Bab 9

1086 Words
Gasp! Udara di ruangan itu mendadak habis. Manik coklat Nara sudah mengerjap terkejut mendengar pernyataan Devan. “Wajahmu pucat, kamu takut, huh?” sela Devan yang bisa memperhatikan ekspresi Nara dari dekat. Nara cantik. Devan harus mengakuinya. Bagaimana bisa dia baru menemukan Nara sekarang? Keinginan berburunya bahkan hilang ketika banyak wanita yang rela mendatanginya dan mengangkang. Nara meringis saat Devan mengapit rahang kecil wanita itu. “Aku enggak bisa sabar Nara.” Nara semakin merasakan dingin yang mencekam. Entah karena pakaian tipis yang dikenakannya atau karena tatapan sedingin es milik Devan yang menghujam tanpa jeda. Segera Devan mempertemukan bibirnya kembali. Dia yang baru saja merasakan bibir manis gadis itu malah ketagihan dan tidak sabar. Nara memejamkan matanya, tubuhnya bergetar hebat ketika napas Devan menyapu wajahnya. Hanya menempelkan saja. Devan belum melakukan apa pun, selain dia tengah menahan dirinya agar bersikap lembut pada Nara. Nara menahan napasnya kembali. Terlalu sering dia dibuat terkejut oleh pria itu, hanya dengan sentuhan fisik. Kedua tangannya sampai kembali mengepal dan tubuhnya ikut tegang. “Kamu gemetar, Nara,” bisiknya usai memisahkan pertemuan bibir mereka. Napasnya yang hangat berbau wiski, tembakau dan bercampur mint menyapu wajah Nara, memicu gelombang ngeri sekaligus getaran aneh yang tidak ingin wanita itu akui. “Apa yang bikin kamu takut? Kamu yang udah tekan kontrak itu, Nara.” Kalimat itu semakin terdengar mengejek dan Nara menahan malu yang luar biasa. Nara memejamkan matanya, giginya bergemeletuk. “Aku … melakukannya untuk Ibu. Bukan karena aku ingin.” Devan terkekeh rendah, suara yang lebih mirip dengan geraman predator daripada tertawa. Kedua tangannya meraup kedua lengan Nara, meremasnya sehingga memaksa gadis itu membuka matanya, terbeliak kaget. Jemari Devan yang panjang merayap naik, mencengkeram rahang Nara dengan tekanan yang pas--cukup kuat untuk menyakiti. Namun, cukup lembut untuk mengingatkan siapa yang memegang kendali. “Alasan kamu enggak penting buatku. Yang terpenting, fakta kalau aku sudah bayar hargamu. Lima miliar buat seorang staf gudang … itu transaksi yang enggak masuk akal bukan? Tapi … bagiku murah.” Devan menatap bibir Nara yang bergetar. “Jadi … sesuai harga itu, pastikan kamu beri aku timbal balik yang setimpal.” Itu adalah transaksi. Nara menahan nyeri di hatinya saat menyadari posisinya. Tanpa peringatan, tiba-tiba Devan mengangat tubuh Nara. Wanita itu terpekik kecil. “Ah!” Secara insting, dia spontan melingkarkan tangannya di leher Devan--sebuah gerakan yang langsung ia sesali karena itu membuatnya tampak seperti dia menginginkan kontrak itu. Devan membawanya dengan mudah menuju tempat tidur raksasa bersprei sutra abu-abu yang tampak seperti hamparan logam dingin di bawah cahaya lampu. Tepat di atas ranjang, di atap kamar itu menggantung lampu kristal yang memukau. Saat tubuhnya menyentuh kasur yang empuk, berbeda dengan kasur murah di kamar indekosnya, Nara merasa ia sedang tenggelam. Tanpa aba-aba, Devan menindihnya, mengunci pergerakannya dengan berat tubuh yang atletis. Di dalam kamar yang luas, Nara merasa menjadi kerdil, seolah-olah dunia baru saja menyempit hingga menyisakan dirinya dan pria yang telah membeli tubuhnya ini. “Tatap aku, Nara,” perintah Devan saat Nara mencoba memalingkan wajah dan menutup matanya rapat-rapat. Dia gugup dan takut sekarang. Terpaksa dia membuka matanya, melihat wajah Devan yang terpahat sempurna namun dingin tanpa riak emosi, seperti patung marmer yang haus akan darah. Tubuh Devan seolah sedang menuntut di atasnya. Dadanya sesak. “Kumohon …” Suara Nara parau, air matanya tertahan di pelupuk mata. “Jangan memohon, Nara. Kamu bukan lagi manusia yang bisa aku beri belas kasihan. Kamu adalah properti milik Devan Anggara. You are my asset.” Tangan Devan tiba-tiba saja menyentuh pertengahan d**a Nara, lantas dengan satu tarikan kasar, dia merobek kain tipis gaun satin Nara. Membiarkan robekan kain itu teronggok di lantai bak sampah. “Dan aku mau asetku menatap pemiliknya saat sedang digunakan.” “Apa yang kau lakukan?!” Nara memekik panik, kedua tangannya segera menyilang di depan d**a. Pandangannya menajam, menyimpan amarah. Dada Nara mencelos saat mendengarnya. Kata-kata Devan yang kejam menghujam seperti pisau yang tanpa ragu menusuk jantungnya. “Kamu keliatan cantik kalau ketakutan, Nara.” Suara Devan terdengar serak, lebih rendah dari suara biasanya. Nara terengah, dadanya naik turun dengan cepat di balik tangannya yang menyilang. “Kumohon, ja--jangan seperti ini,” bisiknya lirih. “Jangan seperti apa?” Devan menunduk, bibirnya menyapu daun telinga Nara, memberikan gigitan kecil yang berhasil membuat Nara tersentak dan membusungkan dadanya secara insting. “Jangan memperlakukan kamu seperti milikku? Padahal aku sudah bayar setiap jengkal tubuh kamu dengan harga yang enggak bisa kamu bayangkan?” Devan tidak menunggu jawaban. Udara dingin AC menyentuh kulit Naa yang panas, namun itu hanya sesaat sebelum lidah Devan menyapu cerukan lehernya, menghisap kulit seputih pualam yang sensitif di sana hingga meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok. “Heup!” Nara menggigit bibir bawahnya sendiri, selain terkejut, dia merasakan sengatan dari sentuhan lembab bibir dingin pria itu. Kali ini pria itu mengangkat kepalanya, menyambar cepat bibir Nara. Menciumnya panas, melumat kasar dan penuh tergesa-gesa. Gerakannya terlalu liar. Nara masih merapatkan bibirnya, tetapi Devan lihai berhasil menyusup masuk. Mendorong lidahnya yang basah mendesak masuk ke dalam rongga hangat mulut gadis itu. Nara merasa tidak berdaya. Sialnya. Ciuman yang tergesa-gesa itu mampu melumpuhkan indera tubuhnya. Devan bahkan sudah melepaskan kancing kemejanya satu per satu di saat dia tengah menginvasi bibir Nara. Tatapannya begitu lapar seolah sedang menguliti mangsa sebelum benar-benar melahapnya. Devan mengecup turun rahang sampai kembali ke leher jenjang gadis itu. Nara memalingkan wajahnya segera. Dia sedang berusaha mengambil udara dengan rakusnya. “Ternyata begini rasanya,” bisik Devan di tengah cumbuan panasnya yang turun ke arah tulang selangka. “Devan, jangan!” Lagi, Nara memekik, mencoba mempertahankan tangannya untuk menyilang tetapi tangan Devan mengunci pergelangan tangan gadis itu di kepala dengan satu tangan besarnya. Wajah Nara merah padam karena merasa malu. Jemari Devan mencengkeram rahangnya, memaksanya menatap iris pekat yang kini berkilat oleh hasrat liar. Devan menciumnya--bukan ciuman lembut. Melainkan sebuah invasi yang menuntut penyerahan total dari lawannya. Nara merasa oksigennya kembali dirampas, dunianya berputar hingga kepalanya terasa pusing, dan rasa benci yang ia pelihara perlahan mulai bercampur dengan sensasi asing yang membuat sarafnya tersengat. Tangan bebas Devan mulai menjelajah, menelusuri lekuk pinggang gadis itu dengan sentuhan yang menuntut. Setiap sentuhan itu meninggalkan jejak api, membuat Nara bahkan tanpa sadar mengeluarkan rintihan kecil yang tertahan di tenggorokan. “Kamu menikmatinya?” Devan menyeringai tipis, memberikan tekanan yang lebih berani melalui jari-jarinya yang besar dan kasar. “Mendesahlah,” perintahnya. “Aku mau mendengar gimana namaku kamu sebut dari bibir aset yang aku punya.” “Eugh … hentikan …” Nara memalingkan wajahnya panik, tubuhnya menggeliat liar tak bisa dihentikan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD