“Oh, Julian, untungnya kamu datang juga.” Ivan tersenyum lega ketika melihat kedatangan sang tangan kanan Devan. “Ada apa?” “Ini cocok, bukan? Atau Pak Devan inginnya yang … terbuka?” Terbuka? Julian hanya melihat Nara yang mengenakan dress panjang yang menutupi tubuhnya, tidak terbuka. “Ya, bagus begitu saja.” “Oke, oke, baguslah. Aku lega mendengarnya. Huffft … lain kali, minta bosmu untuk mengondisikan diri ya, kontrol kalau ada event.” Ivan pamit sambil cekikikan, sementara Julian tidak paham maksud ucapan desainer kondang yang menjadi andalan bagi Devan. Nara mencoba melihat ke sekelilingnya, seolah-olah dia mewaspadai kehadiran Devan. “Pak Devan sedang ke luar negeri sekarang, lusa baru kembali,” terang Julian. Nara terkesiap, tapi ekspresi wajahnya nampak lega. “Ah, begitu,”

