Awkward

1000 Words
Sinar matahari membangunkan Sashi dari tidurnya. Hal pertama yang ia ingat adalah Jeff. Bagaimana pria itu semalam menciumnya dengan penuh nafsu. Sashi tiba-tiba takut jika pria itu hanya terbawa suasana karena ia bisa mencium bau alkohol dari mulut lelaki tersebut. Lagi pula Jeff sudah memiliki pacar, bagaimana mungkin Sashi berharap pria itu melakukannya dengan serius. Bagaimanapun juga, apa yang dilakukannya malam tadi mampu membuatnya mengalihkan banyak pikiran. Ia seperti sedang membalaskan dendamnya terhadap jio. Sashi pun bertekad tidak akan menuntut Jeff dan sebaiknya berpura-pura jika kejadian malam tadi tidak ada. Matahari sudah lumayan naik. Sashi melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul sebelas siang. Jeff pasti sudah pergi bekerja. Sashi kini kelaparan dan ingin meminta Bu Putu membuatkan sarapan. Sashi bisa saja memesan makanan secara online, tapi entah mengapa ia tiba-tiba merindukan sosok ibu yang mau membuatkannya makan. Setelah minum air putih dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, Sashi pun ke dapur. Ternyata Bu Putu sedang duduk di lantai untuk menaruh hasil belanjaannya ke dalam kulkas dan membuang semua makanan basi dalam lemari es tersebut. "Siang, Buuu...." sapa Sashi. "Oalaaah sudah bangun rupanya! Tidur jam berapa tadi, Nak?" Sashi senang jika Bu Putu memanggilnya 'Nak' karena mengingatkan pada sang Ibu yang juga sering memanggilnya begitu. "Akuu... tidur jam limaan, kayaknya. Sekarang laper, pengen makan. Ibu ada masak?" "Mau ibu bikinkan mie goreng special? Tadi ibu ada beli bakso sama udangnya." "Mau mauuu... aku bikin minum dulu deh, ya." Sashi menghampiri kulkas untuk membuat cokelat dingin. Tepat saat dirinya terhalang pintu kulkas, langkah Jeff terdengar. Dengan suaranya yang berat, ia menyapa Bu Putu. "Morning, Bu." "Loh, Pak Jeff juga baru bangun, ya? Mau saya bikinin mie goreng special juga sama kayak Sashi?" tanya Bu Putu, tanpa sadar suasana tiba-tiba awkward. Baik Sashi dan Jeff sama-sama mematung. Tadi pagi Jeff terbangun di sebelah Sashi, merutuki dirinya sendiri yang semalam lepas kontrol karena mabuk. Meski begitu, ia sepertinya cukup sadar karena mengingat seluruh kejadian semalam tiap detiknya. Jeff perlahan-lahan turun dari tempat tidur Sashi dan pindah ke kamarnya sendiri. "Oh... y-ya, boleh, Bu Putu." Sashi dan Jeff membuat minumannya masing-masing tanpa berkata apa pun. Dapur amat sangat sepi dan kaku, sementara Bu Putu masih asyik memeriksa belanjaannya yang didapat dengan harag murah. "Ehmm... Bu, aku tunggu di kamar aja ya mie-nya," kata Sashi setelah memasukkan empat buah es batu ke dalam minuman cokelatnya. "Loh kenapaa? Di sini saja. Nih, ibu tadi beli kue basah. Kalian makan ini dulu buat ganjel perut. Bikin mie sebentar aja, kok. Kita itu harus makan sama-sama, menikmati berkat Tuhan sama-sama itu lebih baik. Ayok, ni, makan kue basahnya. Pak Jeff juga." Bu Putu menaruh kue-kue itu di dpiring yang lebar, lalu meletakannya di meja makan. Mau tidak mau, Jeff dan Sashi duduk berhadapan di situ. Jeff bisa mengalihkan dirinya dengan membaca-baca berita di ponsel. Meski tidak ada satu kalimat di berita itu yang masuk ke kepalanya. Sashi sendiri tidak tahu harus berbuat apa, ia lupa membawa ponselnya. "Uhm... Bu Putu, aku lupa tadi ninggalin Forex aku aktif. Aku cek dulu, ya, nanti takutnya uangku habis." "Waduh, iya-iya jangan sampai lost! Ayok cepat periksa, nanti biar ibu kasih tahu kalo mie-nya udah jadi, ya." Beberapa hari kemarin, Sashi menjelaskan pekerjaan sampingannya kepada Bu Putu mengenai Forex. Sementara Jeff menahan tawa gelinya karena bertanya-tanya, mengapa Bu Putu tahu apa itu 'lost'. "Pak Jeff, tumben belum pergi ke cottage? Apa hari ini lagi ambil libur?" tanya Bu Putu sambil memasukkan beberapa bahan ke dalam blender. "Nggak, tadi bangun tidur agak pusing aja. Dan semalam saya pulang subuh, makanya baru bangun." "Oh Pak Jeff mau saya bikinin minuman herbal yang kemarin Sashi buat? Ibu bisa bikinkan." Membayangkan aroma jahe masuk ke tenggorokannya, membuat Jeff menginginkan minuman tersebut. "Ah iya, boleh." Bu Putu menyalakan blender terlebih dahulu, lalu meninggalkannya sebentar untuk merebus air bersama jahe merah yang sudah dicuci. Ia masih hapal yang Sashi ajarkan kemarin. Tinggal ditambahkan s**u dan madu saja. Beres. Sementara itu, Jeff mendapat panggilan telepon dari Franky. "Ya halo, Bro." [WOIII!! Wah parah ih ada tamu bukannya ditemenin, dia malah kabur. Katanya mau balik ke sini.] "Gue baru banguuuun... kan semalem pulang subuh. Ni baru mau sarapan, dibuatin minuman herbal juga sama Bu Putu." [Hahahahah! Dah kayak bapak-bapak lo yaa... mabok gitu aja langsung butuh minuman herbal. Ya udah pokoknya buruan lah ke sini, kita party lagi. Tadi gue udah chat si Robert juga yahahahawww.] Jeff memijat kening setelah mendengar nama tersebut. "Ya udahlah, sejaman lagi gue otw." [Oke bro. Kata si Soni bawain dessert yang kemarin. Gue juga mau, yak.] "Liat nanti," jawab Jeff malas menjawab. Telepon pun terputus. Bu Putu sudah selesai membuat minuman herbal, lalu menuangkannya ke dalam gelas. "Ni Pak Jeff, segera diminum." Jeff mencium aromanya yang wangi, lalu menyeruputpelan. Ternyata kemanisan. Jauh lebih enak buatan Sashi. Jika dipikir-pikir, Bu Putu memang tidak begitu pandai memasak, meski ada beberapa masakan buatannya yang enak. Tapi wanita paruh baya tersebut tidak banyak menguasai menu. Jeff memperkerjakan Bu Putu karena ia ingin membantunya. Sebenarnya ia tidak begitu butuh asisten rumah tangga. Dan sekarang setelah dua tahun Bu Putu bekerja, Jeff sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri, begitupun dengan Wayan yang sudah ia anggap adik. "Enak ga?" tanya Bu Putu. "Enak, tapi agak kemanisan. Sedikit," jawab Jeff sambil memberi kode dengan jempol dan telunjuknya. Jalan satu-satunya, Jeff harus selalu jujur jika ada hal yang tidak ia sukai sehingga Bu Putu bisa terus belajar dan membiasakan diri. "Owalaaah... harus Sashi ini yang bikinin." "Ga usah, Bu. Jangan ganggu Sashi. Ini udah lumayan kok buat angetin tenggorokan. Cuman lain kali, gula atau madunya dikurangi aja kali ya." "Oh siap kalo gitu, ibu catet di kepala ibu." Bu Putu kembali mengerjakan mie gorengnya, sementara mata Jeff beralih menerobos jendela, melihat rumah belakang yang ditempati Sashi. Bertanya-tanya apa yang Sashi rasakan setelah semalam mereka bergumul mesra di atas tempat tidurnya. Lalu bagaimana jika mereka saling berhadapan lagi. Yang paling penting dari itu semua adalah, bagaimana dengan Alina? Jeff telah mengkhianatinya. Ia meyakinkan diri apa yang dilakukannya bersama Sashi hanya untuk sekadar pelampiasan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD