Aku tak bisa menahan tangis yang menyesakkan dadaku. Aku pergi ke toilet untuk menenangkan diriku sekaligus menangis sejadi-jadinya. Terakhir kali aku dibentak seperti itu oleh seseorang adalah--ibu saat aku ketahuan pergi ke konser Dewa 19 setelah izin mengerjakan tugas kelompok. Saat itu aku masih masa-masa remaja yang penuh dengan keinginan untuk memberontak.
Namun, entah kenapa bentakan Bang Yasa rasanya berbeda.
Aku tidak marah dengan Bang Yasa. Hanya saja aku merasa sedih karena diperlakukan seperti itu didepan umum. Aku merasa malu sekaligus kesal. Aku menyalahkan diriku sendiri yang begitu ceroboh. Perkataan Bang Yasa terus terngiang dikepalaku bahwa aku manusia yang merepotkan.
Aku duduk di toilet kurang lebih 15 menit. Setelah merasa sedikit tenang. Aku memutuskan untuk keluar dan mencuci tanganku. Menatap diriku sendiri di cermin dengan keadaan yang sudah berantakan. Mataku bengkak, sembap, dan hidung memerah.
Untungnya aku membawa pouch make upku. Aku tidak ingin ada yang mengetahui jika aku menangis. Segera ku pakai sedikit bedak untuk menyamarkan bagian kantung mataku yang bengkak.
Aku keluar dengan penampilan lebih segar. Namun, agak terkejut mendapati Bang Yasa sedang menyandarkan tubuhnya di dinding sembari mengisap sebatang nikotin di tangannya. Aku berusaha menghindari kontak mata dengannya. Dengan cepat aku melengos tanpa menyapanya, namun belum sempat melangkah ia bergumam pelan, "Maaf."
Aku diam sejenak untuk mencoba menjernihkan pendengaranku. Takut salah dengar.
"Maaf tadi bentak kamu," Ujarnya sekali lagi sambil menghela napas.
Aku memejamkan mataku sejenak dengan posisi masih menunduk dalam. Lalu mengangkat kepalaku dengan senyuman kecil,
"Aman, Bang. Santai aja."
Ingin sekali aku berteriak dan memaki-makinya. Melontarkan berbagai emosi yang seharusnya pantas ia dapatkan. Namun, aku tidak memiliki energi untuk berkelahi dengannya. Menurutku, sudah cukup rasanya aku meladeni sikap buruknya selama ini kepadaku, yang tidak ku ketahui alasannya. Hubungan kami justru saling memburuk. Terutama mungkin rasa bencinya kepadaku. Kini, lebih baik aku diam dan menghindar. Biarkanlah hubungan kami sebatas profesional kerja. Toh, ia tak berdampak apa-apa dihidupku.
Dia menatapku lamat kemudian menghela napas kasar. Ia menggaruk kepalanya seperti ingin mengucapkan sesuatu. Bibirnya terbuka dan kemudian tertutup kembali berulang-ulang. Tampak ragu-ragu kemudian ia urung kan.
"Lain kali hati-hati," Setelah mengucapkan itu, ia masuk ke toilet pria lalu sosoknya menghilang begitu saja dari balik pintu.
***
Berpanas-panas ria bukanlah hobiku. Jika bisa hanya duduk dan menonton aku lebih memilih melakukannya daripada harus mengikuti lomba bakiak ditengah panasnya terik matahari. Aku terpaksa berpartisipasi pada dua lomba yaitu bakiak dan memecahkan balon. Dibandingkan lomba yang lain, menurutku kedua lomba itu adalah yang paling aman dari kata memalukan.
"Disini ngga ada tuh yang namanya kata malu. Semua WAJIB ikut lomba!" Seru Mbak Salma saat aku menolak.
"Ya wajarlah kami bujangan ini jaga image. Nanti ngga ada cowok yang naksir ama kita," Balas Kak Fitri dengan sewot.
"Kita mau asal ngga diviralin videonya nanti," Ujarku. Maklum, Mbak Salma ini seleb t****k. Followersnya sudah ribuan. Bahaya kalau wajah aibku yang malah masuk ke t****k Mbak Salma dan fyp.
"Halah, ribet amat deh kalian ini. Cepet catat nama mau ikut lomba apa? Ngga boleh nolak ya pokoknya!"
Begitulah akhirnya aku mengikuti lomba balap bakiak dan lomba memecahkan balon.
"Oke! Gita, Baim, Zaki tim pertama. Salma, Gayatri, sama Pak Joko tim kedua. Yasa, Anjani, dan Bang Egi tim ketiga," Lantang Kak Halda selaku MC. Mataku melotot dan segera merebut kertas ditangan Kak Halda dengan cepat.
Aku mengaduh, "Kak, ini timnya ngga bisa tuker? Aku sama Mas Baim misalnya," Aku memohon dengan mata berbinar. Aku meminta satu tim dengan Mas Baim bukan karena apa-apa. Namun semata-mata karena melihat anggota timku yang sangat tidak ideal. Pak Egi si ganjen yang terlalu banyak menggodaku dengan gombalan mautnya, dan satu lagi manusia paling menyebalkan sejagat raya. Tidak perlu dipertanyakan lagi bagaimana buruknya hubungan kami.
Kak Halda tersenyum simpul mendengar permintaanku, namun ia tidak serta merta mengabulkan permintaanku, "Ni, aku tau kamu mau se tim sama idolamu. Tapi maaf ini berdasarkan hasil rolet. Kamu nggak lagi berjodoh sama Mas Jawamu," Ujarnya dengan ekspresi iba.
Aku berjalan gontai menuju tempat Bang Yasa dan Pak Egi yang kini sudah bersiap ditempat, menaikkan kaki ke atas bakiak. Bang Yasa menawarkan tangannya agar aku bisa menaiki bagian tengah bakiak yang ku terima dengan ragu-ragu.
"Hati-hati, Ni," Katanya pelan yang ku balas dengan anggukan. Ternyata dia bisa baik juga.
"Pokoknya langkah pertama kanan dulu. Ingat ya," Pak Egi yang ada didepanku membuka suara.
"Iya, Pak," Aku tidak bisa fokus karena ramainya sorak sorai yang meneriaki kami dengan kata-kata semangat.
Tanganku yang ku pakai untuk menutupi telinga tiba-tiba dipegang oleh seseorang dibelakangku. Ia meletakkan tanganku dibahu Pak Egi hingga jarak tubuh kami berdua menipis. Dengan pelan ia berujar, "Pegang Bang Egi biar badan kamu seimbang." Lalu setelah itu tangannya dengan enteng bertengger dipinggangku, tidak kencang, namun cukup membuatku berdesir.
"Siap! 1....2....3....mulai!"
Sesaat setelah aba-aba dari Kak Halda kami melaju cepat menuju garis finish. Bang Yasa dan Pak Egi lantang meneriakkan "Kiri, kanan, kiri, kanan" Seperti tentara siap tempur. Kakiku yang mungil cukup kewalahan harus mengikuti langkah kaki mereka yang panjang.
Entah apa yang terjadi, Pak Egi tiba-tiba terjatuh membuatku dan Bang Yasa mau tidak mau kehilangan keseimbangan. Aku sudah pasrah dengan posisiku yang kurang menguntungkan. Aku akan dihimpit oleh dua pria ini, jika aku nekat lebih baik aku melompat saja keluar dari barisan meskipun berisiko akan luka-luka. Yup, aku sudah merencanakannya dengan matang di dalam kepalaku.
Namun, manusia berencana Bang Yasa berkehendak. Tangannya yang tadi bertengger dipinggangku beralih memeluk perutku, err--lebih tepatnya ia menahan dengan berat tubuhnya agar kami berdua tidak ikut terjatuh seperti Pak Egi.
Aku lebih baik jatuh daripada bertahan dalam posisi ini. Seolah-olah ia memelukku dari belakang seperti sepasang kekasih. Alih-alih fokus kepada pemenang yaitu tim 2, orang-orang malah menyoraki kami berdua.
"Ciee!! Cie!!!!"
"Ih, romantis banget peluk-pelukan gitu."
"Bukan muhrim woy!"
"Yasaaa, tahan dulu, Yas! Jangan kelepasan disini hahaha."
Aku segera melepaskan diri dengan paksa dari Bang Yasa dengan ekspresi tak nyaman. Akibatnya, ia hampir terjatuh karenaku, namun aku tidak peduli. Kepalaku sibuk menunduk malu, riak sorai terus mengadu. Sampai lupa dengan kehadiran Pak Egi yang kini mengaduh.
"Bukannya ditolongin malah sibuk peluk-pelukan lu pada," Keluh Pak Egi sambil sok Jaksel.
"Ya lagian bapak sih, cinta tanah air banget sampe nyium semen segala," Ucapku asal dengan nada sedikit kesal.
"Kakiku keselimpet, Ni. Maklum orang tua."
Aku menggaruk kepalaku yang tak gatal lalu kemudian segera menjauh dari tengah lapangan. Toh, buat apa dilanjutkan, kami sudah kalah telak. Aku tidak ingin berlama-lama berada di dekat Bang Yasa