Nara menggigit bibirnya, gugup. Dia berusaha tersenyum di hadapan dokter muda itu. “Ah, iya, halo Dokter Andreas.” Dokter Andreas mengangguk kecil, senyuman di bibirnya masih terulas tanpa merasa terganggu. “Kami permisi dulu ya, Andre?” Segera saja Dokter Mira berpamitan saat sepasang matanya mendapati Devan yang tengah berjalan mendekati mereka. Nara pun ikut mengangguk kecil, “sampai jumpa, Dokter.” Dokter Andreas tersenyum, tapi dia sedikit menyesal saat tiba-tiba saja satu hal kecil melalui pikirannya begitu melihat punggung Nara yang semakin mengecil di pandangannya. “Astaga … kenapa aku enggak minta kontaknya,” keluhnya. Nara sedikit terkejut saat Devan berdiri di hadapannya, sementara Dokter Mira segera menyapa sopan Devan. “Anda tidak perlu repot-repot kemari, Pak,” tukasny

