Jadi Orang Buta

1050 Words
Biani, Hihi lucu sekali dia, dia memejamkan matanya sejak tadi. Dia seperti lelaki baik, aku beruntung menemukannya. Kata Steffi rata-rata pikiran remaja lelaki kotor, ternyata Laith bahkan tidak mengambil kesempatan saat ini. "Buka baju kamu, jangan sampai aku yang buka," kataku ketus. Dia menggeleng. "Terserah." Kataku. "Cepat sabuni aku." Dengan mata tertutup dia membelai- belai tubuhku yang terbuka, aku jadi mengeluarkan suara aneh, seperti rintihan. Begitu ya? Sepertinya lelaki tidak bisa menahan keinginannya, tapi ada laki-laki seperti Laith yang menahan diri. Lama sekali dia mengusap-ngusap tubuhku, kesela-sela bahkan ke punggung. Kemudian aku membuang semua air busa di dalam bathtub Mengucurkan air shower yang bersih. "Udah." Dia berkata. Aku segera berdiri dan meninggalkannya, mengenakan handuk dan keluar dari kamar mandi, aku mendengarnya mengeluarkan desahan. Ketika di luar aku menutup pintu kaca tapi masih ada sela sedikit. Aku melihat Laith berdiri dan masuk ke dalam ruangan yang berkaca, buram karena terkena uap air hangat. Dia melepaskan baju, setelah itu dia mengerang. Dia menoleh, untunglah aku tidak terlihat, aku segera kabur dari sana. Dia menarik tirai menutupi kaca. Aku tau apa yang dilakukan Laith tadi, itu cara laki-laki mendapat kepuasan. Padahal kalau dia bilang aku mau saja membantunya, eh tapi nggaklah, aku kan penguasanya mana boleh begitu. Aku memegang kedua pipiku, wajahku sangat panas. Dengan terburu-buru aku memakai seragamku bahkan aku memakai sendiri kaus kaki. Aku tak mau nanti dia melihat wajahku yang merah saat dia memasang kaus kakiku. Dengan jantung berdebar kencang aku turun ke ruang makan, aku tak berselera. Aku segera berlari menuju mobil dan langsung berangkat sekolah. ??? Laith, Sebenarnya aku beruntung atau sial sih? Aku mendengus kasar. Beruntung karena bisa mengerayangi tubuh seorang gadis, kulitnya lembut dan halus, mana sensual sekali lagi, di dalam bathub, sial karena aku jadi tak bisa menahan hasrat dan harus menjinakkan milikku yang mencuat. Apa aku sebentar lagi ikut gila ya? Aku menutup tubuhku dengan handuk dan berjalan keluar. Kamar Biani telah sepi, aku menuju kamarku. Kamar tamu maksudnya, setelah memakai seragam aku turun dan melihat Biani tak ada di meja makan, mbak Chaca bilang dia telah pergi duluan. Aku melihat jam, masih ada waktu jadi aku sarapan saja dulu. Aku harus kuat agar tetap waras hidup bersama gadis dengan kelainan pada otaknya. Sesampai di sekolah, Dude mengatakan kalau lagi-lagi sekolah di buat heboh. Romeo menembak Biani dan ditolak mentah-mentah, katanya dia mau fokus belajar dan enggak mau pacaran. Dude membicarakannya sambil terkagum-kagum. Aku malah menjadi semakin pusing. Romeo padahal terkenal populer dia juga anak orang kaya, semua yang sekolah di sini rata-rata anak orang berada kecuali penerima beasiswa sepertiku. Nanti siang aku harus pulang dan mengambil sepedaku, tidak bisa naik bus terus uangku sudah menipis, sekalipun jauh aku harus mengatur waktu dengan seksama. ??? Biani, Huh pede sekali dia mau jadi pacarku? No! Tak ada yang menarik dalam dirinya, memang sih dia cukup manis dan katanya dia populer, tapi otaknya kosong. Mana sudi aku, bisa-bisa omonganku tak sampai ke pikirannya. Aku mengeluarkan handphone dan dengan segera aku dikerumuni. Dengan malu-malu aku berkata membeli hp karena mau masuk grup kelas, Romeo yang tampaknya sedih karena aku tolak bersemangat lagi. Dia segera memasukkan nomorku ke grup kelas, aduh aku jadi lupa memberikan handphone pada Laith. Aku sedang memikirkan sesuatu, nanti sepulang sekolah aku akan mengikutinya pulang ke rumahnya. Bagus juga, aku berencana mengambil hati ibu dan adik-adiknya, biar Laith tidak bisa lepas dari penjajahanku. Aku terkikik dalam hati. Aku mengingat ekspresi Laith di kamar mandi tadi, sangat menyenangkan. Bahkan lebih menyenangkan ketimbang berjalan-jalan, atau mama dan papaku pulang. Mereka sudah tidak pernah pulang. Seorang siswa pria menyenggol tubuhku, aku segera memekik. Dia minta maaf. "M-maaf ya, aku selama ini sekolah di rumah jadi enggak terbiasa disentuh. Maaf ya," ujarku malu-malu. Siswa itu terpana dan matanya seperti terpesona, wajahnya terlihat t***l. ??? Laith & Biani, Laith memandang gadis di sebelahnya, tadi dia dipaksa masuk ke mobil ini. "Mau ke mana?" Laith bertanya ragu. Biani diam saja, akhirnya Laith diam sambil memandang melalui kaca jendela. Laith sedikit kaget saat mobil itu menuju kediamannya. Dia memandang Biani, bertanya-tanya apa lagi rencana licik gadis itu, semua tindakannya hanyalah pemanfaatan, itu yang Laith baca dari perilaku Biani selama beberapa hari ini. Pintu mobil dibuka oleh supir, Biani segera keluar dan Laith juga keluar melalui pintu yang berlawanan arah. Biani memandang rumah mungil di hadapannya, banyak pohon-pohon yang rindang juga bunga-bunga. Itu rumah Laith yang telah menjadi milik Biani. "Ajak aku masuk." Perintah Biani pada Laith. "Oh silahkan masuk nona," kata Laith. "Eh tapi di dalam nanti kamu nggak boleh panggil aku nona, harus panggil Biani. Mengerti?" "Baik." Laith menjawab. Mereka masuk ke dalam rumah, sedangkan supir Biani membawa banyak kantong-kantong belanjaan. Biani melihat seorang wanita menyambut mereka, "Ini ibuku." Kata Laith. Biani kaget memandangnya pantas saja budaknya cakep ternyata bibitnya bagus. Biani terkagum-kagum memandang wajah ibu Laith yang tersenyum senang karena melihat anaknya datang bersama teman perempuan. "Aduh temannya Laith, ya?" Supir Biani menyerahkan kantong-kantong itu kepada ibu Laith, seorang anak kecil berusia 5 tahun mendekat juga anak remaja berseragam putih biru. "Ini adikku, Lian yang SMP dan Lou yang balita." Biani mengangguk. "Apa ini repot-repot?" Ibu Laith melihat kantung-kantung belanja yang dibawa oleh Biani, berisi buah-buah dan makanan. Laith memandangnya heran. "Tidak repot tante." Biani tersenyum manis. "Laith sudah banyak membantu dan menemani aku di rumah." "Kakak pemilik rumah kami?" Lian bertanya. Biani tersipu. "Bukan kakak tapi orang tua kakak." Ibu Laith seketika berkaca, "Astaga itu kamu?" Ibu Laith menggenggam tangan Biani. "Maaf ya tante, aku meminta Laith tinggal di rumah soalnya orangtuaku sudah bertahun-tahun tidak pulang. Aku kesepian dan butuh teman." Ibu Laith langsung memeluk Biani, "Tentu saja, tante justru berterimakasih kamu tidak mengusir kami dari rumah ini. Pokoknya katakan apa yang kamu butuhkan, tante akan membantu kamu." Biani tersenyum sangat manis, tubuh Laith menjadi kaku saat melihat adegan itu. Ibu Laith sangat cepat akrab dengan Biani, bahkan ketika pulang dia mencium pipi Biani seperti anak perempuannya saja. "Kamu pulang duluan, aku mau bawa sepeda." Kata Laith. Biani menggeleng dan menyeringai. "Lupakan sepedamu." Laith segera merasakan aneh di dalam hatinya. Biani masuk ke mobil dan dia menyuruh Laith ikut masuk, Laith berpamitan dengan ibunya. Ibunya Laith berkata, "Laith, lindungi dan jaga Biani dengan segenap nyawamu. Jangan sampai gadis yang begitu lugu dan polos seperti dia ternoda." Laith mengeluh, ibu belum tau saja kalau aku yang telah dinodainya. ???
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD