Hari-hari Fanny berjalan seperti biasa. Datang ke sekolah, mengerjakan tugas prakteknya lagi dan pulang. Tapi hari-hari cewek itu memjadi lebih berwarna karena sepertinya dia mulai tertarik untuk berinteraksi dengan Yuuada. Cowok yang dia kenal sejak awal masuk SMKN 109.
Cowok yang hampir selalu meng-ngechatnya setiap hari. Entah hanya untuk membalas ststus w******p milik Fanny. Atau untuk menanyakan kepentingan tugas sekolah. Itu karena walaupun kelas mereka berbeda, tapi semua pelajaran yang diberikan selalu sama. Tapi kadang kala gurunya beberapa ada yang berbeda.
Fanny jadi teringat kejadian tempo hari. Waktu kelas sepuluh semester pertama. Chatting yang benar-benar terlihat lucu baginya. Padahal dia yakin seratus persen kalau dirinya belum menyukai Yuuada saat itu.
Setahun yang lalu …
Room chat WhatsApp
Fan -Yuuada SMKN 109
Lo udah liat nilai bahasa Inggris belum? -Yuuada SMKN 109
Dua menit kemudian …
Hah? Belum tuh -Yuuada SMKN 109
Gila hoki banget Gue -Yuuada SMKN 109
Fanny tidak menjawab apa-apa. Dia hanya membacanya saja. Sekarang cewek manis yang poninya sudah diikat menjuntai ke atas bak pohon kelapa itu tersenyum-senyum sendiri.
Entah kenapa. Fanny sendiri juga tidak tahu alasannya. Tapi yang jelas adalah motto hidupnya yang sekarang adalah harus menutup pintu hati dengan bahan berlian. Agar kokoh dan tidak ada satu pun orang yang dapat mendobraknya.
Dia hanya merasa terlalu lelah dengan dunia percintaan sesama manusia. Sekarang ini, Fanny sudah mulai rajin menonton anime seperti saran ketua kelasnya waktu dulu. Entah mengapa itu terasa lebih mujur ketimbang dia harus berlarut-larut dalam menghabiskan jatah kesedihannya.
Dia merasa sangat terbantu dengan saran ketua kelasnya itu. Sekarang ini perlahan-lahan Zarid sudah mulai tergantikan posisinya dengan seseorang bertubuh kurus kecil bernama Luffy. Dia adalah tokoh utama dalam anime berjudul One Piece.
Fanny mempunyai pandangan tersendiri terhadap cowok gepeng bernama Luffy itu. Dia merasa kalau Luffy itu seseorang yang menarik. Buktinya saja saat awal menonton anime One Piece, Fanny merasa kalau Luffy adalah seseorang yang banyak omong besar tapi nihil hasil. Seperti pecundang. Dan tingkahnya yang keras kepala juga mau menang sendiri kerap membuat cewek manis itu emosi sendiri.
"Apaan sih! Kenapa juga Lo harus selalu menang?! Emang Lo siapa?!" Gumamnya pada saat itu saat menonton One Piece. Itu baru permulaan dari sembilan ratus lebih episode yang mungkin akan dia tonton selama masa healing.
Tapi, baru beberapa hari menonton, Fanny sudah dibuat jatuh cinta oleh sosok Luffy. Dia seperti seseorang yang sangat berpotensi tinggi juga orang yang sangat menarik. Berbeda dari cowok umumnya.
Gila, kan! Ketika kamu membenci seorang pria, maka bisa dipastikan kalau dalam waktu dekat ini kamu akan berubah seratus delapan puluh derajat.
Jadi tergila-gila padanya. Mendadak jatuh cinta padanya.
Entahlah. Fanny sendiri juga tidak tahu mengapa hukum alam yang berjalan di planet bernama Bumi ini seperti itu.
Lagi pula dia juga tidak peduli.
Masa bodo amat.
Cewek itu tidak suka memikirkan hal yang tidak penting. Hal yang akan menghabiskan waktunya. Lagi pula. Fanny sendiri juga mempunyai kesibukan dan tanggung jawab yang double sekarang.
Bekerja dan belajar.
Dua hal yang sama-sama rumit dan sibuk. Tapi menurutnya disinilah tantangan untuk melatih seberapa tangguh otaknya untuk mengatur agar dia tetap dapat nilai baik tapi juga pekerjannya tidak terbengkalai.
Kecuali jika handphonenya rusak total.
Cewek itu suka melakukan hal yang tidak biasa orang umumnya lakukan. Entah mengapa, dia suka berubah-ubah menjadi lebih baik versinya. Dia teguh, kokoh, juga sedang belajar menuju konsistensi yang sempurna.
.
.
.
.
.
.
.
Hari hari berganti begitu cepat. Tak terhitung berapa kali dia mengisi dan menggunakan kartu busway. Karena piket bengkel yang diwajibkan hanya seminggu dua kali. Itu karena PPKM masih terus berlanjut hingga Agustus ini.
Tugas-tugas dari wali kelasnya itu ternyata membuatnya sedikit kesusahan. Sering kali Fanny merepotkan Inkan. Walaupun mereka belajar bersama via video call w******p, tapi tetap saja. Perasaan tidak enak jauh di lubuk hatinya kadang kala menjuruskannya pada ke-insecurean tiada tara.
Apalagi ketika masalah hubungan pertemanan datang bersamaan dengan tugas-tugas baru. Otomatis Fanny tidak bisa meminta bantuan orang lain selain Inkan. Tentu saja dia sungkan. Jarang ngobrol tapi tiba-tiba meminta bantuan dengan alasan genting? Tidak semua orang sebaik itu.
Kenyatannya banyak orang yang tersenyum walaupun mereka membencimu.
Entah mengapa, karena Minggu ini dan minggu kemarin piket bengkel di adakan lebih banyak. Yaitu berubah sedari yang dua kali saja. Menjadi tiga kali dalam satu minggu.
Fanny pasti masuk. Mau bagaimana pun kondisinya. Dia sangat keras kepala. Tidak mau ketinggalan pelajaran. Tekadnya memang tergolong baja.
Fanny merasa kalau akhir-akhir ini Yuuada terlalu sering me-reply status w******p miliknya. Padahal, dia sudah jarang memposting sesuatu.
Ketika memposting sesuatu. Yang terlintas di pikiran Fanny adalah 'gabut'. Tapi itu memang kenyatannya. Ketika di busway menuju pulang, cewek itu sering gabut. Karena tugas hariannya untuk menulis bab setiap hari sudah selesai sejak pagi-pagi buta dini hari. Dan telah selesai revisi ketika pukul sembilan pagi. Dan dia juga sudah mempublikasikannya.
Seperti pada siang ini. Cuaca yang terik membuatnya menjadi semakin malas untuk mengerjakan tugas produktif yang telah dia buat. Rasanya dia belum ada kesiapan mental. Ini hanya masalah waktu.
Fanny memang sering tergembleng oleh waktu yang terasa begitu cepat. Dia selau menyesal dan berubah jadi lebih baik. Alias mengerjakan goals-goalsnya yang sudah lama tertunda.
Siang ini, setelah membaca webtoon kesukannya. Dengan tokoh utama cowok yang menjabat sebagai ketua kelas yang terkenal pendiam, cerdik, dan bijak itu membuatnya ingin memamerkannya di status w******p miliknya.
Dengan caption …
GILA BANGET. LUCU GA SIH. KETUA KELAS YANG PINTAR JENIUS TAPI SUPER PENDIAM GINI. UNIK BANGET. PLEASE!
Terhitung baru beberapa menit dia memposting itu, ternyata sudah ada yang me-reply status w******p miliknya.
Muncul di notifikasi terpampang jelas nama Yuuada SMKN 109
Fanny menghela napas, tidak langsung membalas.
Kenapa sih dia balesin SW gue terus?
Gila ya. Gabut banget dia.
Ganggu aja.
Emmm, enaknya balas apa ?
Ah, balas aja ketawa. Supaya dia nggak ngerasa freak udah ngetik begitu.
Aduh, gila lucu banget. Typing-annya jamet f*******: banget.
Wkwkwkw
Fanny, cewek itu segera menghapus status w******p tadi. Karena dia merasa malas jika sudah dibalas oleh seseorang yang tidak penting baginya.
Akhir-akhir ini juga Yuuada sudah tertangkap basah telah mendekati juga berinteraksi oleh beberapa teman-teman cewek kelasnya.
Fanny merasa sakit hati. Kadang kala dia pura-pura menunduk. Agar tidak melihat interaksi itu. Interaksi yang lama kelamaan membuat hatinya panas.
Ini terasa aneh. Padahal dia merasa belum menyukai cowok keren itu.
Tapi kenapa hatinya terasa panas?
Fanny terus mengingat-ingat kejadian kelas sepuluh. Dimana dia terus menerus tebebani oleh kata-kata Yuuada yang terdengar seperti sedang menjelaskan dirinya.
Sepertinya dulu Fanny menganggap Yuuada adalah cowok polos nan lugu yang tidak tahu apa-apa. Tidak tahu tentang perasaan wanita, tidak tahu juga tentang masalah percintaan. Bahkan rasanya dia tidak bisa menggombal.
Entahlah. Itu hanya sudut pandang Fanny saja.
Belum bisa dipastikan kebenarannya.
.
.
.
Setelah menunggu beberapa menit, karena merasa takut menyakiti hati Yuuada. Dia segera membalasnya sesuai dengan rencananya yang tadi.
Room chat
Gue banget -Yuuada SMKN 109 ( itu ditulis dengan tiap huruf a diganti dengan angka 4. Jadi terlihat seperti jamet Facebook.)
Beberapa menit kemudian …
Awokawokwok -Fanny SMKN 109
Cewek manis itu tersenyum spontan. Entah mengapa dia menikmati candaan garing itu.
Padahal sebelumnya dia merasa lumayan terganggu.
Aneh.