Purpose - 06

2689 Words
. . . . . . "Kalian ini osis, tapi tingkah kalian memalukan!! terutama buat ketua osis! kenapa kalian melakukan hal yang sangat kekanak-kanakkan?" tanya guru BK dengan ekspresi geramnya, melihat anggota osis plus ketua dan wakilnya berdiri di hadapannya. "Rei! kenapa kau berlarian di koridor? Rei sekaligus ketua osis, menatap guru BK tersebut sambil tersenyum "umm..be..begini.. sebenarnya ada sesuatu.." ujar Rei dengan nada kecil, sehingga guru tersebut tidak bisa mendengarnya dengan baik "hah? apa? apa yang kau katakan?" Rei hanya bisa tersenyum, jika Dia memberitahukan sebenarnya pada guru tersebut. yang jadi malah tetap di marahi. "kami semua sedang pemanasan pak!" ujar Adam yang langsung di lirik oleh Bayu, Rei, Rafael dan Galan. "pemanasan? untuk apa?" tanya Guru itu, "kami pemanasan agar badan sehat dan kuat!" sontak jawaban itu membuat Rei menepuk jidatnya "pemanasan memang membuat badan sehat dan kuat, yang saya tanya kenapa kalian lari-larian di koridor?" "itu pak, kami teriak dan lari-larian karena itu pak.. ada yang kerasukan." kini giliran Bayu yang menyahut, dan membuat Galan ikut menepuk jidatnya. "siapa yang kesurupan?" tanya guru tersebut "ka-kami berlima pak." jawab Adam, "i-iya pak kami berlima.." lanjut Bayu. Guru tersebut menatap bingung, "tadi Adam bilang pemanasan sekarang kamu bilang kerasukan, jangan banyak alasan!" gertak guru tersebut, yang membuat kelimanya tersentak kaget. "ini gara-gara kau, memberi tambahan kerasukan." bisik Adam pada Bayu yang ada di sampingnya "jadi aku harus bilang apa?" bingung Bayu dan keduanya pun berdengus kesal. "kami memang pemanasan pak, tapi saat pemanasan Galan kerasukan dan mengejar kami berempat. maksud Bayu berlima itu salah pak." jelas Rafael, yang membuat keempatnya takjub mendengar penjelasannya yang begitu tak masuk akal menjadi masuk akal. Guru BK tersebut menatap Rafael dengan tajam, kemudian melipat kedua tangannya "jadi, kalian berlarian di koridor sekaligus pemanasan karena Galan kerasukan?" Rafael mengangguk, "haah.. baiklah, saya akan memaafkan kalian semua," kelimanya menghela nafas karena legah. "tapi jangan diulang lagi!" lanjut guru BK tersebut, dan kelimanya serentak mengangguk. di saat mereka berlima pamit untuk keluar, Galan di tahan oleh guru BK. "Galan!" panggil Guru BK tersebut yang membuat kelimanya menoleh ke arah guru BK tersebut. "Kebetulan ada pendeta dan ustadz mampir kesini, mereka sekarang ada di ruangan pak kepala sekolah, jadi ikut aku agar roh jahat di keluarkan dari dirimu itu." spontan Galan langsung berekspresi kaget setengah mati, bahkan keringat dingin sudah bercucuran di keningnya. Galan langsung menoleh kearah 4 sahabatnya, meminta tolong agar dirinya tidak di bawa ke pendeta dan ustadz itu. namun itu sia-sia saja sebab Adam sedang bersiul, Bayu menatap keatas pura-pura tidak tau, Rei pura-pura menelpon di ponselnya, dan Rafael hanya memberikan semangat pada Galan. 'tidak ada gunanya meminta bantuan dari mereka_-' batin Galan. beberapa saat kemudian mereka berempat keluar dari ruang BK, Dan Galan keluar yang terakhir, Galan sempat melihat keempat sahabatnya itu dengan raut wajah geram yang artinya 'aku tidak akan memaafkan kalian.' setelah itu Galan pergi bersama guru BK itu di UKS, untuk menemui sang ustadz dan pendeta. "Galam pasti akan membunuh kita." ujar Rei "ya.. itu pasti." tambah Bayu yang masih menatap Galan dari kejauhan. "siapa sangka Galan itu takut dengan pendeta dan ustadz." sontak ketiga orang itu langsung menatap kaget Rafael. "eh? apa maksudmu?" tanya Rei sekali lagi, dan Rafael hanya tersenyum. "kau bilang, Galan.. takut sama ustadz.." Bayu langsung menatap Rafael dengan horor " dan pendeta?" Bayy melanjutkan kalimat Rei. dan Rafael mengangguk mantap, "kau tau dia takut dengan pendeta! kenapa kau malah menuduhnya sebagai korban kerasukan?!" teriak Rei, dan Rafael lagi-lagi hanya tersenyum. "Aku hanya bercanda.." mendengar respon itu membuat Rei dan Bayu semakin bingung dengan temannya yang satu ini, sedangkan Adam. Dia sedang memikirkan sesuatu maka dari itu Dia diam terus dari tadi. "baiklah, kali ini Galan benar-benar akan membunuh kita.." ujar Rei "ya.. dan kali ini Dia pasti akan membunuh kita dengan gaya karate nya." tambah Bayu yang sudah membayangkan mereka akan di chop karate ala Galan. "oi, adam! kenapa kau dari tadi diam-" "aku pergi dulu! ada sesuatu yang harus ku lakukan!" Adam pun pergi meninggalkan ketiga orang sahabatnya itu. Bayu dan Rei saling tatap, "kalau begitu, aku pergi juga dulu." Rafael pun pergi juga. kini sisa Bayu dan Rei. "selanjutnya apa?" tanya Rei, dan Bayu menaikkan kedua pundaknya. setelah itu menatap Rei yang sedang berekspresi bingung. meskipun Rei ketua osis tapi sifatnya sangat kekanak-kanakkan, bahkan ukuran tinggi badan saja Bayu yang lebih tinggi ketimbang Rei. "dasar pendek." ejek Bayu yang langsung di tatap Shock oleh Rei. "aku tidak pendek! kau yang terlalu tinggi!" teriak Rei, Bayu hanya terkekeh mendengar pernyataan Rei yang begitu imut. "jangan pernah menyela yang namanya takdir." kata Bayu yang langsung kena timpukan sepatu. "diam lah!" teriak Rei dengan wajah blushing, membuat Bayu semakin tertawa. . . . . . . . di dalam perjalanan menuju kelas Adam masih berpikir, meskipun seluruh adik kelas menatap nya sepanjang jalan Dia tidak peduli. kenyataannya Dia masih bingung dengan perasaannya ini. "aaaa!! ini menyebalkan! sangat menyebalkan!" teriak adam, sehingga membuat 2 adik kelasnya yang sempat ingin menyapanya terdiam. Adam menatap kedua gadis itu kemudian tersenyum, "permisi.." kata adam yang langsung pergi. . . . . . . . Adam memasuki Ruang osis dengan wajah di tekuk, saat di bukanya pintu Seluruh anggota osis menatapnya. Mereka sedang mengadakan rapat dengan departemen lain. "oi, Maho!" panggil Rei, yang membuat Adam merinding. "apa kau mau masuk BK lagi?" ancam Adam, "kemarilah.." Panggil Rei lagi, dengan kesal Adammenghampiri Rei dan duduk di sebelah Rei. "baiklah, karena seluruh ketua departement ada disini! mari kita memulai rapat yang dari dulu tertunda!" ucap Rei, yang membuat Adam bingung. 'seluruh ketua?' batin Adam, yang tiba-tiba saja matanya bertatapan dengan seorang cowok yang ada di hadapannya. Mata Adam melebar saat melihat sosok yang ada di depannya itu, antara Kaget dan bingung, sosok yang paling susah di ajak pergi rapat hingga membuat Adam sering berkelahi dengan cowok itu. "Ka..Kau!!" Kaget adam sambil berdiri dari kursinya. "si-siapa yang berhasil membuatnya datang kesini?" tunjuk adam pada cowok itu. "berhentilah membuat wajah kaget seperti itu kak adam," ucap cowok berambut kelimis itu, yang kemudian tersenyum sinis pada adam "aku sendiri yang ingin datang kesini." jawabnya, yang membuat Adam geram dengan sifat sombongnya itu. "Rava Aryasatya!" teriak Adam pada pemuda angkuh itu yang tidak salah adalah cowok yang kemarin dia cium, sekarang malah berlagak angkuh dan menyebalkan. "Adam.. tenanglah.." adam langsung memegang kerah baju Rei "bagaimana aku bisa tenang! dia!" tunjuk adam pada rava "berani-beraninya muncul disini dan mengatakan hal seperti itu!!" Rei langsung melepaskan tangan adam dari kerah bajunya dan menatap geram adam. "Berhentilah bersikap kekanak-kanakkan adam!" Bentak Rei yang membuat ruangan langsung hening. "sekarang tolong jangan emosional dulu! jika kau meneruskan hal sepeleh ini, aku tidak akan memaafkanmu!" anggota osis yang lain terdiam, Adam berdecak kesal. Adam duduk dan terdiam tapi bukan berarti dia terdiam karena takut, Dia malah memerhatikan pemuda angkuh itu dengan emosi yang meluap. 'akan kuhabisi dia..' batin Adam yang masih menatapi Rava. "maaf atas kejadian tadi, mari kita lanjutkan penjelasan yang tadi..." Lanjut rei Adam merenung dengan amarah yang sudah naik sampai ke puncak ubun-ubun nya. melihat Rava yang begitu menyebalkan membuatnya ingin menghancurkan nya, tapi niatnya itu selalu saja hilang ketika mengingat wajah Rava yang begitu imut saat pertama kali Dia cium. Emosi nya menjadi naik turun, dan itu membuat nya kesal sendiri. . . . . . . . "ketua!" panggil adam yang membuat si empunya sebutan itu menoleh kearahnya, adam menghampirinnya sedikit menghirup dalam-dalam udara kemudian mengeluarkannya secara bersamaan dengan suaranya. "Maafkan aku! aku benar-benar minta maaf telah membuat ketua marah!" Rei menatap Bayu yang ada di samping nya, Bayu mengangguk menandakan kode 'maafkan saja dia' sambil tersenyum yang membuat Rei menghela nafas. "ini bukan cuma salah mu, ini salah ku juga yang tidak bisa menyuruh mu diam dari tadi." kata Rei, yang langsung membuat Adam tambah bersalah lagi. "jangan dipikirkan Adam, kuakui Rava orangnya sedikit menyebalkan bisa membuat orang berkerut kening berbicara dengannya." kata Bayu, Adam hanya memiringkan kepala nya sambil tersenyum. "Apa kau tidak ingat tadi saat dia berbicara? Membuatku hampi emosi seperti adam. Tapi untung lah.." "Aku bisa mengontrol emosiku tidak seperti adam yang bodoh ini." lanjut Bayu, Rei langsung menahan Adam yang mengamuk itu. "Apa maksudmu hah?!" teriak Adam, Rei hanya bisa menahan Adam sambil mengucapkan kalimat 'tenanglah' Adam yang dari tadi emosinya meluap kini dia meredahkannya dengan menghembuskan napas panjang dan juga menghitung sampai 10, itulah yang dilakukan Adam setiap kali emosinya memuncak sampai di ubun-ubun. Adam dengan kasar melepaskan tangan Rei dari kedua tangannya. "Aku pulang duluan.." kata Adam sambil mengambil tasnya di kursi kemudian membuka pintu tersebut dan menutupnya dengan kasar sehingga berbunyi keras, Bayu hanya bisa memandangi Adam yang pergi begitu saja. Meskipun terbilang cukup dewasa dalam penampilan namun sifatnya masih terlihat seperti anak-anak. . . . . . . . Adam melangkahkan kakinya menuju loker, dan saat membuka lokernya 3 sampai 5 surat ada di dalam lokernya dengan masing-masing warna yang berbeda. Adam mengambil kelima surat itu dan membaca siapa yang mengirimnya. Dan itu semua dari penggemarnya, dan tidak salah lagi kalau surat tersebut merupakan surat cinta. Adam sempat berpikir, bagaimana jika dirinya di ketahui sebagai seorang Gay, apakah penggemarnya akan terus memberikannya surat cinta? Tidak,tidak,tidak.. Pasti dia akan mendapatkan surat dari penggemarnya dengan tulisan 'MATI SAJA KAU HOMO!' kaito langsung tersenyum jika hal itu terjadi terpaksa dia akan mengurung dirinya di ruang klub hingga pelajaran selesai. Adam segera memasukkan surat tersebut di dalam tas nya, dia berniat menyimpan surat dari penggemarnya itu di rumah dan menaruhnya di dos yang sudah dia isi beberapa surat dari penggemarnya yang lain. Adam tidak pernah membacanya, kenapa? Bagi adam membaca surat dari penggemarnya akan membuat kotak ketawanya rusak. "Kak adam.." Suara itu, suara yang sangat familiar bagi Adam, Adam membalikkan badannya dan melihat siapa yang memanggilnya. Dan itu seorang pemuda dengan seragam training nya, penampilannya itu sangat mempesona di mata Adam, meskipun hanya memakai training saja. "Apa yang kau inginkan lagi?" Tanya Adam dengan nada yang kesal, membuat yang bertanya bungkam sementara. "Aku ingin kak adam melupakan kejadian waktu itu." Adam mengerutkan keningnya, kemudian mengerjapkan matanya sekali. Kejadian waktu itu? Ah.. Adam kini mengerti, kejadian waktu itu dimana Adam mencium Rava dengan sangat lahap layaknya singa kelaparan. Adam tersenyum, dan senyumannya itu membuat Rava merasakan getaran di dadanya dengan suara 'deg deg deg.' "Ya.. Aku tidak keberatan." Respon Adam yang mencoba tersenyum, namun mata nya tidak berbohong, itu merupakan mata yang kecewa. "Hanya itu?" Tanya Adam lagi. Rava terdiam, bibirnya bergetar dan dia tidak sanggup mengatakan kalimat yang akan dia katakan selanjutnya "....dan...berhentilah berbicara dengan ku.." Hening, hanya ada suara deruan angin yang terdengar, Adam terdiam begitu juga Rava. Entah apa yang merasuki Rava dengan mengatakan hal seperti itu, bagi Adam melupakan hal tersebut cukup membuat nya kecewa, karena hal itu lah yang membuat Adam merasa sedikit menyukai bocah rava ini sedikit demi sedikit.. Tapi.. bocah itu malah menyuruh nya melupakan kejadian itu. Adam membalikkan badan nya dan pergi. Saat itu tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Adam, Rava pun seperti itu, dia juga pergi. . . . . . . . . . . . Tangan Rava bergetar saat memegang bola tennis tersebut, saat suara peluit berbunyi Rava melempar keatas bola tersebut dan memukulnya, namun pukulannya malah menjadi OUT. Sudah 5x Rava melakukan kesalahan yang sama, melakukan OUT. Teman-teman Rava yang ada disitu sangat heran, tidak biasanya pangeran tenis bisa melukan OUT selama 5x. "Maaf.. Aku istirahat sebentar.." Rava duduk di bangku cadangan, sang manager memberikannya handuk dan bertanya 'apa kau baik-baik saja? Apa kau tidak enak badan?" dan Rava hanya menjawabnya dengan anggukan. Pandangan mata kosong milik Rava itu terlihat jelas, pikirannya bahkan konsentrasinya hilang akibat mengingat tatapan kecewa dari kakak kelas nya adam yang barusan itu. Rava memegangi kepalanya, dia mencoba untuk tidak mengingat kejadian tadi. Rava berpikir untuk melupakan ciuman panas itu, tapi nyatanya dia tidak bisa melupakannya. Dia masih merasakan bibir Adam di bibirnya, hangat dan mendebarkan. Tapi kenapa Rava menyuruh Adam melupakan ciuman itu? Padahal dirinya sendiri sangat tidak bisa melupakannya. Rava menghela nafas panjang mencoba untuk menenangkan pikirannya. Hingga selesai kegiatan klub dan pulang kerumah, rava masih saja memikirkan hal tersebut di kamarnya sambil berbaring menatap langit-langit kamarnya. Rava berpikir apa yang akan dia lakukan besok jika bertemu dengan adam? Saling beradu mulut satu sama lain lagi? Rava rasa tidak mungkin seperti itu. . . . . . . . . . . . Sejak dua hari kejadian dimana Rava melarang Adam berbicara padanya. Hingga saat ini mereka tidak saling sapa maupun bertengkar mulut. Biasanya diantara salah satu dari mereka akan ada yang memulai pertengkaran tapi ini tidak. Adam membaca beberapa buku komik yang dia pinjam pada Bayu, lagian Bayu merupakan Otaku. Adam membaca nya dengan sangat konsentrasi, matanya berpindah saat gambar selanjutnya ada di samping di kanan dan di bawah. Namun, bukan Adam jika tidak membuat kegaduhan di dalam ruang osis. Nyatanya saat ini Adam sedang tidak berkeinginan membuat kegaduhan dan itu membuat sahabatnya yang ada di ruang osis tersebut merinding ketakutan melihat Adam bertingkah seperti itu. "Tidak biasanya adam diam seperti ini, dan lagi ini sudah 2hari.. Apa ada masalah?" Tanya Rei pada Bayu, Bayu yang selaku sahabat Adam angkat tangan karena tidak tau apapun dan itu membuat Rei menghela nafas. Di lain sisi, galan membuka jendela dan melihat ke arah langit. "Ah.. mungkin akan datang badai besar." Ujar galan yang sebenar nya khawatir dengan tingkah Adam itu. "Adam.." panggil rafael yang membuat si empunya nama menyahut namun pandangannya masih berada di kotak-kotak gambar itu. "Kau terlihat lesu.. Apa adam ada masalah?" Adam terdiam, Rei dan Galan menunggu jawaban Adam. Namun beberapa menit lamanya Adam tidak menjawab dan hanya membalik kertas komik itu ke halaman selanjutnya. "Hoi Alien! Apa-apaan kau ini? Kau membuat kami disini ketakutan!" Pekik Galan, Adam hanya mengangguk dan mengucapkan Maaf. Dan itu semakin membuat anggota osis terkejut, adam tidak pernah mengatakan kata Maaf sebelumnya, itupun jika dia buat salah dia tidak pernah minta maaf. Kecuali jika pikirannya kacau atau ada masalah dalam dirinya dia pasti akan minta maaf. "Apa-apaan ini? Apa kau mencoba menyembunyikan masalah mu?" tanya Rei yang mulai emosi, adam tidak berucap tatapan matanya itu seperti tidak membaca komik tersebut. "Bayu.." panggil Kaito, Bayu langsung menyahut. "Besok bawakan aku volume selanjutnya dari komik ini." Adam membereskan barangnya dan memakai tasnya, tangannya masih memegang komik tersebut "aku pulang cepat hari ini.. Ketua.." Rei menatap adam, dan pandangan adam benar-benar kosong yang membuat Rei menahan emosinya. "Pulanglah.. Dan jangan pernah kembali ke sini." Kalimat itu membuat baik Rafael maupun Galan kaget setengah mati, "jika kau masih ada masalah, jangan datang kesini.. Kau membuat anggota lain ketakutan dan khawatir." Adam mengangguk dan pergi. Adam mengerti apa yang dimaksud dengan Rei, dia ingin Adam menenangkan dirinya. Adam pun keluar dari ruang osis dan berniat untuk pulang, saat menuruni anak tangga Adam melihat mesin penjual otomatis di sana, jadi dia berhenti dan menghampiri mesin minuman, memasukkan koin dan menindis tombol juicy orange, Adam mengambilnya dari bawah dan membuka penutup juicy tersebut dan meminumnya. "Mm.. Etto.. Mari kita lihat, suichi menyerang balik.." adam melihat kembali komik tersebut dan membacanya sambil jalan, kebetulan koridor sekolah sangat sunyi jadi dia bisa jalan dengan bebas sambil membaca komik. Matanya masih menatap gambar di komik itu sambil meminum juicy nya. Sehingga tiba-tiba seseorang menabraknya yang membuat Adam kaget dan menjatuhkan minuman kaleng nya. "Ma-maaf, aku terburu-buru jadi—" Mata mereka bertemu, pandangan kosong Adam menatap mata penuh penyesalan yang ada di hadapannya itu. Rava, pemuda yang menabrak Adam itu langsung pergi saat mereka saling melempar pandangan. Tapi dengan sigap Adam memegang tangan Rava agar tidak pergi dan itu membuat Rava menatap Adam dengan bingung. "Bertanggung jawablah karena sudah menjatuhkan juicy ku." Rava segera melepaskan tangannya dari adam dan mengangguk, Rava menghampiri mesin minuman tersebut dan menindis minuman yang sama persis dengan Rava inginkan setelah itu memberikannya pada Adam. Adam menatap Rava yang ada di hadapannya itu dengan sedih. Adam ingin Rava menjelaskan kenapa Dia harus melupakan kejadian waktu itu. Adam butuh penjelasan, namun saat Adam ingin bicara Rava segera pergi dengan mengatakan 'jangan pernah muncul dihadapanku' kalimat itu membuat Adam semakin yakin bahwa Rava telah menyesal memberikan ciuman pertamanya pada Pria sepertinya. Kejadian itu terus berlanjut hingga 4hari. -To be Continued-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD