BAB 22

1106 Words

        Anita duduk dengan wajah sendu di depan meja riasnya. Berbanding terbalik dengan Dania yang dengan cekatan memoles wajah Anita dengan ceria. Dia selalu senang jika mendapat kesempatan mendandani Anita. Karena sahabatnya itu sangat jarang memakai make up.         "Kamu harus kuat sayang. Jangat lemah begitu. Sebentar lagi kan kamu akan pergi berperang." Kata Dania memberi semangat.         Anita mendesah lemah. "Bagaimana aku bisa ceria kalau keadaan pak Abraham mengkhawatirkan seperti itu. Aku nggak bisa fokus, nia." Jawab Anita.      Sekarang giliran Dania yang mendesah. "Nita.. Kamu ingat peranmu kan?! Kamu memang dibayar pak Abraham untuk menggantikannya karena tubuhnya sudah tidak sehat. Kalau beliau sehat, kamu tidak diperlukan disini. Justru pada saat seperti inilah kamu h

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD