Bucin

1013 Words
Udara pantai sedang sangat enak untuk dinikmati. Sashi menghabiskan waktu hampir satu jam berjalan di tepi pantai dengan kaki telanjang, lalu mampir di warung lomie untuk makan siang. Kemarin ia sudah mendapatkan gaji pertamanya dan Robert memberi bonus lumayan banyak karena eclaire yang ia buat sangat laku keras. Hari ini Sashi berencana untuk belanja bulanan seperti alat mandi dan makanan untuk sarapan serta beebrapa camilan. Ia kini sudah jarang menginjak dapur Jeff lagi dan sebisa mungkin membeli sarapan yang tidak perlu dimasak sepertiroti dengan selai atau sereal. Sashi juga kini memiliki kulkas kecil yang diberikan oleh Jeff beberapa waktu lalu. Ia akan mengisinya dengan buah-buahan serta yoghurt kesukaannya. Setelah perutnya sudah lumayan terisi, Sashi bersantai sebentar di warung tersebut sambil mengobrol dengan Noni di chat. Beberapa hari lalu lagu yang ditujukan sebagai tribute untuk Sashi mendulang viewers yang banyak, hingga Sashi semakin takut wajahnya akan dikenali oleh orang asing. "Kayaknya gue harus ubah penampilan deh, Non," katanya setelah menceritakan ketakutan tadi. "Ya udah, potong aja rambut lo terus dicat warna terang., berani ga?" "Lihat nanti deh gue ke salon. Duh, padahal baru gaji pertama, udah banyaka aja ini pengeluaran." "Tenaaang... royalti kita bentar lagi cair. Duit lo kan aman." "Iya, berkat lo. Thanks yaa... oya, kalo bisa tiga puluh persennya lo kasihin ke Arin deh ntar. Ponakan gue itu udah mau skripsi, pasti butuh duit yang ga sedikit." "Oke gampang, nanti gue atur, tenang aja." "Si Dixie gimana? Masih suka dateng ke kantor?" "Udah beberapa hari ini ga dateng, lagian si Wiggy juga lagi di Malang, ada project. Adek tiri lo kan ke sini cuman buat deketin si Wiggy doang!" kata Noni nyinyir. "Hahahah! Sabar sabaar... lo deketin juga lah si Wiggy jangan mau kalah." "Ih sorry sorry aja ya mesti saingan sama si Dixie. Eh, udah dulu ya, Sash. Ini ada telpon masuk." "Oke lanjut deh." Setelah mematikan ponsel, Sashi memutuskan untuk pulang saja sebelum turun hujan. Ia akan belanja sore nanti mumpung hari ini libur kerja. Sashi juga akan menjemput Wayan di rumahnya karena ia sudah berjanji akan mentraktirnya makan enak ketika sudah gajian. Sashi ingin makan dengan pemandangan hijau seperti sawah atau pepohonan. Sashi mempercepat langkah, tidak sabar membuat list apa saja yang akan ia beli. Sudah kebiasaan Sashi sejak dulu untuk membuat daftar belanja terlebih dahulu supaya tidak lupa dan tidak melenceng dari niat awal. Karena jika tidak ditulis, ia akan membeli barang yang tidak berguna. Ketika kakinya menaiki tangga menuju halaman belakang, seseorang memanggilnya. Yang pasti itu bukan suara Bu Putu ataupun Wayan. "Hai, kamu Sashi?" sapa seorang wanita yang sedang berdiri di ambang pintu dapur sambil menggenggam segelas wine. Sashi menyipitkan mata. Wajah wanita tersebut sangat familiar, dan setelah beberapa detik, ia pun mengingat foto wanita cantik yang ada di kamar tamu. Pacarnya Jeff, namun aslinya ia terlihat lebih kurus. "Oh, iya aku Sashi. Kamu siapa? Pacarnya Jeff ya?" tanya Sashi dengan sopan dan sneyum mengembang. "Iya, aku Alina. Salam kenal." ALina mengulurkan tangtannya yang langsung disambut oleh Sashi. *** Tidak banyak basa basi yang mereka ucapkan di halaman tadi. Alina hanya tidak menyangka bahwa perempuan yang tinggal di rumah belakang merupakan wanita muda yang cantik. Ia mengira Jeff hanya membantu wanita biasa yang membutuhkan pekerjaan. Sementara Sashi tidak terlihat seperti orang kesusahan. "Mbak Alina, nih makanannya udah sampai," kata Bu Putu yang mengambil pesanan Alina dari applikasi online. "Makasih, Bu." Alina menyimpan pesanannya di meja makan berupa salad buah dan mango s**o. Tadi Bu Putu sempat menawarkan untuk membuatkan salad buah yang sudah ia pelajari di Youtube, namun Alina menolaknya. Ia merasa mempunyai trust issue dengan Bu Putu karena setiap makanan atau minuman yang dibuat oleh asisten pacarnya itu selalu tidak cocok di lidahnya. Tidak lama kemudian Jeff yang sudah mandi bergabung di meja makan dengan Alina. Mereka duduk berhadapan sementara Bu Putu pergi ke belakang untuk menyiram tanaman. "Kamu tanem apaan di belakang?" tanya Alina sambil membuka kotak yang berisi mango s**o untuk Jeff, sementara salad untuk dirinya. "Oh, itu si Sashi tanemin bunga di belakang beberapa hari lalu." "Loh, aku kan alergi bunga, Yang. Kamu ga kasih tahu ke dia." "Aku ga sempet kasih tahu soalnya dia udah keburu tanem. Gapapa, kan kamu juga jarang ke belakang. Yang penting ga kamu cium deket-deket bunganya." Alis Alina mnegernyit."Maksudnya, dia tanem bunga-bunga itu tanpa sepengetahuan kamu?" "Karena kemaren aku bolak balik ke cottage. Kami juga jarang papasan. Maksud dia mungkin baik, pengen halaman belakangnya jadi lebih colourful. Kayaknya ga sehalaman full juga ditanemnya." Alina tidak berkomentar lagi. Suasana hatinya sedang bruk sedari kemarin. Ia ke sini untuk menenangkan diri dan malah semakin memperburuk emosinya saja. "Are you okay?" tanya Jeff. "Kalo emang ga suka, nanti biar aku bicarain soal taneman-teneman itu sama Sashi." Alina tertawa. "Kamu mau aku keliatan jahat di mata dia? Dia udah capek-capek tanem bunga, nyiramin tiap hari, terus tiba-tiba aku suruh batalin semua pekerjaannya?" "Ya kamu jangan cemberut, dong. Aku ga akan bilang kalo itu suruhan kamu." "Dahlah ga usah. Bener kata kamu, aku kan jarang ke halaman belakang. Jadi its okay, ga perlu dibahas lagi." Jeff pun menikmati mango sagonya dengan tidak enak hati. Ia merasa bersalah karena sempat mengkhianati Alina karena sempat b******u mesra dengan Sashi. Kekasihnya itu pasti akan merasa tersakiti jika tahu. Selama mereka berpacaran, tidak pernah sekalipun Jeff berselingkuh. Ia menyayangi dan mencintai Alina, juga menghormati keluarganya. Itu sebabnya Jeff berencana untuk menikahinya. Kini cincin itu masih tersimpan di lemari, tanpa alina tahu bahwa tahun baru kemarin Jeff hendak melamarnya. Namun sepertinya sekarang bukanlah waktu yang tepat. Tadinya Jeff ingin melamar Alina di hari valentine, di hadapan ekdua orangtuanya. Tapi karena tadi Alina bilang ia tidak akan lama di sini, mungkin Jefff harus mengundur waktu lagi sampai ia menyusulnya ke Singapore. Ia akan melamarnya di sana saja dan menghabiskan waktu yang cukup lama bersama Alina. "Kalau kamu bete di sini, gimana kalo kita sewa hotel yang bagus buat nanti malem? Kamu mau? Atau candle light dinner, apa pun." "Kamu lagi ngerayu aku, ya?" Jeff mengusap jemari Alina dengan lembut. "Iya dong, sampai kapan pun aku akan ngerayu kamu supaya kamu tahu kalo aku cinta banget sama kamu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD