Di dalam boks yang Noni kirim kemarin, terdapat dua sepatu lengkap dengan kardusnya. Sashi lupa kapan pernah membeli sepatu tersebut. Namun ia bersyukur Noni mengirimkannya karena bisa dipakai untuk bekerja. Sudah menjadi kebiasaannya setiap bepergian ke luar kota atau luar negeri, Sashi selalu lapar mata membeli banyak barang, termasuk sepatu. PAdahal jika sudah sampai rumah, sepatu-sepatu itu hanya tersimpan di kolong tempat tidur
Di situ juga ada satu boks berisi makanan kering. Ada cuanki yang tinggal diseduh, brownies kering, dan baso aci. Betapa Sashi bahagia karena Noni sangat tahu ia merindukan makanan-makanan tersebut. Ia bisa membaginya pada Bu Putu atau makan bersama sebelum Sashi pergi kerja nanti.
Tok tok tok
"Masuk," ujar Sashi ketika mendengar pintunya diketuk.
Ternyata Jeff ada di situ. Sashi sudah senang karena Jeff sudah lama tidak mampir ke tempatnya. "Hai, Jeff!"
"Hey... anu, saya mau kasih tau kalo nanti siang ada anak buah saya yang naterin kulkas mini ke sini. Saya ambil dari pondok jadi bisa kamu pake. So, kamu ga perlu bolak balik ke dapur buat ambil minum atau dessert segala macem," jelas Jeff yang masih berdiri di ambang pintu.
"Wah iyakah? Duh, tapi aku jadi ngerepotin kamu."
"No prob. Aku juga rencana mau bikinin kamu dapur kecil di samping sini, Paling lusa mulai dikerjain, supaya semua kebutuhan kamu udah komplit di sini aja."
"Ooohhh... tapiii... aku beneran jadi tambah ga enak," ujar Sashi perlahan.
"Its oke, ga perlu khawatir. Itu udah jadi kerjaan saya, sehari juga beres kok."
"Ah, oke kalo gitu. Thanks ya, Jeff," jawab Sashi dengan senyum singkatnya.
"Anytime. Sorry kalo ganggu kamu." Jeff menunjuk sepatu-sepatu Sashi yang teronggok di lantai.
"Oh, gapapa... lagi mau dirapihin aja. Sekali lagi makasih."
Jeff pun mengangguk dan kembali pergi ke rumahnya. Sashi menutup pintu dengan lemah. Tadinya ia berpikir Jeff memang sedang berbaik hati membelinya kulkas, karena memang rencana Sashi sedari awal yang ingin membeli benda tersebut menggunakan gaji pertamanya. Namun setelah Jeff mengutarakan hendak membuatkannya dapur, perasaan Sashi langsung tidak enak. Apa selama ini Jeff keberatan jika Sashi menggunakan dapurnya atau menyimpan makanan dan minumannya di kulkas?
Sashi kembali membereskan barang-barangnya sambil memikirkan apa kesalahn yang ia perbuat hingga Jeff berkata seperti itu. Apa masakan yang ia masak kurang enak, apakah dapur yang telah ia pakai kurang bersih dan rapi setelah diapakai, atau hanya Jeff tidak suka saja jika Sashi menggunakan barang-barangnya?
Sashi berusaha untuk memahami. Bagaimanapun ia adalah orang asing di mata Jeff. Mereka baru kenal kurang dari sebulan. Wajar saja jika Jeff bersikap seperti itu. Pria itu memang sudah baik karena telah menolong Sashi, namun setiap orang mempunyai batas waktu. Sashi seharusnya bersyukur karena telah diberikan tempat tinggal nyaman tanpa membayar sepeser pun.
***
Kecurigaan Jeff semakin tinggi. Sashi berbohong karena mengaku bekerja sebagai barista di sebuah klub. Padahal ia sama saja dengan Seola yang menjual diri untuk mendapatkan uang. Bagaimana mungkin seorang barista bisa langsung membeli sepatu-sepatu mahal di hari pertamanya bekerja? Kali ini Jeff harus lebih hati-hati. Sashi adalah orang asing, sebaiknya ia menyadari itu sedari awal. Untuk sementara, ia sudah benar bertindak karena menawarkan untuk mebawakannya kulkas baru dan membuat dapur mini. Setidaknya dengan begitu, Sashi tidak akan sering-sering datang ke dapurnya lagi.
Lagi pula bulan depan Alina akan datang. Tidak enak jika ia tahu ada wanita yang keluar masuk rumah dengan bebas. Meski Jeff tahu, Sashi merasa ada yang tidak beres dengan perkataannya. Tapi biar saja, Jeff memang harus ttegas dalam mengambil sikap.
"Pagi, pak Jeff," sapa Bu Putu yang baru saja datang.
"Eh, Bu. Bawa apa tuh?' Jeff menunjuk kantong plastik yang dijinjing oleh Bu Putu.
"Ini kecombrang sama jahe merah pesanannya Sashi. Katanya mau dibikin buat masak balado supaya wangi dan ada asemnya. Terus jahe merah buat minuman herbal, soalnya kan sekarang lagi musim hujan. Dia katanya suka denger Pak Jeff bersin-bersin tiap malem pulang kerja, jadi mau bikinin minuman herbal dari jahe merah."
"Ohh oke," jawab Jeff.
"Pak Jeff sekarang mau makan apa buat sarapan?"
"Bebas, Bu, apa aja. Tapi kalo bisa yang praktis, deh. Soalnya saya juga bentar lagi haru spergi kerja."
"Ya udah kalau gitu ibu buatin telor orak arik sama sosis aja kayak biasa, ya."
"Oke boleh."
Jeff segera pergi ke kamar untuk menyiapkan pakaian, lalu pergi mandi. Hari ini Franky akan datang untuk melihat perkembangan cottage milik Jeff. Temannya itu sudah setahun terakhir stay di Jakarta dan kini sedang berlibur di Bali. Franky sangat menyukai party dan bersenang-senang. Hidupnya tidak jauh dari minuman keras dan wanita. Jeff yakin temannya itu akan mengajaknya minum. Atau malah ia mungkin akan menghubungi Robert untuk mencarikannya teman wanita. Jeff tidak akan heran jika ternyata Sashi yang akan dikenalkan oleh Robert pada Franky.
Ia hanya tidak bisa membayangkan jika Sashi melayani Franky.
Setelah selesai mandi dan berganti baju, Jeff kembali ke dapur. Ia mencium wangi jahe yang semerbak. Rupanya Sashi sedang berada di dekat kompor sedang menuang air berwarna merah itu ke dalam gelas besar.
"Tuh dia, Pak Jeff! Nih Sashi udah bikinin ramuan herbal, katanya bisa angetin badan sama menangkal masuk angin. Ayok dicoba dulu."
Entah bagaimana caranya lepas dari Sashi. Jeff tidak enak jika harus terus menolak apa yang Sashi berikan.
Melihat Jeff yang hanya terdiam, sebelum menjawab, Sashi segera melontarkan omongan. "Aku lagi ngeliatin resepnya aja ke Bu Putu. Next biar beliau aja yang bikinin buat kamu, ya," katanya sambil menyimpan gelas tersebut di hadapan Jeff. "Itu isinya jahe mrah, s**u sama madu. Mumpung sekarang lagi gerimis dan cuacanya agak dingin."
Jeff menggenggam gelas tersebut dengan kedua tangannya, merasakan kehangatan yang menjalar ke sekujur tubuh. Aroma dari minuman itu pun sangat menggoda. Ia menghirupnya sedikit dan benar saja, rasanya sangat lezat dan hangat di tenggorokan.
"Enak. Thanks, ya," ujar Jeff jujur.
"Sama-sama. By the way, aku juga mau kasih tahu soal yang tadi. Kayaknya kamu ga perlu deh bikinin aku dapur kecil di belakang. Kasian kamunya nanti repot dan menurut aku bisa ngerusak pemandangan juga. Aku kan sekarang udah kerja, jarang di rumah. Jadi aku juga ga akan ke dapur. Aku bisa pesen makan dari luar dan sediain galon untuk minum. Lagian, aku juga kan ga akan lama di sini"