BARRY memasukkan baju terakhir ke dalam tas, untuk pertama kalinya setelah delapan tahun berlalu dia mengambil keputusan tergesa-gesa. Dia cuma mau pergi dari rumah mewah Kania. Keluar dari segala kekacauan yang bisa saja terjadi. Tidak. Dia tidak mau lagi terlibat sesuatu yang rumit—yang berkaitan dengan ilusi. Namun ... ini bukan tentang ilusi atau kalung. Ini tentang Alby dan Kania. Dia terduduk lemas di pinggir ranjang. Jemarinya menelusuri bibir—bayangan Kania saat menyatukan bibir mereka melekat sempurna di benak Barry. Bagaimana perempuan itu setelah dia pergi? Siapa yang akan menghibur Kania? Berhenti, Bar! Ini bukan urusan lo! Perut Barry serasa mencelus dari badannya, lalu bersembunyi di kolong ranjang. Terdengar suara ketukan, dan Barry menyeret kakinya menuju pintu. Napas Ba

