Virginity Passionate - 04

1449 Words
. . . . . . . . . . . . . Kini berbagai pertanyaan kembali muncul di pikiran Adam, apa ia ini sekarang biseksual? Ya, mungkin, karena ia bisa merasakan perasaan suka pada perempuan dan laki-laki sekaligus, buktinya ia sudah mencium Rava dan hampir mencium seorang gadis, meski tidak jadi. Ini yang aneh, mengapa saat ia hendak mencium gadis itu pikirannya tiba-tiba terlintas sosok Rava dan hatinya berkata bahwa berciuman dengan si pangeran tenis itu lebih nyaman. Mungkin dia homoseksual? "Apa karena aku tidak mengenal gadis itu ya?" gumam Ad saat ia sudah berada di depan ruang OSIS. Begitu ia membuka pintu nampak Rei, si ketua OSIS yang menyambutnya sambil membawa beberapa lembar kertas, "Oh, adam. Akhir nya kamu datang," sapa nya seperti biasa. "Rei!" panggil ad memasuki ruangan OSIS dan menghampiri pemuda yang sedikit pendek dari nya itu, "Maukah kau melakukan seks denganku?!" ajak adam secara spontan. Hal itu langsung membuat Rei menjatuhkan kertas di genggamannya, kedua matanya membulat menatap Adam horor sekaligus terkejut, "What the f**k! Apa yang kau baru saja katakan?!" tanyanya sedikit berteriak. "Ayolah aku tahu hal ini tidak sembarangan dilakukan, tapi.. aku ingin mencobanya denganmu," ungkap Adam kelewat santai dengan wajah tanpa dosanya. "Hei!! Itu bukan sesuatu yang kau lakukan hanya karena ingin mencobanya, apalagi dengan sembarang orang!" protes Rei merasakan aura berbeda dari wakil ketua osis nya ini "What the hell, guys?! Are you f*****g kidding me?" batin Rei bertanya-tanya, tiba-tiba masuk ke ruang OSIS dan tidak ada badai atau petir mengajaknya melakukan seks? Apa otak adam sudah benar-benar kusut sekarang? "Kita ini teman kan?" desak Adam masih dengan wajah seriusnya itu yang sungguh minta dipukul sekali, kedua tangannya mencengkram bahu tegap Rei erat. "Seharusnya aku yang bilang begitu! Aku tidak mau! Lebih baik aku mati! Itu menjijikan! dan lepaskan aku!" ujar Rei berteriak. "Ini tidak terlalu buruk Rei, jika bersamamu... kalau begitu aku akan mencari orang yang sama menjijikan nya," ujar Adam menatap Rei dengan tatapan kecewa, sementara si ketua osis itu malah menatapnya jijik dan ingin agar pemuda itu tewas di laut. Bukan hanya ada rei saja di dalam ruangan itu, ada satu anggota lagi, keberadaan mya sangat susah di rasakan, bahkan sedari tadi pria itu telah mendengar percakapan aneh antara sang ketua osis dan wakil ketua osis itu. "Huh, bagaimana denganmu Iria Ini tidak benar, tapi kita sering-" "Menjauh dariku bodoh!" Penolakan mentah itu membuat adam lagi-lagi kecewa. "Hei apa yang terjadi di sini?" tanya Bayu yamg baru juga datang. "Dan mengapa kau begitu panik seperti hendak menangis rei?" suara Bayu melanjutkan, begitu melihat Rei saat ini di cengkram kedua bahunya oleh adam. "Itu karena tingkah adam yang sangat aneh sekarang!" jelas Rei ketakutan, demi apa dia jijik mendengar semua kalimat Adam barusan. "Haha, itu memang bukan hal yang baru bukan?" terang Bayu sambil tertawa pelan. "Bukan yang itu maksudku!" protes Rei tidak terima. Sementara Adam hanya terdiam tidak bereaksi apapun setelahnya. melepaskan cengkraman tangannya dari kedua bahu Rei. ini semakin aneh, mengapa ia tidak tertarik dan sama jijiknya dengan Rei saat mengajak ketua osis nya itu melakukan seks? Mengapa berbanding terbalik jika yang ia ajak itu Rava? Apa benar ia menyukai si pangeran tenis yang angkuh itu? . . . . . . . . "Ahh! Aku tidak bisa melakukan ini!" keluh Adam frustasi di depan meja komputernya, "Aku akan menjadi benar-benar bodoh jika terus melihat itu!" ujarnya lagi kemudian bangkit dari kursinya. Sebenarnya barusan adam habis berselancar di salah satu web yang berisikan konten gay, ia hanya sekedar ingin memastikan ulang soal orientasi seksnya sendiri, apa Ada. menolak? Tidak— tapi apa ia menerimanya? Tidak juga kawan. Hal ini masih diperdebatkan oleh ia sendiri. Adam pun membaringkan tubuhnya di atas ranjang miliknya, menaruh kedua lengannya di belakang kepala, otaknya mencoba berpikir ulang mengenai kejadian hari ini dan kebanyakan objeknya adalah Rava, si pangeran tenis sialan yang sudah membuatnya seperti sekarang. "Ya, sekarang aku sudah tahu gambarannya," gumamnya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna keabuan, "Tapi, aku tidak benar-benar ingin mengetahuinya, walau sekarang yang aku tau bagaimana cara melakukannya." Kupikir kalian tau apa yang dimaksud Adam bukan? Ini terlalu rumit sungguh, Rava, si ketua Sport Departemen yang ia nobatkan sendiri sebagai musuhnya kini malah membuatnya seolah kehilangan jati dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia terlihat seperti ahli hanya karena melihat wajah Rava? Berciuman satu sama lain seolah sudah terbiasa, padahal mereka sama-sama masih Perjaka, sungguh konyol bukan? Tanpa sengaja kedua matanya melirik salah satu majalah gay yang tergeletak di pinggir ranjangnya, Majalah itu milik adik perempuannya. adam mengambil majalah itu sembunyi-sembunyi. dan tidak heran Adiknya menyukai hal-hal yang berbau seperti ini. dengan iseng Adam mengambilnya kemudian membuka halaman demi halaman, lagi wajahnya memerah tiap kali melihat adegan panas yang digambarkan oleh sesama jenis itu, apalagi otaknya kini mulai membayangkan-, "Tidak, tidaaaaaakk!" teriaknya mencoba menolak kenyataan ini. . . . . . Esoknya Adam kembali menemui Rava di depan ruangan kemarin dengan fakta semalam ia hampir tidak tidur, tanda hitam di bawah matanya merupakan bukti yang cukup jelas, dengan bangganya ia berdiri di hadapan Rava sambil melipat kedua lengannya di depan d**a. "Aku bersedia menjadi tutormu, karena aku sedang bebas juga sekarang," terangnya yakin. "Asal kau mau memohonnya dengan sungguh-sungguh," lanjutnya lagi yang membuat Rava langsung menatapnya. Adam tersenyum sembari dalam hatinya berharap bahwa Rava akan marah, karena merasa sudah dipermainkan untuk yang kedua kalinya seperti sekarang, ya.. ia hanya ingin hal itu untuk membuktikan bahwa- "Aku mohon padamu..." pinta Rava sambil menatap tepat ke dua mata Adam tulus, tidak ada ragu-ragu lagi dari kilatan matanya. Itu membuat Adam tertegun melihatnya, ini menyeramkan, mereka sudah terlalu cukup terjebak dalam situasi yang rumit seperti ini. Adam semakin melebarkan senyumannya saat mendengar musuhnya yang angkuh nan dingin ini memohon dengan begitu imut di hadapannya. Kali ini Adam yang menarik Rava ke dalam ruangan kemarin, memojokkan tubuh atletis itu dan menciuminya, menahan tengkuk Rava dan memperdalam intensitas ciumannya, kali ini lebih dari ciuman, bibir Adam mulai merambat ke arah rahang hingga berada di leher putih nan mulus milik Rava, menggigit, menghisap, dan menjilat daerah di sana secara teratur dan membuat bekas keunguan "Ngghhh... K-kak adam..." lenguh Rava merasakan sakit sekaligus nikmat pada lehernya karena ulah bibir seksi milik Adam. Adam melakukan hal lebih lagi, tangan besar milik nya merambat masuk ke dalam celana training yang digunakan Rava, menggenggam sesuatu di sana yang mulai terangsang, memberikan servis. Rava yang terus mendesah tertahan di dalam ciuman mereka seiring dengan cengkraman nya pada kemeja Adam, akibat rasa nikmat yang dia rasakan saat ini. Hingga cairan putih itu keluar membasahi tangan Adam yang ia keluarkan dari dalam celana Rava, kini tangannya sudah penuh dengan cairan berwarna putih pekat, sontak membuat wajah Raba memerah malu karenanya. "Apa tidak apa-apa?" tanya Raba merasa bersalah atas ereksinya yang begitu cepat. "Ya tentu saja," jawab Adam sambil membersihkan tangannya dengan sapu tangan. "Bagaimana denganmu?" Tanya Adam. "Aku baik." Jawab Rava cuek dan juga sempat tersenyum, padahal sebenarnya... 'Ya tentu saja, aku tidak baik, apalagi saat kau menyentuhku dan aku ereksi dengan cepat!' lanjut Rava dalam hatinya. Setelah selesai membersihkan tangannya Adam terdiam menatap Rava yang sedari tadi menunduk setelah itu, terlihat imut dan menggemaskan ketimbang saat pangeran tenis itu berjalan di depan umum dengan angkuh. "Hei dengar ya, aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhku dengan mudah," terang Adam seolah menghibur Rava, sebelah tangannya hendak kembali menangkup wajah Rava tapi keburu ditepis oleh pemiliknya. "Ya ya aku dengar, sampai bertemu lagi." terang Rava acuh kemudian menggeser pintu di belakangnya, membuat Adam memandangnya dengan tatapan penuh arti begitu melihat ekspresi Rava "Aku baru saja melewatkan kesempatan yang langka." gumam Adam pelan lalu terdengar pintu yang tertutup. . . . . . . Malamnya Adam terduduk di lantai sambil bersandar pada pinggir kasurnya, pikirannya tidak bisa tenang sama sekali, kedua matanya menatap sebelah tangannya yang kosong. Sekilas ingatan kejadian tadi siang, dimana Adam merasa ia kehilangan kesempatan langka untuk memperjelas mengenai perasaannya kini terhadap Rava si pangeran tenis yang angkuh. Bagaimana bisa pemuda itu begitu patuh dan tidak menolak sedikit pun saat Adam menyentuh dan menciumnya? Dan lagi bayangan bagaimana wajah dingin milik Rava berubah menjadi begitu erotis, saat sebelah tangannya ini memberikan servis pada milik Rava masih terus terbayang di benaknya dengan jelas dan runtut, hingga Adam sadar bahwa punyanya ikut terbangun saat ini. "Ngghh... Rava... ahh..." lenguh Adam sembari memanjakan miliknya sendiri, rasanya sungguh tidak nikmat dan sedikit menyiksa. Perasaannya yang kalang kabut dengan Rava sungguh membingungkan, hatinya begitu gundah gulana dan lagi otaknya tidak bisa berhenti memikirkan pemuda itu. Sampai Adam mencapai klimaksnya sendiri, dan sadar atas apa yang ia lakukan, Adam menatap nanar tangannya yang basah oleh cairannya sendiri. Tak percaya bahwa objek nya untuk ejakulasi adalah Rava. "Apa yang sudah aku lakukan?" -TO BE CONTINUED-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD