Satu hal yang ku pelajari selama bekerja di kantor adalah banyaknya kegiatan diluar meja yang harus dilakukan. Seperti pergi dinas ke beberapa tempat baik yang bisa dijangkau maupun yang sulit dijangkau. Rasanya begitu melelahkan, tetapi pergi dengan mereka begitu menyenangkan.
Selain itu, kekeluargaan yang terjalin diantara pegawai juga baik. Terkadang mereka akan memasak bersama didapur, membuat makanan besar untuk dimakan bersama. Jika ada event, maka akan beramai-ramai memeriahkannya. Seperti saat ini, kontribusi totalitas tidak lepas untuk ikut memeriahkan hari kemerdekaan RI.
Mendekorasi sesuatu bukanlah hal kesukaanku. Aku bukan anak yang kreatif, tidak pula memiliki bakat seni. Namun, mendekorasi, membuat hiasan adalah tugas pokok para wanita sementara para pria sibuk menyusun barang-barang dan bergotong royong membersihkan sampah.
Besok adalah perayaan hari kemeredekaan Indonesia. Kami sibuk bergotong royong untuk mempersiapkan acara besok yang rencananya akan diadakan lomba yang merupakan tradisi tahunan di kantor.
Sempat terjadi perdebatan singkat diantara pihak ibu-ibu dan bapak-bapak mengenai jenis lomba yang diadakan besok. Tentu saja, para pria lebih menyukai adrenalin.
"Mending panjat pinang," Ujar Pak Egi.
"Capek, kami ngga ada yang mau ikut. Berisiko jatuh juga," Sanggah Kak Nur.
Lalu perdebatan pun dimulai. Tanpa ada satupun yang berniat mengalah.
"Bakiak, balap karung, gobak sodor, sama enggrang."
"Ini lomba buat seru-seruan doang. Kenapa jadi akrobat semua dah?" Kali ini Kak Fitri ikut berdebat.
"Yang santai-santai aja. Sadar umur kali, Pak. Rumah sakit jauh," Ujar Kak Nur.
"Hitung-hitung sambil olahraga juga. Biar seru. Kalau cuman makan kerupuk, meniup balon, halah mana ada khas agustusannya. Yang tadi itu baru khas kemerdekaan," Pak Rahman ikut menimpali sambil mengepalkan tangannya dan menunjungnya keatas dengan semangat.
"Kalau encok risiko tanggung sendiri ya. Kita ngga sedia ambulans," Kata Mbak Salma sambil mengangkat telunjuknya.
Kesepakatan akhirnya terbentuk. Baik ide dari pihak bapak-bapak maupun ibu-ibu tersalurkan. Lomba makan kerupuk, balap karung, bakiak, memecah balon, lomba sepatu bertali, dan memasukan sedotan ke dalam botol.
"Ni, kamu kan tinggi. Tolong tempelin pita-pita ini diatas dong," Pinta Kak Gayatri sambil menarik tanganku ke halaman depan. Ia membawa pita merah putih yang masih terbungkus plastik.
Aku menatap tangga besi didepanku dengan skeptis. Tangga besi ringkih yang keamanannya tidak bisa ku jamin akan menyelamatkanku, membawaku naik ke atas dinding tiang dekat plafon yang cukup tinggi.
"Bapak-bapaknya pada kemana, Kak? Ini kan tugas mereka," Aku bertanya. Bukankah sudah seharusnya manjat memanjat ini tugas laki-laki?
"Nggak tau tuh, perasaan tadi disini rame. Kok jadi pada hilang. Kayaknya pulang ke rumah karena jam istirahat."
"Yaudah nanti aja, Kak. Tunggu mereka pada datang, kan ini jam istirahat," Pintaku memelas.
"Disuruh Bu Sri sekarang juga. Aku nggak bisa, Ni soalnya pakai rok. Kamu kan pakai celana," Kak Gayatri membujukku dengan nada lebih memelas.
Aku menatap murung pada celana hitamku sendiri. Seharusnya aku hari ini memakai rok saja.
Dengan pasrah aku naik perlahan tangga besi itu sembari Kak Gayatri menahan dibawah sana. Satu tanganku memegang kumpulan pita warna warni yang akan dihias. Kakiku sedikit gemetar karena tidak biasa. Dalam pikiranku, aku bisa saja jatuh kapanpun jika terpeleset sedikit. Buku-buku jariku memutih saking kencangnya aku memegang anakan tangga.
"Jangan goyang-goyang, Ni. Nanti jatuh," Pesan Kak Gayatri. Aku tak bisa fokus mendengar apapun karena fokus untuk naik ke atas. Setelah sampai pada undakan tangga paling atas, aku duduk perlahan dan mulai menempelkan lem pada pita kertas, membentuknya seperti ombak.
"Kak! Tanganku ngga sampai ke ujung sana..." Aku berujar sembari mencoba mencapai sudut paling ujung dengan tanganku. Karena terlalu banyak bergerak, tangga yang ku duduki semakin bergoyang kencang. Sampai akhirnya...
"Aaaaaaakh!"
"Anjani!"
Aku hampir saja terjatuh, namun sebelah kakiku masih sempat untuk menahan hingga ke anakan tangga ketiga. Aku bergetar hebat sambil memejamkan mata. Tanpa sadar aku menggenggam erat tangan seseorang yang sedang memegangi tangga dengan satu tangannya berada dipinggangku.
"Kak..." Bisikku lirih. Namun saat membuka mata yang kudapati bukanlah Kak Gayatri melainkan Bang Yasa.
Wajahnya mengeras membuatku ketakutan. Ia hanya diam sambil menatap sekelilingnya tak tentu arah sambil membantuku turun. Lalu melepas tanganku dengan cepat setelah aku berhasil turun sempurna.
"Kamu gila ya?! Kamu mau nyelakain dirimu sendiri?" Ia membentak dengan keras. Membuatku tanpa sadar menjauh perlahan sambil menautkan jari jemariku.
"A-aku..."
"Udah tau naik ke atas. Hati-hati sedikit kek! Kalau kamu jatuh semua orang bakalan repot. Lagian ngapain kamu pasang pita itu sendirian? Itu kan bukan tugas kamu!" Ia masih saja membentak keras. Sampai-sampai menarik perhatian beberapa pegawai yang tergopoh gopoh keluar karena bentakannya yang keras. Lalu Kak Gayatri datang dengan tergopoh-gopoh. Bang Yasa masih memakai helm beserta jaketnya. Tampaknya ia baru saja datang ke kantor setelah beristirahat.
"Eh? Kenapa ini, Bang?"
Aku hanya diam sementara Bang Yasa menghela napas dengan kasar, "Kalau nggak bisa itu ngomong jangan maksain diri." Bang Yasa mengendikkan dagunya ke arah pita-pita diatas sana yang belum terpasang sempurna.
"Aduh, maaf ya, Ni. Tadi aku angkat telepon sebentar. Harusnya aku nggak ninggalin kamu sendirian." Kak Gayatri berujar dengan rasa bersalah. Membuatku semakin tak nyaman karena merepotkannya.
"Jangan sembarangan ninggalin orang kaya gitu. Bahaya. Kalau dia jatuh gimana?" Kak Gayatri juga ikut terkena semprotan Bang Yasa. Kami berdua meringis dan saling pandang.
"Udahlah, Bang. Ngga usah diperpanjang, yang penting kan Anjani nggak apa-apa." Kak Fitri berusaha menenangkan Bang Yasa. Namun, tampaknya emosinya masih meluap, "Yaiyalah nggak apa-apa. Orang tadi aku bantuin, coba kalau aku ngga ada. Patah tulang kali."
"Yaudah sih, ngga usah marah-marah ke aku juga. Lagian Bang Yasa dari tadi juga nggak ada bantuin kita apa-apa. Ngga ada kontribusinya, tapi sekalinya bantu malah marah-marah." Keadaan menjadi semakin panas karena Kak Fitri ikut emosi. Ia kemudian memilih pergi sambil menghentakkan kakinya dengan kesal.
Mas Baim kemudian mengalihkan perhatiannya padaku, "Kamu nggak apa-apa? Biar aku aja yang pasang pitanya ya, Ni. Kamu duduk aja. Maaf ya, Ni baru bisa bantu aku juga baru sampai kantor habis dari keuangan." Tanpa banyak bicara ia langsung menggeser tangga sedikit ke ujung. Tak lupa mengambil beberapa pita yang tersisa ditanganku untuk dipasangnya.
Bang Yasa hanya diam kemudian pergi begitu saja. Sementara Kak Gayatri tak henti-hentinya meminta maaf kepadaku.