Kampus “Huhh.. sabar, Thania! Orang sabar di sayang Allah.” gumamnya Thania menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Ia melakukannya berulang kali agar bisa lebih tenang. Moodnya kembali berantakan setelah mendapat pesan dari Danish. Laki-laki itu memintanya untuk datang ke ruangannya sekarang juga. “Nggak bisa ya, nggak ganggu sehari saja!” “Untung suami.” Thania berjalan menuju ruangan suaminya dengan wajah cemberut. Selama berjalan hatinya terus menggerutu karena kesal. Semenjak menikah dengan Danish hidupnya tidak bisa bebas. Bahkan hanya untuk bergerak dan bernafas terasa diawasi oleh suaminya itu. Tok.. tok.. tok “Masuk!” ujar Danish dari dalam ruangan Ceklek Thania masuk ke dalam dengan wajah dingin. Wajahnya terlihat tidak ikhlas menghampiri Dan

