Eps. 28 Harta yang berjalan

1370 Words
Se Hun tidak menganggap remah Dou Jin dan rombongannya, ia tahu hanya orang-orang tertentu sahaja yang mau membeli kitab dan senjata pusaka di lantai empat. Dengan kualitas menengah sahaja harga yang dibandrol mencapai puluhan juta keeping emas, sedangkan untuk kualitas tinggi seharga ratusan juta keping emas. Se Hun memandu Dou Jin melihat seluruh stand yang berada di lantai empat, ia menjelaskan tingkatan-tingkatan senjata untuk pendekar sebagi basa-basi agar tidak canggung. Meskipun hal tersebut umum diketahui oleh para pendekar Se Hun tetap menjelaskanya sebagai formalitas. Senjata di bagi menjadi empat tingat; senjata kelas rendah, senjata kelas menengah, senjata kelas tinggi dan senjata pusaka dan untuk kitab juga dibagi menjadi empat; kitab kelas rendah, kitab kelas menengah, kitab kelas tinggi dan kitab pusaka. Se Hun juga menambahkan Kitab tanpa tanding dan Pusaka pengusa dunia yang di pegang oleh Kaisar Tang, ia menjelaskan Kitab dan Pusaka tersebut diberikan langsung oleh Dewa sebagai contoh tingkatan tertinggi kitab silat dan senjata pusaka. Jika sahaja Se Hun mengetahui bahawa pria yang sedang diajak bicaranya saat ini memegang kitab pusaka 'Kitab tanpa tanding' dari Dewa, sudah pasti ia akan merebutnya dari tangan Dou Jin. Dengan penjelasan yang detail dan menarik Se Hun sebagai pemandu jalan menampilkan pembawaan yang membuat Dou Jin dan Su Quan senang dan paham atas penjelasannya. “ Ketua Su, kalian berenam memakai senjata apa sahaja. Sekalian berada di toko senjata aku akan membelikan kalian semua. ” ucap Dou Jin memandang puluhan senjata yang berjejal di dinding. Melupakan alasan utama mereka pergi ke kota, Su Quan terbuai dengan perkataan Dou Jin yang berniat membelikan senjata pusaka. “ Boss kami memakai senjata...” Ucap Su Quan penuh semangat, ia sendiri saat ini hanya memakai senjata kelas menengah, tahu bahwa bosnya akan memberikannya senjata pusaka, Su Quan menjadi sangat antusias dan penuh semangat. Menurut ucapan Su Quan, Dou Jin harus membeli dua pedang panjang, dua tombak dan dua pedang kecil. Tiga pedang panjang untuk pemimpin kedua, dua tombak untuk pemimpin ketiga dan dua pedang kecil untuk pemimpin pertama. “ Ketua Se, pilihkan semua senjata terkuat dan kitab yang sesuai dengan pengunaan senjata yang disebuatkan barusan.” “ Kesebelah sini…” seru Se Hun tersnyum ramah, jika transaksi kali ini berhasil maka keuntungan toko Pavilun Bunga Suci ini akan sangat besar. Se Hun yang mengetahui hal tersebut bertambah semangatnya dan semakin antusias dalam memandu jalan. Su Quan sendiri berbinar-binar matanya, ia sudah tidak sabar untuk mendapkan senjata pusaka, merasakan senjata kelas tinggi sahaja ia belum pernah. Begitu tahu ia akan mendapatkan senjata pusaka, ia sangat girang seperti seorang anak kecil yang akan diberikan mainan baru. Satu jam penuh Se Hun memberikan keterangan dan berbagai penjelasan akan kitab dan pusaka yang akan dibeli oleh Dou Jin, ia memberikan berbagai opsi pilihan akan kitab dan pusaka yang ia jelaskan. Ditingkatan yang sama, tapi memiliki bentuk yang berbeda untuk setiap senjata, Dou Jin sendiri meminta Su Quan sendiri untuk memilih dan lepas tangan akan bentuk yang akan dipilihnya. Su Quan bingung, ia yang begitu senang sampai merasa semua senjata yang ada dihadapnya ingin ia miliki semuanya, Dou Jin tersenyum cangung melihat gerak-gerik Su Quan yang terkesan seperti anak kecil yang diminta orang tuanya untuk membeli mainan. Setelah cukup lama memilih akhirnya, Su Quan mengambil keputusan ia memilih dengan cukup jeli keenam senjata pusaka untuk para petinggi bandit, bentuknya sesuai dengan seleranya. Entah apakah akan suka atau tidak para pemimpin bandit yang lain atas senjata yang dipilih olehnya. Dou Jin sendiri tidak peduli akan hal tersebut. Untuk urusan Kitab silat, Dou Jin sendiri yang memilihnya. Dengan pemahamannya akan Kitab Tanpa Tanding yang ia miliki, ia memilih kitab yang sedikit memilki kekurangan, mengingat kitab itu dibuat oleh manusia jadi akan ada banyak kekuarangan disetiap jurusnya. Setelah memilih tiga kitab yang sesuai dengan pengunaan senjata setiap ketua bandit, Dou Jin melakukan pembayaran di kasir, Se Hun dan Su Quan melebarkan matanya menyaksikan betapa kayanya Dou Jin. Jumlah keseluruhan yang harus dibayar Dou Jin adalah tiga ribu juta keping emas, itu juga sudah mendaptkan kortingan sebesar seratus juta keping emas. “ Totalnya tiga ribu juta keping emas, Tuan muda,” seru seorang wanita muda yang menjabat sebagai kasir. “ Ini, Nona. Biasa Anda priksa kembali jumlahnya,” ucap Dou Jin menyodorkan setumpuk uang kertas yang senilai sepuluh ribu juta keping emas. “ Maaf Tuan muda ini kelebihan tujuh ribu juta,” kata Kasir memisahkan uang lebih di sisi kiri meja. “ Hahaha, maaf Nona. Aku sedikit kesulitan menghitung. Di dalam cicin ruangku uang kertas seperti ini begitu banyak sehingga sulit menghitung dalam jumlah yang pas,” tawa Dou Jin terbahak-bahak melihat ekspresi Su Quan dan Se Hun yang melotot terkejut melihatnya dengan mudah mengeluarkan uang sebanyak itu. “ Seberapa kaya sebanarnya Boss besar?” batin Su Quan bertanya-tanya. Di samping Su Quan, Se Hun memandang Dou Jin penuh maksud. Begitu selesai melakukan pembayaran, Dou Jin dan Su Quan lekas pergi meninggalkan toko tersebut. Mereka kemudian menuju sebuah rumah makan yang terletak tidak jauh di dari toko senjata yang baru mereka kunjungi. Suasana rumah makan yang sangat ramai, di rumah makan tersebut terdapat dua lantai yang berbeda, dan pastinya harga untuk lantai dua tentu lebih mahal. Dengan kualitas makanan dan menu yang berbeda, lantai kedua menyajikan makanan yang sangat lezat, namun harga makanan tersebut selaras dengan rasa yang diberikan. Seperti biasa Dou Jin akan memilih tempat terbaik, ia naik keatas lantai ke dua dengan Su Quan. Dou Jin yang baru pertama kali masuk dan makan di restoran merasa takjub dengan ruangan mewah dan makanan yang disajikan. Su Quan yang tahu boss besarnya adalah orang kaya, ia tidak tanggung-tanggung dalam memesan makanan, ia meilih makanan terbaik dengan harga yang termahal. Selagi ada kesempatan dalam hidupnya untuk menikmati makanan kelas orang elit, mengapa tidak. “ Hehehhe, sunguh beruntung diriku ini. Datang Boss baru dapat senjata pusaka dan makan di tempat mewah seperti ini. ” batin Su Quan sambil terseyum penuh kepuasan. Jika seluruh ketua bandit tahu, mereka makan di tempat ini sudah pasti mereka akan iri dengan Su Quan. Mengingat tempat makan ini adalah restoran terhamal di kota dengan makan terlezat yang hanya bisa di makan kalangan elit sahaja. Dalam pikiranya, Su Quan tidak pernah berhayal untuk makan di tempat semewah ini, pekerjaanya yang sebagai seorang bandit membuatnya tidak berani bermimipi atau berharap bisa makan di restoran mewah. Mengingat pendapatanya akan ia gunakan untuk keperluan kenaikan tingkat, dan sisanya hanya untuk makan di rumah makan kecil di pinggir jalan yang menyajikan makanan murah. Membuat Su Quan tidak berani bermimpi untuk makan di tempat seperti ini. Su Quan begitu gembira saat Bossnya mengajaknya makan di tenpat orang-orang kaya. Untuk naik ke lantai dua sahaja ia harus mengeluarkan biaya sebesar seribu keping emas dan setiap makannya di bandrol dengan harga lima ribu sampai puluhan ribu keping emas. Puluhan jenis makanan tersaji di meja besar yang berisi dua orang, Dou Jin menatap makanan tersebut penuh selera, bagaimanapun juga ini adalah kali pertamanaya ia makan seperti manusia normal. Belasan tahun ia hidup dihutan dengan makan ikan bakar, rusa bakar dan sesekali ayam atau kelinci bakar membuatnya merasa girang dan tidak kalah girangnya dengan Su Quan. Mereka langsung menyantap makanan yang berada dihadapan mereka seperti orang yang tidak makan selama puluhan tahun, sangat lahap dan terlihat rakus. Su Quan yang terbiasa makan mengunakan sendok sekarang mengikuti bossnya, makan menggunakan kedua tangan. Semua mata yang berada di lantai dua mentap Dou Jin dan Su Quan seperti orang barbar yang tidak pernah makan di rumah makan mewah, kurang dari satu jam mereka sudah menghabiskan makanan yang tersaji. Merasa kurang puas mereka lagi menambah pesanan makanannya, “ Ketua Su, apa kau masih sanggup untuk ronde kedua?” tanya Dou Jin sambil membersikan sisa-sisa makanan di mulutnya. Su Qun yang penuh mulutnya dengan makanan mentap Dou Jin dengan pandangan heran, “ Apa Boss besar tidak memiliki lambung? Makanan sebanyak ini belum cukup untuk membuatnya kenyang,” batin Su Quan seraya menggelengkan kepala pelan. Merasa Bossnya ingin makan lagi Su Quan ingin menemaninya sebagai tanda penghormatan, lagi pula ia juga masih sedikit lagi mampu untuk makan beberapa suap makanan. Tanpa Su Quan sadari rombonganya telah diikuti puluhan pendekar tingkat tinggi yang selalu mengawasi mereka, “ Setelah mereka keluar dari restoran pastikan kalian harus mendapatkan cincin sepesial dari pemuda itu, dia adalah harta yang berjalan asalkan kalian tahu.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD