cintaku guruku ayah dari anak ku episode dua

916 Words
Kini aku berada di dalam kamar tidu.r ku tepat d iatas kasur sambil tengkurap an memperhatikan notebook kesayangan ku yang didalam layarnya adalah foto-foto sexy pak Rei , aku terus me-scroll meliahat satu demi satu album yang ada di IG pak Rei ya karena dri sore tadi aku mendapat ide berlian mengikuti dan memfollow IG beliau . Alhasil usaha ku tak sia-sia karena kini aku disuguhkan dengan salah satu foto beliau bertelanjang dada dan kancing celana sengaja dibuka dan pose seakan-akan ingin melepas celana dan tak lupa dengan rambut yang basah dan berantakan semakin membuat dia makin tampan yang mampu menghipnotis ku dengan badan tegap pak Rei dada bidang , perut kotak-kotak , bahu dan pergelangan tangan yang besar kokoh berotot yang membuat imajinasi ku liar mengkhayal digendong oleh pemilik lengan yang kini ku pandangi didepan layar notebook ku , karena keasyikan memperhatikan foto-foto pak rei yang bak model papan atas ya beliau memang pantas dan ku rasa lebih cocok jadi model perlahan tanpa aku sadari sudah lewat tengah malam membuat mataku terasa berat dan lelah tapi tak membuatku patah semangat memandangi maha karya Tuhan yang begitu luar biasa didepan ku ini . Hah ini mimpi bukan sih , kenapa pak Rei menggendongku . tunggu-tunggu ini mas Rei menggendongku mau kemana , perasaan ini bukan mau menuju ke kamar ku , ini tempat asing ahh aku tak peduli yang penting aku bisa berduaan dan bisa sedekat ini dengan mas Rei . Ahh tunggu sejak kapan kami akrab kenalan saja tidak pernah tapi kok bisa sedekat ini sih . lagi-lagi aku tak memperdulikan karena kini aku merasa muka ku memanas karena malu dipandangi oleh pak Rei se intens dan sedekat ini pula . pak Rei sunguh pintar mengobrak-abrik kan persaan ku , bagaiman tidak kacau jantung ku dibuat berdegup kencang sekali dan aku takut sekaligus malu jika pak Rei kesayangan ku ini bisa mendengarnya . Kini aku hanya bisa menutup dan menyembunyikan muka dan kepala ku didada bidang dan dekat keteknya yang wangi ( misalkan bau pun aku tak peduli hahaha). kini kami sudah tiba disebuah kamar entah kamar siapa , perlahan namun pasti pak Rei menurunkan dari gendongannya ke atas ranjang dengan lembut , tangan kanannya membelai pipiku dengan penuh mesra membuat pipiku seakan meleleh bagai larva hanya karena sentuhannya dan tangan kirinya sedikit bertumpu diatas kasur agar menahan tubuhnya tidak jatuh . Rei:" kamu manis sekali " Leon:" pap..paa..pakk anda mau apa ?" ucapku dengan gugup dan terbata-bata Rei:" panggil saya mas kek Abang kek at biar akrab gitu , jangan panggil saya bapak kesannya saya berasa tua banget atau kamu mau panggi apa saja asal jangan bapak kecuali disekolahan" Aku sengguh terperanjat mendengar kata-katanya barusan lalu membatin sekejap kemudian "atau suami" ucapku dalam hati. Leon:" maaf pak eh maksud saya suami" menyadari kebodohanku aku langsung mengkoreksi dengan cara menutup mulutku yang tidak bisa aku kontrol oleh atmosfer yang terasa menyiksa tapi enggan berhenti. Rei:" apa kamu bilang , coba ulang sekali lagi aku ingin dengar?" ucapnya semakin menunduk mendekatkan wajahnya yang semakin terlihat tampan jika dilihat dari jarak sedekat ini , aku menyadari nafas kami bertemu dan sialnya nafasnya begitu hangat menggelitik sampai ke saraf yang paling sensitif. Leon:" ehh apaan sih mass "ucapku dengan gugup dan bunyi jantung ku berirama begitu cepat seakan habis berlari-larian , dan dengan cepat aku memalingkan mukaku kesamping Rei:" tidak , aku yakin tadi tidak salah dengar, coba kamu ulang lagi" ucapnya sambil menghadapkan kembali wajahku menghadap wajahnya dan dengan nada memohon yang entah kenapa terdengar begitu lembut dikedua telinga ku membuat ku merinding . Leon:" iya mas suami..." ucapku pasrah dan kehilangan setengah akal sehatku. Ku lihat sekilas mas Rei tersenyum menang bahagia dan terlihat tulus dan sialnya membuatku hampir gila karena sesuatu yang jebol dari kedalaman sanubari sana. Rei :" kalo begitu apakah kamu tahu apa yang akan dilakukan sepasang suami istri diatas ranjang ?" bisiknya kini tepat disamping telinga ku , entah kenapa bisikan nya seperti sebuah godaan yang aku tak yakin aku akan mampu menolak nya. cuup kecup bibirnya dijidatku dengan lembut , tangan kanannya masih setia membelai pipiku yang aku yakin kian memerah seperti kepiting rebus sedangkan tangan kirinya kini memerangkap kedua tanganku diatas kepala kami . cuup kecupnya lagi tepat dibibir ku , kini bibir kami bertemu dia mencium ku begitu lembut penuh kasih sayang mencumbu bibir bawah dan bibir atasku bergantian . aku yang sebelumnya tak pernah berciuman benar-benar diam dan berinisiatif membuka mulutku bermaksud ingin melakukan hal yang serupa tapi tiba-tiba aku dikejutkan oleh lidahnya yang masuk kedalam rongga mulutku . Aku merasa sesak nafas seperti kekurangan oksigen . Aku semakin susah bernafas kala menyadari sesuatu benda yang bergesekan dibawah sana ya benda itu adalah milik dan milik mas Rei yang mengeras tapi masih terhalang oleh celana kami masing-masing, tapi aku mersa benjolan milik mas Rei didalam celananya benar-benar begitu besar ya karena aku bisa merasakan lewat gesekan yang dilakukan mas Rei. Leon:" Akhhhhhhhhhhhh.............." desahan ku kini lolos keluar setelah sekian aku tahan-tahan ketika mas Rei-ku mengecup dan menjilati leherku . entah dari mana aku sayup-sayup mendengar bunyi orang menggedor suatu benda entah apa itu. Tok .. tok.. tokk.. dor..door...doorrr..., bunyinya semakin keras ku dengar , " woiii Leon alazkaaa cepat bangun apa yang kamu lakukan ini sudah hampir telat sekolah , kamu mau bolos hahhh " teriak mama melengking khas nya dari luar kamarku dan kesadaran ku pun pulih seketika . Sial ini mimpi ternyata , eh tunggu kenapa sprei nya basah . apa aku mimpi basah ?" Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD