Bab 21

1161 Words

DEG! Nara tersentak, hampir menjatuhkan tablet itu ke lantai. Manik Nara membulat penuh, tangannya yang baru saja memegang tablet pun terlepas, menggantung dengan penuh keringat dingin. Napasnya berembus kuat, dadanya terasa sesak karena berdebar kencang. “Devan …” Suaranya bahkan seperti kucing terjepit, tercekik di pangkal kerongkongannya. Suara itu tidak datang dari Julian. Suara itu turun dari plafon, melalui sistem interkom yang tersembunyi. Suara bariton yang dingin, berat, dan penuh otoritas milik Devan Draken. Ia menatap ke sekeliling ruangan yang luas dan kosong itu dengan wajah pucat pasi. "Devan?" "Kamu pikir aku ceroboh sampai membiarkan Julian meninggalkan tabletnya di sana setiap pagi, Nara?" Suara Devan kembali bergema, kali ini dengan nada ejekan yang tipis. "Kamu p

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD