Pertemuan
Ting tong!
Bel rumah Arya berbunyi pertanda ada tamu. Seorang pembantu membuka pintu untuk melihat siapa yang datang. “Ada yang bisa dibantu?” tanya pembantu tersebut
“Em.. apa Pak Arya ada di rumah?”
Pembantu tersebut terdiam sejenak. Ia tidak bisa memberitahu orang asing tentang majikannya. “Maaf, apa sebelumnya belum ada janji dengan Pak Arya?”
“Belum. Tapi saya mengenal beliau.”
“Saya ingin bertemu dengan beliau!” lanjutnya
Pembantu itu mengangguk mengerti. “Kalau begitu tunggu sebentar! Saya akan panggilkan beliau terlebih dulu.”
Seseorang itu mengangguk sebagai jawaban. Ia menunggu di luar karena tidak dipersilahkan masuk ke dalam. Ia tahu bertemu dengan Arya cukup susah. Bahkan jika orang asing yang datang tidak diizinkan masuk ke dalam. Untung saja ia pernah bertemu beberapa kali dengan beliau. Karena hal itu ia memberanikan diri untuk datang langsung ke rumahnya.
Ceklek
“Ekhm, siapa?” tanya Arya setelah berdehem
Seseorang itu berbalik badan setelah mendengar suara Arya. Ia tersenyum sopan ke arah beliau. “Selamat siang, Om!” sapanya
“—“ Arya terdiam.
Beliau menyipitkan mata mencoba mengingat siapa sosok laki-laki di hadapannya saat ini. Beliau merasa tidak asing dengannya. Tapi di mana mereka bertemu? “Apa sebelumnya kita pernah bertemu? Saya seperti tidak asing dengan wajahmu.”
“Iya, Om. Kita pernah bertemu beberapa kali di acara tertentu.”
“Saya Danish!” ucapnya sembari mengulurkan tangan kanannya berniat berjabat tangan dengan Arya.
Iya, laki-laki itu adalah Danish. Ia datang menemui Orang Tua Thania untuk membicarakan niat baiknya. Kedatangannya tidak diketahui oleh Thania. Bahkan Arya menganggap kedatangannya hanya bertamu biasa atau sekedar mengajaknya untuk berbisnis. Beliau tidak tahu jika Danish adalah salah satu Dosen di kampus putrinya.
“Silahkan masuk, Danish!” ujar Arya
“Terima kasih, Om.”
Arya dan Danish duduk saling berhadapan. “Ada apa ini? Apa kedatangan kamu ke sini ingin mengajak saya berbisnis?” ucap Arya dengan nada bercanda. Tapi, beliau akan senang hati jika Danish benar melakukannya.
Danish tersenyum kecil. Tentu, ia akan mengajak Arya berbisnis nantinya. Tapi sebelum itu mereka harus memiliki hubungan antara Anak dan Mertua. Dengan hal itu hubungan keduanya bisa semakin erat. Dan bisnis yang mereka jalani akan berkembang dengan baik.
“Tentu, Om.” Jawab Danish
“Dengan senang hati Danish. Bisnis apa yang ingin kamu bicarakan?”
“Em.. tapi sebelum itu kedatangan saya ke sini untuk hal lain, Om.”
“Oh, ya? Apa itu?” Arya merasa penasaran dengan apa yang ingin Danish bicarakan.
“Papi!” panggil Hanifa
Arya dan Danish menoleh ke sumber suara. Kebetulan sekali Ibu dari Thania datang menemui mereka. “Oh, ada tamu. Maaf, saya tidak tahu.” ujar Hanifa
Danish tersenyum menatap calon Ibu mertuanya itu. Ah, percaya diri sekali dirinya. “Nggak papa, Tante.”
“Mi, duduk sini!” Arya meminta istrinya untuk duduk di sampingnya.
Hanifa menurut. Beliau duduk di samping suaminya dengan senyuman kecil di bibirnya. “Mi, kenalin ini Danish! Dia salah satu teman Papi.” Arya memperkenalkan Danish pada istrinya agar mereka saling mengenal.
Setelah saling berkenalan Arya meminta Danish untuk melanjutkan perkataannya tadi. “Em.. kebetulan sekali Tante Hanifa ada di sini. Karena hal ini menyangkut Om dan Tante.”
Arya dan Hanifa saling menatap. “Oh, ya? Apa itu?” tanya Hanifa
“Saya Dosen putri kalian, Thania.”
Arya dan Hanifa terkejut setelah mendengar perkataan Danish. Bahkan Arya tidak menyangka jika Danish adalah Dosen dari putrinya. Seketika beliau menegakkan tubuhnya. Beliau takut putrinya melakukan kesalahan di kampus.
“Apa yang sudah putri saya lakukan di kampus?” tanya Arya dengan wajah serius
“Om, tenanglah! Saya ke sini bukan ingin menyampaikan tentang kesalahan Thania. Justru kedatangan saya ke sini karena ingin melamar putri kalian, Thania.”
“Ha?” Hanifa mengerjapkan matanya berulang kali. Apa beliau tidak salah dengar?
Arya dan Hanifa saling menatap. Mereka bingung sekaligus tidak percaya dengan apa yang Danish katakan. Mereka masih mencerna perkataan Danish karena takut salah dengar. “Maksud Nak Danish?” tanya Hanifa sekali lagi untuk memastikan semuanya.
“Iya, Om, Tante, saya ingin melamar putri kalian.”
Deg
Hanifa terkejut mendengarnya. Dan sekarang beliau bisa mendengarnya dengan jelas. Rasanya sulit dipercaya. Respon Hanifa berbeda dengan Arya. Beliau justru tersenyum bahagia, seolah hal ini adalah kabar baik untuknya.
“Apa kamu yakin?” tanya Arya dengan wajah antusias
“Pi?” Hanifa menatap suaminya tidak percaya. Bahkan beliau masih terkejut dengan perkataan Danish.
Danish mengangguk yakin. Ia bahkan memberanikan diri untuk menemui Arya dan Hanifa, padahal mereka sebelumnya tidak begitu mengenal. Arya tersenyum. Beliau mengangguk setuju.
“Saya setuju.” Jawab Arya
“Pi, tapi…”
“Kita bicara sebentar!”
Arya mengajak istrinya untuk bicara berdua. Mereka harus bicara secepat mungkin untuk kabar baik ini. “Danish, kita berdua izin untuk bicara sebentar!”
Danish mengangguk sembari tersenyum kecil. “Silahkan, Om!”
Saat Arya dan Hanifa bicara berdua jantungnya berdebar kencang. Danish harap mereka setuju dengan niat baiknya. Tapi, apa Arya dan Hanifa tidak masalah jika dirinya seorang Duda? Hal itu yang menjadi ketakutan Danish.
Di sisi lain, sebuah mobil baru saja memasuki perkarangan rumah Arya. Dan tidak lama keluarlah perempuan cantik bertubuh mungil. Senyumannya manis dan memabukkan. Perempuan itu adalah Thania. Ia baru saja pulang dari suatu tempat setelah berkumpul dengan teman-temannya.
Sebelum masuk ke dalam rumah Thania menatap sebuah mobil yang terparkir di depan rumahnya. Ia seperti tidak asing dengan mobil itu. “Kayak nggak asing sama mobil itu.” gumamnya
Thania mengangkat bahunya acuh. Untuk apa ia peduli? Setelahnya ia masuk ke dalam rumah dengan wajah gembira. “Assalamualaikum. Papi, Mami, Thania pulang!”
“Waalaikumsalam.”
Deg
Sontak Thania menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke samping saat mendengar suara seseorang menjawab salamnya. Ia merasa tidak asing dengan suara itu. Dan betapa terkejutnya saat melihat Danish, salah satu Dosen menyebalkan di kampusnya.
“PAK DANISH!” pekiknya dengan wajah terkejut
Danish tersenyum kecil. “Hai!”
“What? Demi apa?” gumamnya
“Pak Danish ngapain di sini?” Thania seolah tidak terima dengan keberadaan Danish di rumahnya.
“Saya…”
“Eh, putri Mami sudah pulang.” belum selesai Danish bicara tiba-tiba Arya dan Hanifa sudah kembali. Hanifa tanpa sengaja memotong perkataan Danish.
Hanifa menghampiri putrinya. Beliau mengajak Thania duduk bersamanya. Setelah bicara dengan suaminya beliau setuju jika Danish dan Thania menikah. Justru hal itu baik bagi keduanya. Thania bisa dijaga oleh laki-laki baik dan bertanggung jawab seperti Danish.
Wajah Thania terlihat kebingungan. “Papi, Mami, ini ada apa?”
Arya dan Hanifa tersenyum menatap ke arah putri mereka. Hanifa mengelus rambut Thania dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Pi, Mi, jawab pertanyaan Thania! Kenapa ada Pak Danish di rumah kita?" tanyanya sekali lagi dengan rasa penasaran
"Kalian akan menikah."
"APA?" reflek Thania berteriak karena terkejut.
Next>>