Setelah melihat persahabatan Debby dan Tania, aku menyadari bahwa ikatan persahabatan sangat berarti, bukan sesuatu yang bisa dipermainkan maupun dianggap sepele. Sekarang, aku jadi teringat pada Celia. Satu-satunya sahabat yang kumiliki di sekolah. Aku tak ingin menyembunyikan apa pun lagi darinya. Sudah kuputuskan akan memberitahukan tentang kemampuanku padanya. Karena kupikir lebih baik dia mengetahuinya dariku, daripada dari mulut orang lain. Aku tak ingin persahabatan kami rusak seperti Tania dan Debby hanya karena kesalahpahaman. Begitu jam istirahat tiba, kami menghabiskan waktu di kantin untuk makan siang. Meski gugup, aku tetap memberanikan diri untuk mulai menceritakan segalanya. "C-Celia.” Celia yang sedang duduk di hadapanku dengan kepala tertunduk, s

