"Bu, ini brosur dari Hotel Prima dan besaran biayanya. Tadi saya juga sudah tanyakan untuk hari sabtu mereka kosong jadi bisa booking tempat. Cuma ya kalau bisa secepatnya takutnya nanti ada pihak lain yang duluan booking."
"Oke, saya bicarakan dulu sama kasie yang lain. Makasih ya Luna." Bu Yeni segera bergegas keluar ruangan.
Seharian ini aku sangat sibuk, menyelesaikan kerjaanku juga menyediakan data yang di butuhkan Bu Endang. Saking sibuknya aku sampai lupa kalau sekarang sudah waktunya pulang.
"Nggak pulang Lun?"
"Iya mbak, ini dikit lagi. Tinggal rapiin dokumen aja. Sekalian mau aku bawa buat dikirim ke pusat." Meskipun jam pulang sudah lewat dari satu jam lalu tapi kantor masih ramai. Aku meregangkan tubuhku yang lelah dengan santainya saat suara itu aku dengar,
"Bu,, " Dengan secepat kilat aku membenahi posisi dudukku yang bersandar sambil meregangkan tangan, naas tiba-tiba..
"Aa..aduhhh" sepertinya ada bagian ototku yang terkilir..
"Kenapa Lun?" Mbak Lita yang melihatku meringis kesakitan segera menghampiriku.
"Kayak ada yang terkilir Mbak Lit. Sakit banget." kataku sambil menahan sakit yang terasa.
"Wah itu harus di tarik Lun. Re, kamu bisa nggak?" Mbak Rere yang mendapat todongan dari Mbak Lita cuma mengeleng pelan.
"Ndah, tolongin Luna bisa." sama kayak Mbak Rere, mbak Indah cuma nyengir sebagai jawabannya.
"Eh, sampai lupa. Iya pak ada yang bisa dibantu?" Mbak Rere yang menyadari kalau sedari tadi mengacuhkan calon bos baru langsung menyapa. Aku yang masih menahan sakit hanya bisa diam sambil meringis dengan posisi yang susah sekali di deskripsikan.
"Oh, ini saya nyariin Bu Yeni." jawabnya sambil menatapku yang masih kesakitan.
"Bu Yeni keluar sama Bu Endah Pak dan belum balik."
"Emm.. Itu Luna apa nggak kesakitan?" tanyanya yang masih sibuk melihatku.
"Eh, iya pak kayaknya ototnya ada yang terkilir, ini mau di tarik tapi nggak ada yang bisa." jelas Mbak Lita yang mengkhawatirkanku.
"Mau saya bantu?" tawarnya kemudian yang diikuti rasa heran mbak-mbak itu.
"Maksud saya, saya bisa kok narikin persendian yang terkilir." kulihat wajah itu agak canggung dengan perkataannya barusan. Entahlah. Mungkin aku saja yang salah lihat. Mbak Rere yang sempat memincingkan mata heran akhirnya menghela napas lega. Mungkin dia curiga. Bisa saja bukan.
"Gimana Lun? Itu mau di bantuin Bapak."
"E, e.. nggak usah mbak. nanti juga baikkan sendiri kok." jawabku kikuk.
"Beneran Lun nggak apa-apa. Tapi kamu kelihatan kesakitan gitu lo. Nggak apa-apa kok kan ada kita juga disini. Jadi nggak usah khawatir."
"Tapi Mbak kan aku cewek."
"Yeilah Lun, emang siapa yang nggak tahu kamu cewek."
"Isshh,"
"Aduh,," aku kaget dengan Mbak Rere yang tiba-tiba mengaduh sambil mengusap lengannya yang barusan kena cubit Mbak Lita.
"Kamu tidur ta Re? Maksudnya Luna itu, Luna kan cewek, Bapak itu cowok. Kan nggak boleh sembarangan pegang. Masak gitu aja nggak ngerti sih."
"Iyah, aku nggerti kok Lit. kan ada aku, kamu sama Indah. Ya kali kalau mereka berdua aja. Ini kan rame. Terus niatnya Bapak juga nolong, jadi kan nggak apa-apa."
"Udah, aku nggak apa-apa kok Mbak." kataku berusaha menghentikan perdebatan Mbak Rere dan Mbak Lita. Kalau nggak di hentikan mereka berdua bakalan terus adu peendapat sampai besok pagi. Sekali lagi aku mencoba membetulkan posisiku dan ternyata.
"Au," aku meringgis menahan sakit. Nyatanya memang aku tidak baik-baik saja dan sulit untuk sekedar duduk dengan baik.
"Sini saya bantuin. Kamu pasti kesakitan sekali." tanpa bisa di cegah tangan itu sudah memegang pundakku dan Kretek.. kretek.. aku yang tak sanggup menahan langsung menjerit histerit, sampai air mataku keluar.
Selesai menarik bagian ototku yang terkilir, pria itu langsung membetulkan posisi dudukku. Mereka yang melihat adengan kilat itu hanya bisa melonggo tanpa bisa berbuat sesuatu untuk mencegah.
"Sudah, sekarang kamu coba gerakin pelan-pelan." aku pun akhirnya menuruti peritah itu. Aneh. leherku yang tadi terkilir sudah tidak sakit lagi.
"Gimana Lun?"
"Udah, enakan Mbak."
"Beneran?"tanyanya lagi memastikan.
"Iya Mbak Re,beneran udah nggak sakit lagi." Raut cemas di wajah mereka mulai menghilang, disusul dengan napas lega. Aku juga heran kok bisa pria ini punya keahlian begitu.
"Ma.. makasih Pak." kataku dengan cangung.
"Oke, saya balik ke ruangan dulu." sautnya sambil segera meninggalkan ruangan kami. Setelah Arga meninggalkan ruangan, Mbak Rere dan Lita langsung heboh.
"Ya ampun Lun, kamu ini gimana sih kok bisa leher nya sampai keseleo gitu. Kok iso-isone loh (Kok bisa-bisanya loh)?" kekepoan Mbak Rere muncul sudah. Ini kalau diladeni pasti panjang ceritanya.
"Ya aku kan lagi peregangan Mbak Re, terus tiba-tiba dengan suara manggil Bu ya refleks lah aku langsung mau betulin posisi eh malah ke seleo. Paling saking kagetnya aku jadi buru-buru." Mbak Lita dan Mbak Indah yang mendengarkan penjelasanku langsung nggak bisa berhenti tertawa.
"Sumpah Re, adekmu ini memang lawak abis." candanya ke Mbak Rere yang juga ikutan ketawa.
"Iyo, anceno lawak cah iki (Iya, emang lawak anak ini), winggi ape nabrak pagar (Kemarin mau nabrak pagar) eh, sak iki keseleo gulune (Eh, sekarang lehernya yang keseleo). Emang bocah kebanyakan tingkah ya Luna ini."
Aku mendengus sebal mendengarkan ledekan mereka.
"Yee,, orang dapat musibah malah diledekin." sunggutku kesal.
"Lha emang kamu itu lucu lo Luna sayang, sumpah wajah sama kelakuan berbanding terbalik."
"Iya paling yang belum kenal baik Luna, pasti mikirnya nih cewek cantik, kalem, widih nggak tahu aja tingkahnya kayak apa." tambah Mbak Indah yang dari tadi diam.
"Tapi keren juga loh, si Bapak baru. Langsung bertindak. Ciat, ciat langsung deh tuh bocah enakkan lehernya."
"Ho oh nggak nyangka punya keahlian pijat memijat."
"Aduh Luna beruntungnya kamu di perhatiin Bapak bos single berkualitas."
"Ya kali mbak nggak perhatian lha kita kan anak buahnya." kataku memotong kalimat Mbak Rere yang berkesan lebay barusan.
"Hehehe.. betul katamu Lun. Emang sih singel tapi gosipnya udah punya tunangan. Hari gini gitu kagak mungkin masih ada singel dan jomblo. Pastilah udah pada punya gandengan. Kecuali,, Kecuali Luna sih."
"Hahahaha.. " seisi ruangan tergelak dengan kalimat yang dilontarkan Mbak Rere.
"Iya padahal banyak loh yang pedekate."
"Tahu tuh, semua yang ngedeket tiba-tiba mundur di judesin mulu sama dia."
Aku yang jadi bulan-bulan mereka cuma diam dan mendengarkan dengan wajah yang sudah memerah.
"Kamu mau cari yang modelan kek apa sih Lun? Tuh si Ditto lagaknya juga nyoba deketin kamu. Coba di respon."
"Iya Lun, coba buka hati. Kali aja jodoh loh."
Ku rasa pembahasan ini nggak akan selesai kalau aku tak segera menyudahi, lagi pula ini juga sudah lewat jam pulang. Aku ingin cepat beristirahat di apartemenku.
"Aduh mbak, udah di bilangin ntar aku taaruf kok." kataku berbarengan dengan masuknya seseorang di ruangan kami.
"Taaruf? Emang siapa yang sedang taaruf?"sebuah pertanyaan diajukan orang otu yang membuatku menelan ludah dengan susah payah.
Duh...