langkah menjadi terganggu. Sadar, jika terus dipaksakan khawatir akan mencelakai, maka Alandra menoleh ke arah Oenix dan Zahn.
“Teman-teman, kian tinggi gunung Zas ini akan sulit didaki. Aku menyarankan kalian untuk tidak meneruskan pendakian. Putar balik, dan tunggulah di bawah.”
“Tapi, bagaimana bisa kami membiarkan Anda mendaki sendirian?” tanya Zahn.
“Jangan khawatir, kuda ini istimewa. Mampu mendaki dengan baik, itu yang diucapkan tuan Argus.”
Keduanya saling menatap, kemudian mengangguk pasrah.
“Baiklah Pangeran. Namun, jika dalam waktu cukup lama Anda tidak kembali, maka kami akan menyusul ke sana,” timpal Oenix.
“Baik. Kalian, berhati-hatilah.”
Alandra kembali naik, sementara Oenix dan Zahn turun dan memutuskan untuk membuat perkemahan di bawah sana untuk menunggu pangeran, hingga selesai.
~~~
Entah sudah berapa lama, Alandra mendaki. Namun yang ia rasakan telah sehari semalam melakukannya, hingga ia menatap tak percaya. Bahwa di puncak sana, terdapat taman bunga Chamomile biru, tumbuh subur.
Ia pun turun dari kuda miliknya, dan mengikat binatang itu di sebuah batang pohon.
“Aku tak percaya, aku telah sampai!” ujar Alandra merasa takjub.
Matanya nyaris tanpa mengedip, terus menyapu taman yang indah itu, juga menghidu aromanya yang begitu wangi. Mengabaikan suhu dingin dan rasa lelah.
Lututnya bergetar, tatkala tangannya mulai menyentuh bunga biru itu. Terasa dingin dan lembut bersamaan.
Walau wanginya menyebar, namun pemuda itu mendekatkan hidung mancungnya pada kelopak Chamomile, dadanya bergetar mencium aromanya yang begitu menenangkan.
‘Ayah, Ibu. Aku telah sampai, ke tempat yang kalian inginkan. Sejak awal, aku sangat berharap berhasil sampai di gunung ini dan meminumnya hingga aku sembuh, lalu kembali ke istana dengan suka cita. Namun kini ... kalian berdua telah tiada, membuat kebahagiaan ini, tidak sempurna,' batin Alandra bersenandika.
Biar begitu, ia bertekad ingin sembuh agar dirinya bisa melawan Luxone. Jangan sampai, kerajaan ayahnya lelaki itu rebut.
Tanpa menunggu lama, Alandra memetiknya satu persatu, dan dimasukkan ke kantong yang ia bawa.
Saat asyik memetik bunga biru itu, matanya mendadak silau. Bukan oleh matahari yang kian naik, melainkan sebuah cahaya, yang segaris lurus tepat ia berdiri.
“Cahaya apa itu?” gumam Alandra.
Ingin ia abaikan. Namun, kian penasaran membuatnya menghentikan kegiatan memetiknya.
Ia membawa kakinya melangkah ke arah cahaya, dan matanya terbelalak saat menatap seorang gadis, tengah melakukan hal yang sama dengannya.
Gadis itu berbalut pakaian putih dengan hiasan emas dan berlian. Parasnya sangat cantik paripurna, membuat Alandra nyaris tak berkedip.
“Maaf, siapa kamu?” tanya Alandra.
Alisnya berkerut, karena merasa pernah bertemu dengannya.
Gadis itu menoleh, lalu menyunggingkan senyum manisnya, membuat jantung Alandra nyaris melompat.
“Aku orang yang sedang mencari obat untuk kesembuhanku.”
“Aku juga sama, sedang memetik bunga ini untuk penyakit kulitku.”
Gadis itu memindai tubuh Alandra. “Kau tahu cara meminumnya?”
Alandra menggeleng malu.
Tampak gadis itu terkekeh, dan tampak sangat cantik di mata Alandra. Sepanjang hidupnya, ia belum pernah bertemu seorang perempuan seramah dan secantik gadis itu.
Ia mengekor gadis itu ke bebatuan, lalu jemari lentik si gadis bergerak lembut, dan tiba-tiba, batu itu mengeluarkan api yang menyala.
Sontak Alandra mundur karena terkejut, ia tak menyangka jika gadis di hadapannya memiliki ilmu magis.
“Tuan, jangan takut. Aku hanya menyalakan api, untuk membuat teh dari bunga ini,” ucap gadis itu.
Alandra mengangguk ragu, dan memperhatikan cara gadis itu membuat teh dari bunga chamomile biru.
Keduanya duduk di atas batu, berdampingan. Seketika, aroma bunga menguar di tubuh gadis itu, mungkin ... seperti aroma bunga Sedap Malam.
“Kalau boleh tahu, Anda siapa? Tadi, belum terjawab.”
Gadis berkulit putih, dan bermata kuning itu tampak tersenyum tipis seraya duduk di dekatnya.
“Aku Airish.”
“Nama yang cantik, secantik orangnya,” ucap Alandra keceplosan.
Tawa gadis itu berderai.
“Terima kasih. Kamu siapa?”
“Panggil aku Alandra.”
Airish mengangguk. “Oya, Anda, cukup beruntung datang ke sini, saat bunga-bunga ini tengah mekar.”
Alandra memiringkan kepala ke arahnya.
“Memangnya, tidak setiap hari mekar?”
Airish menggeleng. “Sangat jarang, dan jika pun sedang mekar, hanya orang tertentu yang bisa melihat taman bunga ini. Menakjubkan bukan?”
“Kau juga beruntung Nona dan sangat berani, mendaki gunung ini sendirian,” cetus Alandra polos.
Tampak Airish menahan tawa mendengarnya.
“Kau ... mengingatkanku pada Dayan,” imbuh Alandra tiba-tiba.
“Siapa dia? Apakah kami mirip?” tanya Airish.
Alandra mengangguk pelan, ada gelenyar perih di hatinya datang tanpa permisi. Entah, perasaan apa itu.
Semacam rasa bersalah, atau rindu secara bersamaan.
“Sahabat yang kusia-siakan. Matanya kuning, seperti matamu. Bahkan suara, dan keberaniannya sangat-sangat mirip, ah aku semakin sedih karena kehilangannya.”
Airish tertegun.
“Apa yang terjadi padanya?” tanya gadis itu.
Teh buatan Airish mulai mendidih, air nya berubah menjadi berwarna biru pekat. Gadis itu menuangkannya pada sebuah cangkir miliknya.
“Aku menyakitinya, dan dia pergi entah ke mana. Tapi, setelah sembuh, aku bertekad untuk mencari Dayan, ke mana saja, dan harus kutemukan,” ujar Alandra penuh semangat.
Mendengarnya, Airish tersenyum. “Jika begitu, Anda harus segera meminum obatnya. Agar bisa mencarinya.”
Tak berselang lama, gadis itu menyodorkan secangkir teh itu padanya. Alandra meraih sambil membungkukkan badannya.
“Terima kasih, aku berhutang budi padamu.”
“Sama-sama. Hanya secangkir teh ini, kau akan sembuh.”
Mata Alandra menatap tak percaya, karena ia pikir pasti akan memakan waktu yang lama.
“Se-secepat itu?”
“Tentu, ini bukan obat biasa. Jadi, wajar jika sangat ampuh.”
Alandra mengangguk paham.
Setelah hangat, ia meminumnya sedikit demi sedikit hingga habis.
“Kemudian berdiri kau harus mandi di danau es itu,” tunjuk Airish.
Alandra menatap di ujung sana, sebuah danau kebiruan. Ia sempat menelan salivanya, karena membayangkan betapa dinginnya air tersebut. Dari kejauhan saja tampak asap dari uap air dingin itu menguar.
“Memang dingin. Tapi, air itu mampu mengelupaskan kulitmu yang korengan ini. Pergilah, aku tunggu di sini,” ucap Airish seolah memahami rasa takut lelaki itu.
Setelah memejamkan mata kuat-kuat, Alandra pun menarik napas panjang seolah mengumpulkan kekuatan. Lalu ia membawa kakinya ke danau itu.
Perlahan, dengan tubuh bergetar, ia melepaskan pakaiannya satu persatu dan menenggelamkan dirinya di air yang begitu jernih.
Tak berapa lama, ia keluar dari permukaan sambil mengusap wajahnya. Merasa kulit wajahnya terasa halus, ia membuka matanya dari sibuk memperhatikan secara seksama sekujur tubuhnya dan matanya terbelalak, saat melihat semua sisi yang tubuhnya kembali seperti dahulu, tanpa penyakit kulit sedikit pun.
“Wah aku sembuh kulitku sudah sembuh!” pekiknya girang.
Ia naik ke dataran dan segera memakai pakaian lengkapnya kemudian Ia berlari mendekati Airish.
“Nona Airish, aku sudah sembuh, fisikku kembali seperti semula. Terima kasih banyak.”
Yang diajak bicara terdiam terpaku menatap wajah dan fisik Alandra, degup jantungnya tiba-tiba cepat.
Alandra pun mengibaskan tangan ke dekat wajah gadis itu.
“Nona, kok malah melamun. Anda dengar ucapanku kan?”
Gadis itu mengerjap. “Oh iya, ma-maaf. Syukurlah kalau kau sudah sembuh, aku turut bahagia.”
Alandra mengangguk-anggukkan kepala dengan raut bahagia. Ia tidak tahu saja, jika Airish terpesona dengan ketampanan lelaki itu.
“Apa rencanamu setelah ini?” tanya Airish
“Setelah ini, aku akan turun gunung, menemui kedua sahabat lelaki ku, paman Oenix dan Zahn. Mungkin, aku akan beristirahat semalam, dan mencari Dayan.”
Gadis itu merunduk. Hanya sekejap saja, ia bersama Alandra, karena lelaki itu akan kembali melakukan perjalanan. Entah kenapa ia merasa sedih.
“Anda mau ikut turun bersamaku?”
Airish menggeleng lemah.
“Tidak. Aku masih ingin memetik bunga itu untuk buah tangan. Kau duluan saja.”
Alandra mengulurkan tangan.
“Mau berjabat tangan denganku?” tanyanya.
Airish tersenyum dan mengulurkan tangannya.
“Aku sekarang percaya diri berjabat tangan, karena sudah tidak memiliki penyakit yang menjijikan itu lagi,” cetus Alandra lega.
“Selamat ya, hanya yang mendapatkan bunga Chamomile lah yang sabar dan lulus ujian. Kau salah satunya.”
Alandra menarik napas panjang. “Senang sekali, bisa kenal denganmu Nona baik hati. Aku sangat berharap kita bisa bertemu lagi.”
Airish mengangguk, dalam hati ia pun berharap demikian.
Setelah itu, Alandra pamit dan mulai melangkah, namun Airish menggamit tangannya.
Alandra seketika menoleh.
“Ya Nona?”
Tampak gadis itu menggigit bibir bawahnya sambil merogoh sesuatu dari saku bajunya “Kalau mau, aku memberikanmu peta, ini adalah alamat rumahku. Datanglah sesuka hatimu, pintu selalu terbuka.”
Alandra tersenyum dan membuka peta itu.
“Rumahmu, cukup jauh dari sini. Apakah, kau menunggangi kuda?” tanya pemuda itu.
“Aku punya kendaraan lain,” jawab Airish pendek.
Tak ingin bertanya yang membuat menganggu, Alandra pun menerima peta itu dan benar-benar pergi, diiringi tatapan dalam dari Airish, sampai punggung lelaki itu hilang dari pandangannya.