Eps. 10 Penghianatan dan Rahasia Masa Depan

1175 Words
“Sesepuh apa keputusan Anda sudah bulat, apa tidak terjadi peperangan besar bila, mengunakan kambing hitam dalam rencana kita.” ucap salah satu pria paruh baya yang masih belum sepenuhnya setuju dengan pimpinan kelompok mereka. Keputusan yang diambil pimpinan kelompok mereka bisa dibilang premature. Rencana yang tidak matang dan proses pengambilan kesimpulan hanya dengan menebak tanpa kepastian yang sepenuhnya benar. Mendengar pernyataan tersebut pria sepuh berwajah ramah ini hanya terseyum tipis. Sorot mata yang sayu ini seperti orang yang tidak memiliki ambisi apa pun di dunia. Namun berbeda dengan kenyataan yang sebenarnya. Ia adalah sosok pria yang ambisius dengan tujuan kelompoknya. Wajah yang penuh dengan kriput itu terseyum simpul, melirik lawan bicaranya dengan tajam, memberikan tatapan penuh keteguhan dan keyakinan yang dalam pada siapa pun yang memandangnya. Pria sepuh ini menghela nafas pelan, “ Jika sahaja Yang Mulia Kaisar mau bekerja sama dengan para pendukungnya tentu rencana ini tidak akan pernah terjadi, keegoisan dan ego yang begitu tinggi yang ia miliki akan membawa kehancuran kekaisaran Tang oleh mahluk siluman.” Pria sepuh yang memiliki wajah ramah itu bernama Liu Kang. Ia menjabat sebagai Penasehat kerajaan sekaligus sesepuh kerajaan karena dapat menerawang masa depan, ia pernah memberikan beberapa masukan kepada sang Kaisar. Dalam masukannya Penasehat kerajaan memohon kepada sang Kaisar untuk berbagi ilmu kitab tanpa tanding yang ia pelajari kepada para pengikutnya, agar bencana besar di kekaisaran Tang dapat teratasi. Mendengar masukan penasehat kerajaan bahwa kekaisaran Tang akan habis riwayatnya dalam beberapa tahun kedepan karena serangan bangsa Siluman. Dan solusi yang tepat untuk itu adalah dengan membuat para pengikutnya bisa menerobos tingkat Pendekar suci tahap Surga agar siap bertempur melawan gelombang tersebut. Tang San sendiri mengabaikan nasihat tersebut, ia sendiri takut jika banyak orang mempelajari kitab tersebut maka akan ada banyak kubu yang akan saling bertentangan untuk memperebutkan kekuasaan di kekaisaran Tang. Ia lebih berpikir menjadikan dirinya yang paling kuat di kekaisaran agar semua orang tunduk dan patuh kepadanya. Risiko penghianatan juga semakin kecil karena dengan kekuatan terkuat, siapa pun juga akan segan untuk berhianat. Lain halnya dengan kekuatan yang setara, beda pendapat sedikit sahaja mampu membuat dua kubu yang semula bersatu terbelah menjadi dua, karena merasa ingin menang dengan pendapat yang disanggahnya. “ Bukankah kau sendiri dengar laporan yang pasukan kita terima, anak kecil berusia tujuh belas tahun dapat dengan mudah mengimbangi pendekar Suci yang baru membuka lima gerbang. Kau sendiri juga tahu penampakan fisik yang tidak biasa itu. Apa masih kurang bukti bahwa Kitab tanpa tanding sekarang berada pada Permiasuri dan Pangeran Mahkota. ” lanjut pria sepuh. “ Aku paham akan hal itu, tapi risiko yang kita ambil bisa membuat kita menjadi musuh orang terkuat dalam kekaisaran dan musuh dari Putra Mahkota terdahulu.” ucap pria paruh baya dengan intonasi rendah seperti tidak ada kepercayaan diri dalam hidupnya. “ Orang yang tidak mau mengambil risiko! tidak melakukan apa-apa, tidak punya apa-apa dan bukan siapa-siapa. Apa kau lupa dengan tujuan organisasi kita.” ucap kesal pria sepuh ini dengan nada tinggi di awal kalimat. Menjadikan Putra Mahkota yang dulu sebagai kambing hitam adalah rencana Penasehat kerajaan. Demi memuluskan segala rencananya, Liu Kang sudah siap dengan segala risiko. Termasuk menjadikan seluruh kelompok di kekaisaran menjadi musuhnya. Begitu ia mengetahui lokasi Permaisuri, ia beserta kelompoknya menyusun siasat dan langsung memutuskan untuk menjadikan Putra Mahkota terdahulu sebagai kambing hitam. Mendengar penjelasan Penasehat kerajaan, pria paruh baya itu tidak membantah dan atau pun membahas lebih. Ia memilih untuk diam dan mengolah setiap perkataan yang diucapkan ketua kelompoknya, ia merasa seperti murid yang baru mendapatkan sebuah motivasi baru dalam kehidupan. “ Bila Kaisar sudah sampai ditempat ini dan kita belum mendaptkan Kitab tanpa tanding itu maka lanjutkan rencana cadangan, siapkan para kambing hitam untuk menutupi kita dari depan.” Para kambing hitam itu adalah antek-antek Putra Mahkota terdahulu yang mau di bayar lebih oleh Penasehat kerajaan untuk menutupi kasus yang akan dibuatnya. “Laksanakan perintah ketua. ” seru pria paruh baya ini sebelum melesat terbang dengan kecepatan tinggi. ***** Dou Jin dan ibunya sedang berbincang-bincang seperti biasa di malam hari. Beberapa masukan dan cerita tentang ayahnya menjadi sebuah dongeng penghantar tidur untuk Dou Jin, setelah seharian penuh melakukan latih tanding. Permaisuri menatap tidur putranya dengan perasaan sedih. Entah mengapa ia merasa ramalan sesepuh penasehat kerajaan sepertinya akan meleset. Kenyataan yang sebenarnya akan keadaan Dou Jin yang tidak memiliki akar roh membuatnya merasa ramalan itu seperti omong kosong. Namun ia tidak membiarkan hatinya larut dalam keputusasaan, ia memilih percaya dengan harapan dibandingkan dengan kenyataan pahit yang menyakiti hati. Jelas ada harapan dan ada cara untuk mengatasi masalah akar roh yang menjadi permasalahan setiap pendekar. Dengan ketahanan fisik yang luar biasa, serta jurus beladiri yang mampu mengimbangi pendekar tingkat Suci yang telah membuka beberapa gerbang. Memberikan setitik harapan untuk Permaisuri agar tetap yakin bahwa anaknya yang diramakankan akan menjadi sosok Kaisar yang besar akan terlaksana. Permaisuri merasa sangat nyaman di perjalanan, ia sangat menikmati pelarian ini. Seluruh pasukannya ia kenal semua. Mereka adalah para anggota pasukan elit yang kerap menjaganya berpergian sewaktu masih di dalam istana. Tingkatan pendekar yang tinggi membuat ibu satu anak ini merasa cukup nyaman dan aman karena dengan perlindungan Pendekar tingkat Suci tahap Bumi, tentu sedikit sekali orang pendekar yang akan mengimbanginya. Mengingat tingkatan Pendekar Suci tahap Bumi masih sangat sedikit ditemui di kekaisaran Tang, rata-rata dari pedekar tingkat tinggi di kekaisaran ini berada di tingkat pendekar Suci yang baru membuka beberapa gerbang. Waktu terus berlalu dan rutinitas dalam perjalanan akhirnya sebenatar lagi akan usai. Mengingat tidak akan lama lagi bagi rombongan ini akan sampai di tempat yang mereka tuju. Tinggal menghitung beberapa jam lagi bagi mereka untuk sampai di lokasi tujuan. Sebab lokasi yang sudah dekat, memaksa rutinitas yang biasa mereka kerjakan harus mereka tinggalkan. Rutinitas Dou Jin yang berlatih tanding di pagi hari harus ditunda karena mereka berniat sampai di lokasi tujuan pada sore hari. Sepasukan berbaju hitam berlari dengan kecepatan penuhnya. Dengan ilmu meringankan tubuh yang terdapat pada kitab silat tanpa tanding, Dou Jin tidak kesulitan untuk mengimbangi para pendekar tingkat tinggi yang berlari dengan menggunkan tenaga dalam. Sesaat sebelum sampai di lokasi sang Ibu mencium sesuatu yang jangal dalam pelarian ini, ia merasa ada beberapa anggota baru yang masuk dan ada setidaknya satu sampai dua orang pasukan pengawal yang ia kenali tiba-tiba menghilang. Menuruti insting kehidupan pendekar yang sudah lebih dari dua puluh tahun ia pelajari, ada sebuah unsur penghianatan yang tersembunyi. Permaisuri memberikan sebuah pesan kode kepada Dou Jin dengan menggunakan jari tangan. Pesan kode tersebut hanya kedua orang ini yang tahu. Kode rahasia dalam sandi tangan telah Permaisuri ajarkan kepada Dou Jin sewaktu masih di Desa Perbatasan Dalam kode sandi tangan tersebut, Permaisuri memberitahukan Dou Jin apa yang ia rencanakan. “ Jin’er kita dijebak, Ibu akan mengalihkan perhatian mereka sebisa mungkin kau harus bertahan hidup dan jangan sampai kitab itu jatuh ke tangan orang lain.” Dou Jin menggertakan giginya geram, ia meremas kepalan tangannya dengan sangat keras. Matanya melebar saat sang Ibu memberikan sebuah kode yang hanya dia tahu. “ Sialan, dengan puluhan pendekar tingkat tinggi seperti itu apa ibu akan mampu mengimbangi mereka semua. ” batin Dou Jin berdecak kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD