STM#5

580 Words
* Di kantin sekolah Gadis cantik berwajah bulat, berhidung mancung, bermata Belok dengan bulu mata lentik, berkulit putih, berkulit putih, dan tinggi 160 cm. Benar-benar ciri-ciri cewek idaman, darimananya coba kelihatan seperti cowok? Ya tentu saja dari penampilan luar ku saja. Aku berjalan sendiri kearah kantin sekolah, menyusuri koridor kelas yang tak berjajar untuk para siswa sendang berdiri dan berjalan lalu lalang bersinggungan denganku. Selesai memesan semangkok bakso dan es, aku duduk sendiri di kursi paling atas menunggu pesan saya di sajikan. Aku menoleh ke kanan dan ke kiri, kantin ini penuh dengan para siswa yang mengisi perut mereka yang sudah keroncongan di jam istirahat. Aku menikmati makan siang sendiri, maklumlah masih baru jadi belum punya banyak teman. Apalagi penampilanku yang sedikit berbeda dengan siswa cewek lainnya yang memakai rok bawahan, meminta perhatian setiap orang yang melihatku. Yups! Seperti yang kalian suka, aku pakai seragam layaknya siswa laki-laki. Seragam atas tidak jauh berbeda dengan seragam cewek lainnya, bebas yang berbeda bawahan celana panjang yang aku pakai seperti anak laki-laki. Penampilanku yang seperti ini, mungkin akan membuat siswa lain akan berfikir beberapa kali untuk teman dekat denganku. "Duarr ...." Reza sambil menepuk bahuku dengan cukup keras hingga aku kaget dan nyengir kesakitan. "Ehh ... Sialan! Kamu ngagetin saja. Ngomong-ngomong kok kamu tahu aku ada di kantin" Kataku. "Ha ha ... Cewek seperti kamu ini langka. S Sekalipun melihat saja, dari Surabaya juga bisa tahu kalau kamu. Selain kamu ini gak ada perubahannya, penampilan dari SD sampai SMA tetap seperti cowok" Ucapnya menertawakanku. "Diam kamu! Aku tonjok kalau masih bawel banget" celetukku kesal. "Ampun bos! Gak lagi deh" ucapnya sembari menyatukan kedua telapak tangan dan menyerahkan di depan untuk meminta maaf. Ya! Aku tahu itu cuma candaan Reza yang dulu suka usil. Ia langsung duduk di bangku yang berhadapan denganku. "Srutt" Langsung saja mengambil dan menyeruput milikku hingga tinggal setengahnya. "Eh gila! Minumanku. Seruput utama saja" Teriakku, yang juga haus dan belum sempat minum. "Eh, Maaf! Minuman kamu ya, kok gak ada lebelnya Zea" Memutar-mutar gelas, sambil tersenyum cengengesan. "Ah gila! Kamu pikir buatan pabrik, pakai level semua. Gimana manis?" tanyaku yang ingin mengerjai dia balik. "Emm .... Manis! Manis banget." senyum-senyum, berpangku tangan sambil memandangiku. "Jadi pasti, ada air liurku disitu" aku tersenyum memandanginya, sambil tersenyum bakso yang ada di depanku. "Hueek ... hueek ... Asem kamu!" Pura-pura muntah dan jijik. "Ha ... ha ... Makanya, Jadi orang jangan main nyosor saja" celetukku sambil tertawa. Aku dan Reza ngobrol kesana-kemari, sampai akhirnya terdengar bel masuk kelas pertanda jam istirahat telah selesai. Kami melangkah meninggalkan kantin menuju kelas masing-masing. Waktu terus berjalan, selai mulai pukul 2 siang bel selai belajar telah usai pun berbunyi nyaring. semua siswa keluar kelas untuk kembali ke rumah masing-masing lagi mengikuti kegiatan ekstrakurikuler lagi. Aku berdiri didepan pintu gerbang, menunggu mobil jemputan dari mama. Dari belakang terlihat Reza yang sedang naik motor mendekatiku. "Pulang bareng yuk! Kita kan searah juga dekat," tawar Reza kepadaku, aku masih berfikir sambil menggigit bibir bawahku. "Gak ah! Nanti cewek kamu cemburu, bisa berabe (celaka) aku. Mama mana ya? Kok lama banget" gumamku. "Ha ha ha ... Cewek mana yang akan cemburu sama kamu, mana ada aku boncengan kamu dan kamu memegang yang dikira homo kali. Gimana jadi bareng gak?" "Bentar! Tunggu Rez, aku bareng deh. Mama gak bisa diantar, ada Tante Rosa dirumah" Aku naik ke atas motor Reza dan pakai helm yang ia terima terima kasih. Reza mulai menghidupkan mesin motornya dan menjalankannya. Kami pulang berboncengan pakai motor ke rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD