Rasa (Yang Sulit Diungkapkan)

2027 Words
Pagi ini tidak seperti biasanya, Renata merasakan malas yang amat sangat untuk pergi bekerja. Bukan tanpa sebab, ia hanya belum siap kembali bertemu dengan bosnya yang sekaligus adalah pria yang orang tuanya jodohkan. Mengingat kejadian beberapa hari lalu, tepat tiga hari setelah dirinya dan Keynaru bertemu di kediaman Syie. Bahkan sampai saat ini tidak ada satupun chat dari Safanah maupun Inka yang menanyakan kabar dirinya. Meminta izin untuk tidak masuk kerja selama dua hari, memohon untuk tidak di ganggu oleh siapapun. Nyatanya itu berhasil. Bahkan saat Keynaru datang ke rumah untuk melihat kondisi sang gadis, dengan gagah pria yang tak lain adalah kakak kandung dari Renata menentang keras permintaan Keynaru untuk bertemu sang adik tercinta. Nathan memberitahu kepada Keynaru bahwa Renata sedang tidak ingin di ganggu. Bukan tanpa alasan, Nathan sangat mengetahui sifat sang adik. Jika Renata telah mengatakan bahwa dirinya ingin beristirahat dan tidak ingin di ganggu berarti sang adik sedang dalam masalah yang rumit, kadang hal itu terjadi jika sang gadis sedang merasa bingung dengan apa yang akan ia pilih. Dengan berat hati Keynaru hanya mampu menuruti apa yang Nathan katakan, padahal dirinya hanya khawatir kepada gadis yang tak lain adalah sekretarisnya di kantor. Berjalan tanpa minat menuju ruangan yang bahkan sebenarnya sangat ingin ia hindari, mengetuk perlahan lalu membukanya. Renata sempat menarik napas panjang saat pintu ruangan sudah setengahnya terbuka. Hembusan napas lega terdengar dari sang gadis, ruangan itu masih kosong. Pemiliknya belumlah datang. "Sampai kapan terus berdiri menghalangi?" Belum ada satu menit ia menghela napas lega nyatanya kini dirinya harus kembali menarik napas kasar. Renata jelas tahu siapa pria yang berdiri di belakang tubuhnya, bukan tidak sopan karena tidak langsung membalikan tubuhnya. Renata harus berkali-kali menarik napas, mengatur emosi serta mood yang ia miliki. Setelah beberapa jam lalu bertarung dengan moodnya sendiri karena Renata masih enggan untuk pergi ke kantor, namun ucapan Nathan sungguh membuat Renata harus berpikir berulang kali jika ia tidak berangkat kali ini. "Kalau kau terus seperti ini, nanti pernikahanmu akan di percepat." Terus terngiang di dalam pikirannya, berputar layaknya kaset rusak yang tidak dapat di hentikan. Renata harus mengubur rasa malasnya kali ini, malas bertemu dengan pria yang bahkan sekarang tidak bergerak sama sekali di belakang tubuh Renata. Sedikit bergeser dari posisinya semula, Renata lalu memandang pria yang ternyata telah menatapnya. Tersenyum yang terlihat di paksakan terlihat dari wajah cantik sang gadis. "Silahkan." Ucapnya dengan senyum yang tidak terlihat tulus. Namun bukannya berjalan maju, pria itu tidak bergerak sedikitpun dari posisinya. Namun wajahnya lama kelamaan semakin mendekat ke arah Renata, membuat sang gadis tersentak lalu dengan reflek memundurkan kepalanya. "Ja-jangan aneh-aneh.." "Siapa?" Ucap pria yang tak lain adalah Keynaru. "Menjauh." "Siapa?" Kembali pertanyaan itu yang sang pria lontarkan. Renata tidak mampu berkutik, bahkan wajah keduanya hanya terpaut 20 centimeter saja. Renata sangat takut jika nanti ada karyawan yang melihat mereka dalam posisi seperti sekarang ini. "Ka-kau.." ucapnya sedikit gagap. "Salah." Ucap Keynaru lalu menjauhkan wajahnya, namun kedua tangan kekar itu seketika mengurung gadis mungil yang berada di hadapannya. "Jangan gila!" Ketus Renata, dirinya sudah sangat kesal dengan sikap pria yang sekarang bahkan tetap menatap dirinya. "Aku akan teriak." "Teriak saja." "Ru!" "Apa yang salah dari diri ku?" "A-apa?" Tanya Renata tidak mengerti, dirinya sangat bingung dengan pertanyaan yang Keynaru ucapkan. "Kenapa kau menjauh?" "Aku tidak.. aku hanya sedang ingin sendiri, aku lelah.." "Kau bohong." "Terserah jika kau tidak percaya." "Aku pria yang tidak mudah percaya." "Lalu? Apa urusannya denganku?" "Karena aku pernah di khianati karena terlalu percaya dengan seseorang." Melepaskan kurungannya terhadap Renata, Keynaru lalu berjalan menjauh dari sang gadis masuk ke dalam ruangan kerjanya. Renata yang masih bergeming pada tempatnya lalu mencoba mencerna apa yang sang pria katakan. Persekian detik sang gadis hanya diam lalu dirinya sadar bahwa Keynaru sudah terduduk di meja kerjanya. Dengan sekejap Renata lalu bergegas masuk ke dalam ruangan yang sama dengan sang pria, menuju meja kerja yang tidak terlalu jauh dengan meja kerja Keynaru. Belasan menit telah berlalu, tidak ada percakapan di antara keduanya mereka sama-sama sibuk dengan pekerjaan milik mereka masing-masing. Namun ketukan membuyarkan konsentrasi Renata, lalu kepala mungil sang gadis terangkat. Terlihat seorang gadis mungkin lebih tua beberapa tahun dari dirinya, berjalan menuju meja kerja Keynaru. "Permisi pak." Gadis itu sangat cantik, namun bukan itu yang menjadi pusat perhatian Renata. Dirinya terus saja membuang napas kasar kala melihat rok span yang gadis itu kenakan. "Hn." "Ini laporan yang bapak minta." Ucapnya dengan lembut dan sangat sopan. Renata dapat dengan jelas melihat bahwa gadis di depannya memiliki perasaan kepada pria yang sedang fokus dengan berkas yang berada di tangannya. Sesekali sang gadis berambut sebahu itu tersenyum ke arah Keynaru, senyum yang begitu penuh arti. "Hei." "Iya pak." "Kau rabun?" Bola mata yang sebelumnya memancarkan ketertarikan pada pria yang ada di hadapannya kini berubah menjadi tatapan tidak terima. Tidak terima dengan apa yang Keynaru katakan. "Bodoh sekali. Kau belajar dengan benar tidak?! Kau lihat ini.." ucap sang pria lalu menunjuk satu tulisan di atas kertas putih. "Bagaimana ini bisa jadi di sini, Hah!?" Menatap gadis yang ternyata masih menatapnya. "Kenapa? Tidak terima aku sebut kau bodoh?" Tatapan yang sebelumnya memancarkan ketidakterimaan sedikit demi sedikit meredup. Kepala sang gadis yang masih bergeming pada duduknya menggeleng perlahan. "Bodoh!" "Kau bodoh atau tidak?" Lanjutnya. "Kalau kau tidak bodoh itu jawab." "Ti-tidak pak." "Lalu kenapa bisa salah?" "Sa-saya ceroboh. Akan saya revisi secepatnya." "Tidak perlu kau bilang itu memang sudah tugasmu." "Segera selesaikan." Gadis itu lalu berdiri dari kursinya, menunduk sedikit ke arah Keynaru "baik pak." Lalu bergegas ingin meninggalkan ruangan Direktur. Namun belum ada lima langkah gadis itu menuju pintu keluar, Keynaru kembali memanggil sang gadis. "Oii.." "I-iya pak." "Kau tidak malu?" Tatapan tidak mengerti terpancar dari mata indah sang gadis. "Secara tidak langsung kau telah menjual tubuhmu kepada laki-laki yang dengan sengaja menatap dirimu, baju seketat itu dan rok span sepaha.. kau mau bekerja di kantor atau.." menghentikan ucapannya lalu Keynaru menatap Renata yang ternyata telah menatap dirinya tanpa sengaja. "Keluar sekarang!" Ucap Keynaru kepada gadis yang kini telah benar-benar meninggalkan ruangan itu. Sang pria lalu segera mengalihkan pandangannya ke arah berkas yang masih menumpuk di hadapannya, ia takut salah berucap dan kembali menyinggung perasaan Renata. Walaupun bukan Renata yang ia maksud namun dirinya juga seorang gadis, Keynaru tidak mau di anggap merendahkan seorang perempuan apalagi di depan Renata. Keadaan kembali hening, tak ada obrolan satu sama lain. Gadis berwajah baby face itu tidak berniat membuka topik dan pria berparas tampan yang masih fokus dengan berkasnya yang menggunung tidak ingin memulai pembicaraan. Mereka sama-sama diam. ** Pukul empat sore beberapa karyawan sudah mulai membereskan mejanya, namun ada pula yang masih berkecimpung dengan pekerjaannya terlihat juga mereka yang sesekali terus menarik napas berat. Ya, mereka harus lembur. Di ruangan yang terlihat luas itu masih lengkap dua insan yang tak saling membuka kata, fokus dengan pekerjaannya masing-masing. Hembusan napas lega terdengar dari sang pria, Keynaru telah menyelesaikan tugasnya hari ini. Melirik sekilas pada Renata yang sepertinya masih fokus pada laptop di hadapannya, Keynaru lalu berdiri berjalan perlahan menuju sang gadis. "Belum selesai?" "Belum." Ucap Renata tanpa melihat wajah Keynaru. "Nat." "Hmm.." "Kau marah?" "Untuk?" "Kejadian beberapa hari lalu." "Yang mana?" Terdengar hembusan napas kasar dari pria yang masih berdiri di sisi meja kerjanya. "Nat." "Hmm.." "Lihat aku." Mengangkat wajahnya, kini Renata dapat melihat dengan jelas raut wajah Keynaru yang bahkan tidak dapat Renata mengerti. "Ada apa?" "Aku sungguh-sungguh." Ucap Keynaru. "Untuk?" "Memulainya dengan dirimu." Renata terdiam, sempat berpikir untuk menjawabnya namun ia lebih memilih untuk diam. "Nat aku serius." "Apakah aku terlihat sebodoh dan segampang itu buat mu?" "Hah?" "Aku tau kamu nggak seserius itu Ru, kamu mencari pengganti.. meskipun sakit yang kita rasakan sama nyatanya kamu cuma mencari pengganti agar terlihat bahwa kamu mampu melupakan dia kan?" Keynaru yang mendengar itu hanya diam, apa yang Renata ucapkan kepada Keynaru benar adanya. Dirinya tidak ingin terlihat hancur karena kehilangan Sela, dan berpikir bahwa dengan mendapatkan pengganti akan membuat Keynaru terlihat bahwa dia mampu hidup meskipun tanpa Sela. "Aku nggak tau siapa perempuan itu, aku nggak tau apa yang terjadi di antara kalian.. tapi satu yang harus kamu tau Ru." Menutup laptop yang telah dirinya turn off, Renata lalu mengambil tasnya yang berada di atas meja. "Jangan jadikan aku sebagai pelarianmu." Seperti tertampar oleh kenyataan, Keynaru tetap bergeming pada tempatnya meskipun Renata sudah meninggalkan ruangan beberapa menit lalu pria itu masih tetap sibuk bertarung dengan isi kepalanya. Merasakan bahwa apa yang Renata katakan adalah benar, Keynaru menjadi sadar dan semakin merasa bersalah kepada Renata. Meskipun nyatanya rasa cinta itu benar adanya, pertemuan singkat itu benar-benar membawa pengaruh besar terhadap dirinya meskipun tidak begitu terhadap sang gadis namun jujur saja jauh di lubuk hati yang paling dalam Keynaru membenarkan apa yang telah Renata katakan. Apa iya aku begitu? Terus mendesak sang gadis agar menerima cintanya, juga secara tidak langsung membuat Renata mau menerima perjodohan mereka meskipun Renata menerima itu karena tidak mau mengecewakan orang tuanya namun setelah mendengarnya langsung dari Renata bahwa dirinya tidak ingin hanya menjadi pelarian atas rasa sakit yang Keynaru rasakan membuat sang pria sungguh merasa bersalah. Dengan secepat kilat Keynaru mengambil jas yang sebelumnya ia sandarkan pada sandaran kursi, bergegas mengejar Renata yang telah keluar meninggalkan dirinya. "Nat!" Teriaknya kala melihat Renata hampir menutup pintu lift. Napas sang pria terengah-engah, Keynaru harus menyelesaikan kesalahpahaman yang ada di antara dirinya dan Renata. "Aku antar." Ucap Keynaru kala sudah memasuki lift. "Aku bisa pulang sendiri." Menggelengkan kepalanya "aku antar ya.." "Aku udah pesen ojol Ru, drivernya udah di bawah." "Nggak apa-apa nanti aku yang bayar, tapi kamu pulang sama aku." Menarik napas panjang, lalu menghembuskannya dengan kasar. Renata lalu menatap pria yang lebih tinggi di sampingnya. "Kenapasih?" "Kenapa apanya?" "Kenapa semua laki-laki itu egois?" "Aku nggak.. bukan gitu maksud ku Nat, aku cuma mau mastiin kamu pulang dengan selamat." "Aku bakal baik-baik aja kok naik ojol, dari dulu pun aku selalu naik ojol atau angkutan umum.. dan lihat, aku masih hidup dan baik-baik aja." "Kalau emang kamu bener-bener mau memulai semuanya dengan aku, stop buat aku mikir bahwa kamu sama aja dengan dia yang udah dengan tega ninggalin aku." Tak lama setelah Renata mengucapkan itu, pintu lift terbuka dengan sendirinya lalu dengan mantap sang gadis melangkahkan kakinya meninggalkan pria yang bahkan tidak bergerak sama sekali di dalam lift, terpaku menatap Renata yang terus menjauh. Namun setelah seperkian detik Keynaru mulai tersadar, benar apa yang Renata ucapakan bahwa dirinya harus bisa membuktikan kepada sang gadis kalau dia benar-benar tidak seperti yang Renata pikirkan. "Nat.." "Naatt.." Teriak Keynaru sedikit kencang kala melihat Renata sudah ingin memasuki mobil yang ia yakini adalah ojol yang sang gadis pesan. Menoleh ke arah suara yang memanggil namanya, Renata sungguh lelah terus menanggapi bos sekaligus pria yang entah benar atau tidak akan menjadi suaminya. "Aku antar." "Jangan keras kepala." Ucap Renata kepada Keynaru lalu sang gadis segera memasuki mobil yang pintunya sudah terbuka. "Jalan pak, alamatnya sudah ada kan ya?" "Sudah mbak." Ucap sang driver lalu mengangguk perlahan. Melihat mobil yang di tumpangi Renata sudah menjauh, sang pria langsung bergegas menuju mobil miliknya lalu tanpa pikir panjang segera menginjak gas agar bisa menyusul mobil ojol yang ada Renata di dalamnya. "Kalau kamu nggak mau pulang bareng aku, seenggaknya aku bisa tau kamu aman sampai rumah." Ucap sang pria pada dirinyanya. "Ternyata kesan aku di mata kamu nggak sebagus yang aku bayangin ya." Terus mengikuti mobil berwarna silver di depannya, Keynaru terus bertanya dalam diam. Kenapa nggak dari dulu kita ketemu? Kenapa kesan pertama harus seperti ini? Kenapa kamu harus berpikir bahwa aku sama seperti dia yang udah tega ninggalin kamu? Kenapa susah sekali buat kamu jatuh cinta, padahal cukup hanya 1 menit kamu udah buat aku punya perasaan sama kamu. gak adil banget tau.. Menarik napas panjang, Keynaru masih terus fokus mengikuti mobil ojol yang Renata pesan. Rintik hujan mulai turun, dirinya semakin cemas karena terus bertarung dengan isi kepalanya sendiri. Aku nggak maksud jadiin kamu pelarian, aku cuma ngerasa kalau kita bisa sama-sama menguatkan. Setidaknya itulah yang harusnya Keynaru katakan, namun rasanya sangat sulit. Sulit untuk mengungkapkan bahwa rasa yang ia miliki bukanlah sesaat, rasa yang ia miliki bukanlah karena dirinya merasa bahwa dengan mendapat pengganti ia mampu melupakan Sela. Pria tampan itu benar-benar mencintai gadis rumit yang tak lain adalah Renata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD