Sinar matahari pagi itu terasa hangat menyentuh kulit. Ditambah angin sepoi-sepoi yang menyegarkan menyapu lembut kulit Anita. Dia menjadi sedikit rileks setelah bersitegang di dapur tadi. Dia ingin duduk di taman barang sebentar saja. Menikmati pagi yang sempurna dengan ditemani secangkir kopi dan camilan ringan. Namun tentu saja hal itu tidak bisa dilakukan. Karena dia harus segera ke aula tempat jamuan makan malam nanti. Dia ingin tahu apalagi yang sudah dilakukan Silvi kemarin sepeninggalannya. "Bagaimana persiapannya?" Tanya Anita pada Edo. Orang yang dia percayakan untuk memimpin dekorasi kali ini. "Sudah lima puluh persen, Nyonya. Tinggal dekorasi dekorasi kecil yang butuh konsentrasi." Jawab Edo. Semua tampak normal disini, sesuai dengan apa yang Anita inginkan. "Apa Silvi kema

