Bab 3. Penasaran

1000 Words
"Dia nggak punya kerjaan tetap, Sel! Kamu tetap mau nekat?!" Mata Kak Ana melotot, tampak mengerikan. Aku hanya bisa terdiam, menunduk sambil terisak. "Tapi aku sungguh cinta dia, Kak!" seruku lirih. "Cinta?! Hah? Apa hidup cuma mau makan cinta?!" Kak Ana makin meradang. Dia mengambil keputusan yang kala itu terasa sangat menyebalkan bagiku. Aku merasa dia terlalu ikut campur, dan suka mengatur hidupku. Mataku seolah buta karena cinta; aku mengabaikan kenyataan bahwa hidup memang butuh uang. Uang tidak jatuh dari langit, ia harus dicari. Sementara Iko saat itu hanyalah karyawan kontrak yang posisinya bisa diputus kapan saja. Namun, yang kulihat adalah kegigihannya. Dia berjualan di sela-sela waktu luangnya. Bagiku, dia adalah pekerja keras. Kak Ana terus menentang hubunganku dengan Iko. Dia sudah menikah saat itu, namun belum memiliki anak. Suaminya lebih banyak diam, mengamati pertengkaran kami tanpa suara. Sejak tahu hubunganku dengan Iko makin serius, Kak Ana jadi sering menjengukku ke kontrakan. Aku kesal karena merasa sudah dewasa, tapi masih dikekang. Jujur, meski bawel, Kak Ana selalu jadi orang pertama yang membantuku. Saat aku tak mampu membeli ponsel, dia memberikan miliknya. Saat kontrak kerjaku habis, Kak Ana yang memberiku uang untuk menyambung hidup dan membayar sewa. Puncaknya, Kak Ana murka saat mampir malam hari, dan mendapati Iko sedang berada di kontrakanku. Detik itu juga, dia memaksaku pindah dan tinggal bersamanya. Aku kesal bukan main, tapi tak punya nyali untuk memberontak. Aku menurut, apalagi setelah Kak Ana mengadu pada Bapak di kampung. Kepindahanku membuat Iko terpuruk. Dia melampiaskan rasa kehilangan itu ke minuman keras—sesuatu yang sangat dibenci Kak Ana, juga aku. Iko tumbuh di keluarga yang kurang harmonis; orang tuanya berpisah sejak ia kecil. Ibunya merantau, sementara ia besar di kampung bersama paman dan bibinya. Gaya hidupnya memang jauh berbeda dengan latar belakangku. Aku bukan orang kaya, dan aku pun dibesarkan oleh orang tua yang tidak lengkap. Bedanya, orang tuaku tidak bercerai; mereka hanya berpisah jarak karena keadaan. Aku menghabiskan enam tahun di pondok pesantren. Keluarga besarku sangat agamis. Aku tidak pernah menyentuh hal-hal haram seperti itu. Saat aku pindahan, Iko hanya mengurung diri. Dia tidak membantu mengangkat barang sedikit pun, tak seperti tetangga lain, padahal kontrakan kami dekat. Begitulah cara Kak Ana berusaha memisahkan kami. Dia tahu siapa aku, tapi dia tidak pernah mengerti isi hatiku. Aku, Sela, merasa selama 19 tahun hidupku tak pernah benar-benar menjadi diri sendiri. Hidupku terasa monoton, terkungkung dalam aturan yang tak bisa kulepas. Maka, aku pun berontak secara diam-diam. Aku masih menemui Iko saat berangkat atau pulang kerja, tanpa sepengetahuan Kak Ana dan suaminya. Iko adalah satu-satunya laki-laki yang benar-benar memperhatikanku, memujiku, dan membantuku saat sulit. Walau kami berbeda dalam segala hal—latar belakang, kebiasaan, hingga prinsip hidup—aku selalu mencari celah untuk membenarkan argumenku. Seluruh keluargaku melarang, mulai dari Kak Ana, Bapak, hingga adikku. Kak Ana bahkan pernah berkata, "Lihatlah, laki-laki dari daerah itu rata-rata malas. Tidak mau kerja dan hanya mengandalkan perempuan." Kebetulan, tetangga Kak Ana punya suami yang sedaerah dengan Iko dan berperilaku begitu. Tapi aku menutup mata. Bagiku, tidak semua orang bisa disamaratakan. Setahun aku tinggal di rumah Kak Ana. Dia dan suaminya sangat baik; aku bebas makan tanpa harus patungan. Namun, aku merasa seperti pembantu di sana. Semua pekerjaan rumah, mulai dari memasak, menyapu, hingga menyetrika, aku yang mengurus. Mungkin itu memang sepadan karena aku menumpang, tapi saat itu aku hanya fokus mencari kesalahan Kak Ana karena aku kesal dilarang keluar rumah. Aku merasa tidak punya kebebasan. Bayangkan, hidupku di kampung sangat monoton, di sekolah pun aku tidak gaul. Kini, saat merasa bisa mencari uang sendiri, aku ingin bersenang-senang. Kak Ana bukannya melarangku main, dia hanya curiga aku akan menemui Iko. Dan kecurigaannya sangat berdasar. Gaji bulanku selalu habis, padahal aku hanya mengirim uang untuk Bapak. Aku tidak punya cicilan, tidak bayar kos, tidak bayar listrik. Semuanya gratis. Kak Ana makin meradang dan mencurigai Iko sebagai penyebab habisnya uangku. Karena kesal, dia menyita kartu ATM-ku. Aku makin berontak. Kami sering bertengkar hebat. Aku merasa hidupku bukan milikku lagi. Padahal kenyataannya, saat itu belum ada w******p; uangku habis untuk pulsa telepon dan SMS karena aku merasa kesepian dan hanya ingin bicara dengan Iko. "Oh iya Sel, aku mau bayar kontrakan, kurang seratus lima puluh ribu. Kamu... ada?" tanya Iko suatu hari. "Ada, tentu ada!" jawabku sumringah. Saat itu aku menganggap pemberian itu sebagai bentuk timbal balik. Aku sama sekali tidak merasa dia laki-laki matre seperti yang dituduhkan kakakku. Suatu kali, saat perseteruanku dengan Kak Ana memuncak dan ATM-ku disita, aku mencuri kartu itu kembali saat dia lengah. Kak Ana mendiamkanku. Lagi-lagi aku mengadu pada Iko. Bagiku, Iko adalah sosok dewasa yang paling mengerti aku. Aku hanya butuh kasih sayang yang tidak kudapatkan dari orang lain. Tanpa kusangka, suatu hari Iko datang ke rumah Kak Ana. Dengan jantan, dia menemui kakakku yang galak itu. Dia tidak takut. Secara terang-terangan dia bilang pada Kak Ana bahwa dia serius denganku dan memohon restu. Pandangan Kak Ana pada Iko mulai berubah sejak hari itu. Dia sedikit luluh, berkat peran Mas Zuki, suaminya. Mas Zuki yang biasanya pendiam akhirnya turun tangan. Dia menasihati istrinya, "Sela nggak bisa dilarang begitu. Makin dikekang, dia akan makin berontak. Biarkan saja, nanti dia juga bisa mikir sendiri mana yang baik dan mana yang tidak." Kak Ana yang pemarah itu akhirnya luluh. Dia tak lagi mengekangku, hanya berpesan, "Jangan salah langkah, Sel. Dulu hidupmu itu mulus seperti jalan tol, sekarang kamu malah memilih jalur yang berbatu." Ucapannya benar. Di kampung, aku dikenal sebagai gadis alim. Waktuku habis untuk belajar dan mengajar mengaji di masjid. Aku tak pernah lepas dari jilbab panjang dan baju kurung yang longgar. Tak pernah bersentuhan dengan laki-laki. Sangat berbeda dengan masa muda Kak Ana yang penuh pergaulan sejak SMP. Namun sekarang, dunia seolah terbalik. Aku yang dulu kalem kini ingin bebas seperti Kak Ana yang dulu. Dan Kak Ana yang dulu bebas, kini menjadi sosok yang sangat terjaga seperti diriku yang dulu. Kami seperti bertukar karakter; Kak Ana sudah puas dengan petualangannya, sementara aku baru saja memulai rasa penasaranku pada dunia luar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD