“Berhenti, ada orang, Devan.” Nara yang panik hanya bisa mencicit sembari memalingkan wajahnya. Tangan Devan menjulur, mengambil sebotol air mineral dan tatapannya terus tertuju pada Nara sembari membuka tutup botol dan menenggak air tersebut. Nara kesulitan untuk bernapas. Matanya mengedip berkali-kali saat melihat apa yang dilakukan Devan di hadapannya. Kenapa dia harus salah kaprah?! “Sedang apa kamu?” tanya Devan yang berbalik, membuang botol bekas itu ke tempat sampah. Nara menghembuskan napasnya merasa sangat lega. “Membuatkan minum untuk Dokter Mira,” terangnya. Tubuhnya masih saja gemetaran kalau berhadapan dengan Devan. Usai tingkah Devan yang membuatnya berpikir yang tidak-tidak, energinya bahkan sudah hilang setengahnya. “Kamu bukan pembantu di sini. Enggak perlu melakuka

