Maharga Wiranata, Dia temanku dari Sekolah Menenggah Pertama. Dan sekarang kami juga sekelas, satu jurusan di kampus yang sama. Bukan sebuah kebetulan karena memang dari dulu aku yang ngikutin dia. Kedengarannya sangat ironis bukan. Aluna Sagita, gadis cupu yang jatuh cinta setengah mati dengan teman sekelasnya. Berusaha sekeras mungkin untuk bisa menjadi bagian dari para gadis yang mencoba mencari perhatian seorang Arga.
Aku terbangun saat adzan Subuh berkumandang, kepalaku sedikit berat. Tidur hanya empat jam, karena pikiran yang berkelana kesana kemari. Ku basuh mukaku dengan dingin air yang mengalir, mengelar sajadah dan segera menunaikan kewajibanku. Sejujurnya aku ingin kembali bergelung dalam hangatnya selimut, tapi mengingat kebiasaanku yang pasti akan datang dijam-jam mendesak masuk kantor aku mengurungkan niat mulia itu, dan memilih menyalakan kompor dan merebus air. Segelas susu coklat hangat dan tiga lembar roti tawar. Membawanya ke meja makan sambil menyalakan siaran televisi. Entah saluran apa yang sedang menayangkan acaranya tersebut aku tak begitu menghiraukan, yang penting ada suara yang menemani dan membuat suasana tak begitu sepi.
Mulutku sedang mengunyah lembaran roti ke tiga saat ponselku bergetar, Bunda.
"Sudah bangun Luna sayang? Sudah Subuhan?"
"Sudah bun, ini lagi lihat TV sambil makan roti."
"Makan yang banyak lo sayang, biar nggak kurus. Ingatkan perjanjiannya kalau kamu kurusan siap-siap pulang ke rumah." Ancaman yang selalu di lontarkan Bundaku saat menyuruhku makan seperti biasanya.
"Iya Bunn... O,,iya Bun sepertinya akhir pekan Luna nggak bisa pulang deh Bun. Soalnya ada acara perpisahannya Pak Arya," mumpung Bunda nelpon sekalian saja aku bilang.
"Lho, emang Pak Arya mu mau kemana? Kok pakai acara perpisahan?"
"Pak Arya mutasi Bun, ke kantor pusat." Kunyahan terakhir dari roti tawarku yang segera ku iringi dengan susu coklat yang tinggal sedikit.
"Oalah, terus gimana? Berarti nggak jadi pulang?"
"Ya kalau nggak capek banget ya Luna pulang. Tapi kalau nggak ya terpaksa nggak pulang."
"Oke, nanti kabari Bunda ya. Ya udah hati-hati ya sayangnya Bunda. Jaga kesehatan jangan lupa."
Jam di dinding masih menunjuk angka enam tumben waktu berasa lambat, secara aku biasanya keburu-buru karena kesiangan bangun. Ku kumpulkan semua pakaian kotorku dan membawanya ke mesin cuci, sambil menunggu cucian selesai aku memilih untuk mandi dan menyiapkan peralatan kerjaku. Aku tetap harus masuk kerja, ya walaupun nanti harus bertemu pria itu. Tapi tetap aku harus profesional sama kerjaanku. Saat mengantung baju-baju yang selesai aku cuci di balkon, ku dengar suara lumayan berisik dari sebelah. Sepertinya ada beberapa orang di sana. Mungkin para pekerja yang aku temui kemarin sore.
"Eh, gimana Lun udah enakan perutnya?" aku yang baru duduk sudah di beri pertanyaan.
"Udah mbak. Udah enakan kok." jawabku pelan.
"Hati-hati Lun, masak kemarin kamu mau nabrak pagar sih."
Aku hanya tersenyum tipis, biasanya aku selalu punya energi yang berlebih untuk meramaikan suasana, cuma kali ini aku merasa malas saja.
"Mbak Luna, meeting bentar ya berdua habis ini." Bu yeni yang datang mengagetkanku dengan sapaannya yang aku jawab dengan anggukan kepala saja.
"Jadi kan Mbak Luna tahu kalau Pak Arya mutasi, nah seperti biasanya kita bakal ngadain acara perpisahan buat beliau. Kemarin saya juga sempat bahas dengan kepala bagian lainnya. Secara teknis udah di setujui kalau acaranya akan di gelar di hotel Prima. Garis besarnya nanti akan kita bahas lagi. Tugasnya Mbak Luna mastiin kesana berapa biaya dan ada paket apa saja. Biar nanti bisa di sesuaikan budgetnya." terang Bu Yeni panjang dan lebar.
"Iya Bu, nanti habis ke Bank aku coba kesana buat lihat-lihat dulu."
"Oke, sip kalau gitu. terus jangan lupa juga cari souvenir buat Pak Arya ya."
"Siap Bu."
"Kenapa kamu Lun, kok kayak yang ndak semangat gitu?" Mbak Rere ini satu-satunya orang yang selalu peka sama perubahan moodku. Susah sekali buat bohongin dia.
"Ndak apa-apa mbak. Ngantuk aku, nggak bisa tidur semalem."
"Lha kok bisa? Apa gara-gara perutmu sakit itu ta?"
"Kayaknya iya mbak." Beruntung meskipun mulut kami masih bercakap-cakap tapi tangan dan pandangan tak lepas dari pekerjaan masing-masing. Dengan begitu Mbak Rere nggak bisa lihat wajahku yang suntuk habis. Terbayang hari-hari mendatang dengan bos baru yang punya cerita masa lalu yang ingin ku kubur dalam-dalam. Menyeramkan dan suram.
"Meeting apa tadi sama Bu Yeni?"
"Oh,, itu soal perpisahannya Pak Arya. Nyari tempat sama souvenir."
"Emang rencananya mau dimana acaranya?"
"Kesepakatannya sih di Hotel Prima. Makanya nanti habis dari Bank aku mau kesana."
"Ooo.."
Segera aku menekan tombol save untuk menyimpan data yang barusan ku buat. Merapikan berkas-berkas dan menatanya di folder sebelum keluar.
"Mbak aku jalan dulu ya. Kalau perlu apa kirim pesan aja." Pamitku ke Mbak Rere yang kebetulan ada di ruangan bersamaku.
"Oke."
Berjalan menuruni tangga aku berpapasan dengan Pak Arya juga yang lainnya, sepertinya mereka baru dari lantai bawah. Kebiasaanku kalau bertemu selalu menyapa.
"Pak" kataku sambil menundukkan kepala.
"Mau jalan Lun?" tanyanya kemudian
"Iya Pak. Mari Pak."
Cukup lama juga waktu yang ku habiskan di luar, selesai dari Bank seperti rencana awal aku mampir ke Hotel Prima, bertemu pihak marketing sana.
Mereke memberiku brosur layanan dan harga setiap detailnya. Ku masukkan ke dalam tas untuk nanti kuberikan ke Bu Yeni. Setelah mengucapkan terima kasih segera aku meninggalkan hotel itu.
Matahari sedang terik-teriknya, ku geber motorku menuju tempat selanjutnya. Aku berhenti setelah semua urusanku di luar selesai, menikmati segelas es dawet untuk memberi tenaga yang lumayan terkuras.
"Kamu jangan naif deh Ga, semua juga tahu kalau Luna itu suka sama kamu. Atau jangan-jangan kamu juga suka lagi sama cewek itu."
Degg... Jantungku berdetak kencang saat tak sengaja ku dengar percakapan anak-anak di kelas.
Aku yang mau mengambil buku terpaksa mengurungkan niat untuk masuk ke kelas. Dan memutuskan menguping pembicaraan itu.
"Aduh yang bener aja lah, masak aku suka sama Luna. Cckk..ckk.. lihat aja, cupu gitu. Jelas lah bukan tipe ku."
Deggg.... Jadi seperti itu pandangan Arga padaku selama ini. Rasanya seperti ada yang menusuk hatiku, sakit tapi tak berdarah kalau mereka bilang. Mataku memanas, ingin rasanya aku menanggis tapi sekuat mungkin aku tahan. Tidak. Aku kuat.
Aku tidak menyangka, kalau anak-anak akan tahu perasaanku pada Arga. Tapi perkataan Arga barusan tentangku sungguh tak pernah aku sangka sebelumnya. Pikirku dia bukan orang yang seperti itu. Ah, nyatanya aku saja yang terlalu naif dan menganggapnya seperti malaikat.
Kuat.. Kuat.. aku harus kuat. Tak apa mereka mengataiku cupu. Toh memang kenyataannya begitu.
Aku tersentak dari lamunanku saat ada orang yang mengeser duduknya di sampingku. Berhubung gelas es sudah habis isinya. Kuputuskan membayar dan segera kembali ke kantor.