2024, AD
Hai? Aku harap kamu sehat ya, maaf aku tidak sempat memberikan salam perpisahan yang baik kepadamu. Mungkin karena saat itu aku masih sangat kekanak-kanakan.
Aku tahu ini sudah terlambat. Tapi semenjak perpisahan yang buruk saat itu, ada perasaan mengganjal yang begitu menggangguku.
Yaitu, tentang bagaimana perasaanku selama ini kepadamu, yang selalu ku simpan rapat-rapat. Mungkin sudah saatnya kuungkapkan kepadamu untuk terakhir kalinya. Agar aku bisa membuka lembaran baru tanpa perlu teringat masa lalu.
Semua ini berawal dari pesan singkat yang tak sengaja ku respon dengan hati. Padahal bagimu pesan singkat itu tidak berarti apapun. Namun, entah mengapa aku selalu menanti pesan yang datang setiap harinya.
Membahas hal-hal yang hanya kita pahami bersama. Lalu, bibirku terangkat membentuk senyuman, mimpiku indah setiap malam.
Lalu, ketika kamu mulai menghilang kegelisahan datang menghantuiku.
Ternyata kekhawatiranku benar. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain diam dan menjauh. Sebab kukira, melihatmu bahagia pun menjadi sebuah bahagia bagiku, bahkan jika harus melihatmu dengan orang lain.
Aku takut dilupakan, aku takut dibuang.
Kamu tidak membuangku, tidak. Kamu masih memiliki senyuman yang sama, bedanya ada jarak yang jelas diantara kita. Pada akhirnya, aku memang harus menjadi asing bagimu.
Mengenalmu adalah takdir paling menyenangkan sekaligus menyebalkan bagiku
Jika memang hanya untuk singgah, mengapa kita ditakdirkan bertemu?
Apakah ini merupakan bagian dari rencana Tuhan dalam mengujiku?
Atau memang kau saja yang enggan untuk tinggal?
Mencintaimu tidak pernah ada dalam rencanaku. Sayangnya, kamu dengan lancang terus menerobos pintu masuk yang telah aku kunci dengan rapat.
Jika memang tujuanmu bukan aku, bukankah seharusnya kamu mengetuk pintu dengan sopan? Tanya lebih dulu apakah hatiku akan siap menerima kedatanganmu yang singkat itu.
Paling tidak aku akan lebih siap untuk mengucapkan selamat tinggal dengan ikhlas tanpa hati yang berat.
Kalau sudah begini, sudikah kamu bertanggung jawab? Kurasa tidak.
Pada akhirnya aku harus berusaha keras menyembuhkan luka yang kamu toreh dengan tidak sengaja akibat dari kebodohanku sendiri yang tanpa waspada membiarkanmu meluluhkan hatiku tanpa permisi.
Tapi tidak apa-apa. Aku tidak menyalahkanmu atas semua yang terjadi. Karena pada dasarnya, akulah orang yang terlalu cepat menjatuhkan hati kepadamu. Padahal tidak pernah ada janji yang kau tuai.
Aku hanya perlu belajar terbiasa bukan? Terbiasa tidak bertemu denganmu, terbiasa tidak berbicara denganmu, dan terbiasa untuk tidak tertawa bersamamu lagi.
Terbiasa untuk tidak mengingat kenangan manis yang sempat kita ciptakan bersama. Misalnya seperti, saat kamu mendatangiku untuk memelukku saat aku menangis.
Aku juga yakin aku akan terbiasa untuk lupa semua tentangmu meskipun sulit.
Aku berharap kamu akan menemui aku dibagian kecil dalam ingatanmu jika berkenan. Tentang kenangan baik yang pernah ku semaikan dan terpatri dalam pikiranmu.
Senang bisa mengenalmu dari sekian banyak manusia yang ada di bumi nusantara. Berkatmu, aku tahu sosok pria yang aku inginkan, pastinya orang itu sebaik dirimu.
Bedanya, kali ini aku berharap dia juga mencintaiku.
Aku berharap diperjalananmu kali ini, kamu benar-benar mendapatkan sosok yang kamu inginkan.
Bagiku kamu adalah segalanya. Namun bagimu aku hanyalah segelintir manusia yang singgah namun bukan untuk tinggal.
Karena ada orang lain yang memang seharusnya tinggal untuk menemanimu. Seseorang yang namanya sudah terpatri dalam hatimu.