Aturan Dalam p********n

1229 Words
Biani, Hihihi ... aku terkikik sambil memandang cermin. Pintar sekali Biani, aku memuji diriku sendiri. Kata Steffi, anak lelaki bernama Laith itu anak yang pintar dan rajin, juga seorang yang perfeksionis. Dia bisa bersekolah di Acno HiSchool karena mendapat beasiswa. Ibunya berjualan kue, adiknya tiga orang, SMP 2 orang dan balita 1 orang. Aku sudah menyelidikinya. Sekarang aku memiliki seorang b***k, memang sih, itu tidak sulit bagiku. Tapi, aku tak mau sembarang orang yang menjadi budakku. Harus orang yang benar-benar aku pilih, lihat wajahnya tadi langsung pucat, dia juga pulang dengan lunglai. Harusnya dia senang dong, tidak jadi terusir dari rumahnya. Aku mengambil pena yang berhias bulu-bulu bewarna biru dan pink kemudian menulis ke dalam jurnal. Aturan dalam p********n, aku menulisnya. Aku mulai merancang apa saja yang akan aku lakukan untuk memanfaatkan Laith. Hihihi ... aku terkikik lagi, sangat menyenangkan. Steffi terperangah saat kukatakan kalau Laith telah menjadi budakku sekarang, dan dia bingung apa arti istilah itu?  Bukankah di rumahku sudah banyak pelayan? Lagipula aku juga memiliki pengawal, kenapa aku harus memiliki seorang b***k? Steffi tidak mengerti. Yang pertama, lelaki bernama Laith itu harus tinggal di sini untuk menemaniku, diam-diam aku merinding. Tapi aku sangat bersemangat menunggu nanti malam. Laith, Aku masih bingung, apa maksudnya dengan menjadi b***k? Aku merasa shock, perempuan bernama Biani itu tiba-tiba tersenyum menyeringai? "Apa maksudnya b***k?" "Masa tidak mengerti? Kamu kan pintar." Jangan bilang kalau dia berkepribadian ganda. Aku menyusun baju dan barang-barangku ke dalam tas besar. Adik-adik dan ibuku melihat. "Katanya mereka nggak akan mengusir kita bu, tapi aku disuruh bekerja di sana." Aku mengatakan pada ibuku. "Nak, maafkan ibumu." Ibu memelukku. "Sudah bu, tidak apa-apa, mereka orang yang sangat kaya. Aku pikir mereka juga tidak butuh rumah kita, seperti kita membutuhkan rumah ini." "Tapi kamu masih bersekolah, bagaimana kamu bisa membantu pekerjaan di sana?" "Aku juga belum tau." Akhirnya ibuku memelukku sambil menangis, aku berusaha tegar. Aku diminta pindah ke rumahnya malam ini, kurasa aku tidak bisa membawa sepeda. Aku berpesan pada adikku yang SMP untuk menggantikanku mengantar kue-kue besok, nggak tau sampai kapan. Di dalam bus, aku memikirkan arti kata b***k dari ponsel ibuku tadi. Perbudakan adalah suatu kondisi di saat terjadi pengontrolan terhadap seseorang oleh orang lain. p********n biasanya terjadi untuk memenuhi keperluan akan buruh atau kegiatan seksual. Para b***k adalah golongan manusia yang dimiliki oleh seorang tuan, bekerja tanpa gaji dan tidak mempunyai hak asasi manusia. Aku bergidik ngeri, kenapa dia harus memakai istilah b***k? Pasti ada yang aneh, aku cukup cerdas untuk memahami. Pasti dia mau menganiaya aku, aku pernah baca terkadang orang-orang kaya punya kecenderungan berperilaku aneh. Saat melihatku di gerbang, security tidak lagi bertanya, dia segera membukanya. Aku di antar lagi menemui perempuan bernama Biani itu, dia memakai kaus tipis bewarna putih dan rok pendek saat ini. Dadanya tidak gendut, pas-pas. Aku diam-diam melirik, karena kausnya terlalu turun. Biani memperkenalkanku pad seorang pelayan yang bernama Mbak Cacha, dia menunjukkan kamarku. Biani mengikuti aku menuju kamarku di lantai satu rumah itu, rumah yang kupikir aku akan tersasar kalau berjalan sendiri. Aku menoleh ke arahnya, wajahnya diam tanpa ekspresi. Aku cukup kaget karena kamarku besar dan bagus, di rumah, aku tidur berdua dengan adikku menggunakan tempat tidur single, sedangkan di kamar ini? jauh lebih besar dan bagus daripada kamar di rumahku. Padahal mereka menyebutnya kamar tamu. "Ini tempat untuk meletakkan barang-barang kamu." Dia berkata, dia duduk di atas tempat tidur itu memperhatikan aku yang menyusun baju- baju dari dalam tas ke lemari. "Iya." Aku menjawab. "Tapi kamu nggak tidur di sini." Aku segera takut, apa dia menyuruhku tidur di kandang anjing? Atau bagaimana? Dia senang melihat manusia tersiksa begitu? "Jadi aku tidur di mana?" "Di kamarku." Aku melotot seketika. Biani, Aku membacakan beberapa poin yang telah aku siapkan sejak tadi pada Laith. Mengenakan pakaian bebas, dia sangat menarik, walau bajunya sedikit pudar. Dia kurus, tapi matanya bagus, kayak tajam gitu dan bening, apalagi kalau dia nggak pakai kacamata, bibirnya juga merah. Dia pasti tidak merokok. Dia sempurna. Hihi ... "Di sekolah kita pura-pura saling tidak mengenal, kalau kamu bicara kamu tinggal di sini atau mengatakan apa yang aku perbuat. Keluargamu akan langsung kehilangan rumah." Dia diam saja, bagus, sepertinya dia mulai mengerti. Atau dia sedang berusaha mencerna semuanya. Dia pintar, jangan sampai aku dibodohi. "Setiap subuh aku mengantar kue bikinan ibuku, jadi apa aku tidak mendapat gaji kalau bekerja sebagai b***k?" "Tentu saja tidak, gajimu untuk membayar sewa rumah." Aku berkata ketus, tampaknya dia kaget karena mengira aku seorang yang lembut. Huh! Lelaki selalu berpikir sesuka hati mereka. Dia menarik nafas, "Sekarang ganti baju." Aku berkata. "Ya." Dia melihat ke arahku. "Aku mau ganti baju, kenapa masih di sini?" Dia bertanya heran. "Aku lihat." Wajahnya pucat, bahkan bibirnya terbuka. Aku memandang-mandangnya saat berdiri di depan lemari. "Cepat." Dia menjambak rambutnya, baru sebentar sudah frustasi. Aku tersenyum riang. "Kamu rupanya gila." Dia berbisik. "Aku mendengar, jangan coba-coba mengejekku." Dia melihatku lagi dengan tidak yakin, kemudian dia melepas kemejanya. Aku segera merinding tapi langsung pura-pura tenang. Wah badannya bagus juga, eh iya diakan selalu naik sepeda, pastilah dia terlatih. Kulitnya terlihat sedikit terbakar, ada belang di lengannya. Mmhh dia tampaknya kuat. Aku menatapnya lekat-lekat. Dia tak mengganti celananya, mungkin malu. "Sudah." Dia bilang begitu. Padahal aku mau lihat bawahnya. Huh! "Sekarang ikuti aku." Aku berjalan keluar dari kamar itu menuju ruang makan. Aku duduk di salah satu kursi, dia memandang ragu. "Duduk di sebelahku." Aku memerintah. Dia melenguh lagi kemudian duduk di sebelahku. "Suapi aku." Wajahnya merah, dia menggaruk kepalanya canggung. Laith, Aku rasa dia memang punya kelainan, sekarang aku menyuapinya makan sambil dilihat oleh beberapa pelayan. Aku geli, tapi aku ikuti saja permainannya. Apa dia kesepian ya? Orang tuanya nggak ada, lagian dia sendirian di rumah ini. Aku merasa rahangku berdenyut. Dia menyuruhku makan juga, syukurlah aku sudah lapar. Dan makanannya wow enak sekali. Setelah makan, dia menyuruhku menggendongnya ke kamar, aku menuruti, lagipula dia juga ringan seperti bulu, dia melingkarkan tangannya di leherku. Terang saja dadaku berdebar keras, dekat dengan seorang gadis saja tidak pernah, sekarang aku malah menggendong perempuan ke kamar. Aku memasuki kamarnya, aku juga tak pernah masuk ke kamar seorang gadis sebelumnya, kecuali kamar adikku. Tapi kamarnya jauh berbeda, luasnya ada empat kali kamarku. Aku kira kamarnya akan bewarna pink, ternyata lebih didominasi warna putih walau masih ada pink-pink-nya sedikit. Masih dengan tubuhnya digendonganku, aku berhenti. "Kenapa berhenti?" "Mau apa lagi?" tanyaku datar. Padahal aku merasa mau pingsan saat ini, sayangnya aku belum pernah pingsan seumur hidupku. Jadi berhenti berharap untuk tak sadarkan diri. Biani menunjuk kasurnya, aku berjalan lagi dan meletakkan tubuhnya di sana. Kemudian aku berdiri kaku di sebelah tempat tidurnya, menatap kakiku bingung. "Ayo tidur." "Kamu yakin?" "Jangan bertanya atau membantah perintahku." Dia berkata. Gimana sih ini? "Cepat." Dia mendesak. Aku akhirnya berbaring di sampingnya, kamarnya dingin, tentu saja tidak seperti kamarku. Kasurnya juga sangat empuk dan wangi enak. Aku lagi-lagi menghela nafas. "Sekarang cium aku." Dia terkikik. Jantungku seperti mau copot. Tunggu? Aku melirik wajahnya, rambutnya tergerai di atas bantal, aku tau wajahku saat ini pasti memerah seperti udang dimasak. Kenapa wajahnya tampak biasa? Aku mulai merinding, d-dia memang tidak waras. Aku belum pernah cium cewek sebelumnya, hidungku terasa panas. Aku takut mimisan seperti di manga yang k****a. Tapi aku tau itu tak mungkin terjadi, tidak mungkin mimisan karena mencium cewek. "Di sini." Katanya sambil meletakkan jarinya di bibir. Kepalaku seperti berputar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD