“Apa kau bersedia menjadi pacarku?” Ingin rasanya menjawab ‘iya’, namun ingatan itu datang lagi. Kenangan menyakitkan dimana aku mendengar Sean dan teman-temannya membicarakan kejelekanku. "Bukankah, aku ini aneh?" "Haah?" Sean terlihat kebingungan. "Aku mendengarnya, ketika kau dan teman-teman di club basketmu membicarakan tentang aku. Kalian mengatakan aku ini aneh dan menyeramkan. Kau bahkan menyetujui perkataan mereka dan dengan yakin mengatakan mustahil kau jatuh cinta padaku. Lalu, untuk apa sekarang kau menyatakan cinta padaku? Apa kau sedang bercanda atau kau sedang mempermainkan aku?" Sean melongo beberapa saat, sebelum tawanya pecah. “Itukah alasanmu selalu menghindariku? Kau marah karena mendengar kami membicarakanmu?" Aku me

