Laith,
Astaga apa sih yang sudah kulakukan tadi malam? Aku terduduk. Biani masih tertidur pulas. Aku melihat tubuhnya penuh dengan tanda kemerahan. Aku menelan ludah saat melihat miliknya, apa dia perawan? Tapi dia nakal dan berani sekali. Dia juga gila, mungkin hiper?
Lihat aku menghajarnya sampai lemas semalam, untung saja belum aku gol. Bagaimanapun aku ini lelaki juga, mana kuat tiap hari melihat tubuh ranum di dekatku. Aku juga lelah. Aku tidur lagi saja, ini masih hari sabtu. Aku sekarang sudah mengacaukan jadwal yang aku buat.
"Laith!" Dia terlonjak dan berteriak.
"Apa sih pagi-pagi teriak?"
"Kamu b***k kurang ajar."
"Ah jangan munafik kamu saja keenakan semalam." Aku mengejeknya. Dia mengamuk aku dipukulnya dengan guling.
"Kamu lihat bagaimana aku menyiksamu ya!"
Dia segera menuju ke kamar mandi, kemudian berteriak menyuruh aku datang. Aduh bakalan lemas lagi aku. Tidak usah aku ceritakan apa yang terjadi di kamar mandi, semuanya bikin aku makin lemas.
Aku duduk dengan mengantuk di meja makan, dia menatapku tajam.
"Apa orang tuamu nggak pernah pulang?" Aku bertanya. Wajah Biani langsung sedih. Kasihan juga dia, di rumah sebesar ini sendirian.
"Memang sudah berapa tahun mereka nggak datang?" Aku melanjutkan.
Biani diam saja, matanya malah berkaca. Ada rasa sedih menjalar di hatiku, lebih baik dia memasang wajah sok kuasa daripada wajah sedih macam itu. Aku berdiri dan mengambil ponselku. "Ayo kita main game."
Dia mendongak, "Main game?"
"Ya. Game online." Aku beranjak dari meja makan dan dia mengikutiku.
"Enaknya kalau santai di mana?" Aku saja tidak hapal ruangan-ruangan di rumah Biani.
"Di ruang keluarga, bisa juga di ruang tengah."
Aku berjalan ke arah yang dia tunjuk, oh aku baru sempat memperhatikan bagian-bagian rumah ini. Terlihat kolam renang dari jendela, wah aku sampai lupa kalau di rumah Biani ada kolam renangnya, besok aku berenang dulu.
"Sini duduk." Aku memerintahnya, ketika sampai di ruang tengah, ada sofa besar berwarna abu-abu tua di sana. Dia mengikuti saja, tumben dia nggak cerewet. Aku mengambil ponselnya.
"Untuk apa?" Dia mengintip.
"Di download dulu gamenya, kamu suka main game?"
"Nggak."
Aku mengangguk-angguk, "Tapi kalo dimainin suka ya?"
Dia memukul kepalaku dengan keras, aku tertawa. Setelah itu aku membuat user Id dengan nama Nona Muda di ponselnya sedangkan user Id di ponselku aku buat b***k Nona Muda. Dia malah tertawa.
"Lucu," katanya.
"Ya ini buat lucu-lucuan, bukan berarti aku bersedia dijadikan b***k," sahutku cepat.
"Terus mainnya gimana?"
Aku mengajarinya, dia berbaring di pahaku. Kalau beginikan kami terlihat seperti pacaran. Daripada jadikan aku b***k mending jadikan aku pacar, hanya saja gadis ini kelainan, lebih baik jangan berharap yang aneh-aneh.
"Ganti namanya jadi b***k sex." Aku bilang begitu. Terkekeh. Mau liat dia jawab apa.
"Kita belum melakukan s*x, apa nanti malam?"
Mendengar kata-katanya yang tenang, aku seketika ingin tak sadarkan diri.
???
Biani,
Sejak tadi aku menyuruh Laith untuh membelai-belaiku, kami berbaring di atas tempat tidur. Aku merasa ini adalah minggu terbaik dalam hidupku, aku merasa nyaman dan gembira. Udah gitu tadi kami juga main game bareng.
"Kamu kenapa enggak belajar?" Aku bertanya, dia diam saja. Masih mengutak ngatik ponselnya.
"Ini aku sedang belajar."
"Mana coba liat."
Aku merebahkan kepalaku di dadanya, "Eh kamu merasa sesak nggak kalau kepalaku di sini?"
"Dikit." Sahutnya.
"Cium aku cepat." Aku memerintahnya.
"Kamu gila ciuman, kenapa sih?"
"Jangan cerewet. Lakukan saja perintahku jangan buat aku marah."
Dia melumat bibirku cepat, ciumannya sangat enak, kenapa cepat sekali sih? Aku sudah memaksanya memakai barang-barang yang aku beli, mendandaninya membuatku merasakan kepuasan juga. Besok aku harus berbelanja lagi untuk Laith, kalau begitu besok ajak dia sekalian. Aku tersenyum gembira.
"S***ku nggak enak, pengen di remas-remas." Aku berkata, sambil kepalaku mendongak, dia langsung kaget.
"Hoi! Kamu tuh sebagai cewek enggak normal tau. Heran aku liat kamu, kalau di kelas kamu minta gituan juga enggak?"
"Apa sih!" Aku membentaknya, "Karena kamu bilang begitu, tunggu aja hari senin nanti di sekolah."
Laith menggelengkan kepala, masih fokus pada ponselnya. Aku jadi kesal, aku berdiri dan mengambil selendang dari lemari bajuku. Budakku minta dihukum rupanya. Berani sekali dia mengataiku tidak normal. Segera aku rampas ponsel di tangannya dan aku ikat tangannya dengan selendang.
"Kumat lagi ya?" Dia mendesah pasrah. "Mau kamu apain lagi? Awas kalau berani memperkosaku."
Aku tertawa keras, "Bilang saja, yang ada malah orang-orang akan tertawa."
Dia memejamkan mata, pasti dia tau aku benar. Aku menduduki perutnya
"Ah berat tau," keluhnya. Aku mengikat tangannya ke kepala tempat tidur. Terus aku ikat juga kakinya. Kemudian aku menelepon mbak Chaca. Aku membaringkan kepalaku ke dadanya.
"Ini malam minggu hukuman untukmu b***k pemberontak."
???
Laith,
Wangi rambut Biani, terasa harum di hidungku. Wangi senada dengan tubuhnya apel dan lemon, segar sekali. Lupakan soal wangi, saat ini dia menggila lagi, padahal sudah seharian dia bersikap normal karena aku ajarin bermain game. Masa dia nyuruh-nyuruh aku m***m terus sih! Aku mulai khawatir nilaiku menurun, bisa dikatakan sekarang kerjaanku dengan Biani ini sungguh tidak sehat. Sekarang aku nggak bisa bergerak, tangan dan kakiku terikat di kasur. Aku melihat lima orang wanita masuk ke kamar itu. Semuanya cantik, seperti girlband.
Biani mulai memasang musik beat. Apa sih yang dia lakukan. Wanita-wanita di depanku mulai menari. Haaa? Jadi ini salah satu hobby-nya liat dance? Tunggu, feeling-ku nggak enak. Ternyata benar, seiring alunan musik, wanita-wanita di depanku mulai melucuti pakaiannya mereka satu persatu. Pertama dress-nya kemudian dalaman hingga mereka polos. Aku menganga. Mereka mulai menari dengan semakin erotis, bahkan ada yang berpelukan. Tak pernah terbayangkan sekalipun dalam hidupku akan menyaksikan pemandangan seperti ini, gila aku terangsang. Semuanya bertubuh sexy dan mereka menari memamerkan lekuk tubuh.
Biani tertawa, mungkin dia melihat wajahku yang nafsuan. Bagaimana bisa tidak nafsu melihat itu.
Hampir lima menit mereka menari-nari kemudian mendekatiku,
"Kamu pilih mau yang mana?"
"Apa maksudnya?" Aku menahan nafas.
"Punyamu sudah bangun, tapi masih sok-sokan menolak. Aku mau liat berapa lama kamu tahan."
"Gila!"
Mereka berlima mulai melucuti pakaianku, bahkan karena tidak bisa melewati ikatan. Baju dan celanaku digunting. Walaupun aku nafsu, gila saja, aku tak mau diperkosa wanita sebanyak ini. Mana nggak ada yang aku kenal. Aku langsung keringat dingin.
"Hentikan! Hentikan Bia!" Aku memelas, "Oke, oke aku nggak akan melawanmu."
Biani tertawa, "Akhirnya kamu mengerti juga." Dia mengusir wanita-wanita itu keluar.
"Kamu masih perjaka kan?"
Wajahku merah mendengar pertanyaan itu.
"Itu privasi nona." Aku menjawabnya.
Dia memandangi tubuhku yang sudah polos, "Sekarang ayo kita melakukan itu."
Itu?
Jangan bilang kalau dia mau bercinta? Aduh gila sekali.
Biani membuka ikatan tangan dan kakiku, aku mengusap-ngusapnya. Sedikit sakit karena aku meronta sejak tadi. Seandainya aku lelaki gila, pasti aku sudah fives*me atau sixs*me dengan wanita-wanita itu plus Biani. Astaga, kenapa aku jadi seperti ini? Hidupku hancurrr. Masa-masa remajaku telah ternoda.
"Laith." Biani berbisik.
"Ya nona."
"Cepet buka bajuku."
***
Aku menarik dan menghembuskan nafas berkali-kali, membuat dia terkikik. Di beberapa buku yang aku baca dan film yang aku tonton, seharusnya lelaki yang mendominasi, mereka bisa memiliki b***k perempuan untuk kepuasan mereka, karena sudah hukum alam kalau nafsu laki-laki lebih besar daripada perempuan. Sekarang? Bagaimana ini bisa terbalik?
Akhirnya aku mulai melakukan sentuhan biasa saja pada tubuh Biani, aku sangat tegang memikirkan harus kehilangan keperjakaan di usia 17 tahun. Tapi lebih baik memberikan pada Biani ketimbang di perkosa secara brutal oleh penari-penari striptease tadi.
Aku sudah merinding sekali, kami baru kenal seminggu. Tidak, ini nggak mungkin. Aku melihat wajahnya yang memerah, eh wajahnya merah? Bibirnya bahkan sedikit terbuka.
"Balas aku jugalah." Aku berkata. Aneh, aku mulai kelainan juga. Virus Biani menggerogoti aku.
"Nggak bisa," jawabnya.
"Kenapa?"
"Itu aturan dalam p********n, b***k harus memuaskan tuannya tanpa harus di balas.
"Ini p********n modern tau." Aku berkata kesal.
"Mmhhh...." Biani merintih, dadanya membusung. Tunggu apa aku harus sejauh ini? Aku kan cuma butuh tempat tinggal untuk keluargaku?
"Nona, ada Non Steffi datang."
Aku menoleh ke arah pintu kamar, ada Mbak Chaca melihat ke arah kami. Dia tersenyum.
Ha? Aku membeku, kedua tanganku sedang meremas d**a Biani dan aku polos dilihat oleh orang lain.
M-memalukan! Harga diriku hancur.
???