Gared seketika mendongak ke arah Bella seolah sadar dari pengaruh alkoholnya lalu mundur menjauh dari bella.
"Maaf honey aku tidak bisa melanjutkan ini, maafkan aku telah menyakitimu."
Gared yang tiba-tiba beranjak dari kegiatan panas itu kemudian meninggalkannya masuk ke dalam kamar mandi.
Membuat Bella bingung dengan sikap Gared yang mendadak berubah ditengah aktifitas panas yg sudah membuat wanita itu telanjang bulat.
"Kenapa? apa ada yang salah denganku?, atau dia marah karena aku belum bisa mengimbangi gairahnya," gumam Bella bertanya-tanya atas perubahan sikap Gared.
Bella perlahan menuruni ranjang untuk mengambil kembali pakaiannya yang berserakan di lantai.
Namun ada sedikit rasa perih muncul di inti Bella.
"Bahkan ujungnya yang besar itu belum sepenuhnya masuk tapi kenapa rasanya sesakit ini," gerutu Bella membayangkan kembali senjata laras panjang milik Gared yang terlampau besar menurut wanita itu bahkan dia mungkin perlu kedua tangan untuk menangkupnya.
Menunggu cukup lama akhirnya Gared keluar dari kamar mandi kembali berpakaian.
"Maaf honey aku harus keluar sebentar jangan tunggu aku dan segeralah tidur," pamit Gared mengecup singkat kening Istrinya.
Seolah kelu Bella hanya dapat terdiam tanpa bisa berucap apapun setelah kepergian Gared.
"Kenapa malam pertama yang harusnya menjadi hal yang sangat mendebarkan berakhir seperti ini?" gumam Bella bersamaan lolosnya airmata di pipi.
Meratapi kesedihan di malam pertama yang gagal dengan berlama-lama berendam di kamar mandi menangis tanpa tau salahnya di mana.
Rasa kantuk yang mulai mendera membuat wanita itu, segera mengakhiri kesedihan dan keluar dari kamar mandi.
Seperti intruksi dari Gared untuk jangan menunggunya pulang dan segera tidur.
"Aku akan menanyakannya lagi besok pagi," gumam Bella sebelum benar-benar terlelap.
Malam itu Bella meringkuk sendirian di ranjang yang besar tanpa suaminya.
Di pagi harinya, saat Bella membuka mata tidak menemukan keberadaan Gared di samping tidurnya. Namun sedetik kemudian terdengar suara gemericik air dari kamar mandi.
"Sepertinya Gared sudah bangun lebih dulu," pikir Bella segera bangun dan menunggu Gared keluar.
Sekitar sepuluh menit Gared keluar dengan mengenakan bathrobe disitu pula menyeruak aroma maskulin dari tubuh Gared.
"Pagi honey, kau sudah bangun," sapa Gared mengecup singkat bibir Bella tanpa risih walau istrinya itu belum menggosok gigi.
"Pagi honey, sebaiknya aku mandi dulu lalu berkemas karna hari ini kita harus segera checkout," ujar Bella beranjak dari tempat tidur.
Di dalam kamar mandi Bella merasa aneh dengan sikap Gared yang kembali berubah menjadi pria yang romantis seperti biasanya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Berbeda jauh dari Gared yang semalam Bella lihat.
Selesai mengemas semua barang-barang mereka menyempatkan sarapan dulu di penginapan sebelum kembali kerumah Gared.
Sebelum menikah mereka memang memutuskan untuk tinggal di rumah Gared.
Di sela-sela sarapan pagi itu Bella memberanikan diri untuk bertanya pada Gared.
"Honey, aku punya sedikit pertanyaan yang mungkin akan sedikit menyinggungmu."
"Apa yang kamu tanyakan, honey? tidak masalah aku akan menjawab sebisaku," ucap Gared
"Kenapa kau tiba-tiba berubah saat kegiatan panas tadi malam dan mengakhir begitu saja."
"Dan kemana kau pergi tadi malam? " tanya Bella
Helaan nafas yang panjang Gared mencoba menjawab dengan tenang semua pertanyaan Bella.
"Sebelumnya aku minta maaf honey telah membuatmu kecewa tadi malam, sejujurnya di tengah kegiatan tadi malam kesadaranku mulai kembali dari pengaruh alkohol," jelas Gared diam sejenak
"Aku sadar itu tidak benar, aku tidak bisa b******u denganmu dalam keadaan yang di pengaruhi oleh alkohol, aku ingin mencintaimu dalam keadaan yg sadar, honey."
"Aku tidak ingin berbuat kasar dan menyakitimu," lanjut Gared dengan raut wajah sedih.
Bella diam masih setia mendengarkan penjelasan dari Gared.
"Lalu aku pergi keluar untuk mencari udara segar, karna aku merasa sangat bersalah padamu," ucap Gared dengan raut wajah sedih.
Bella yang sudah termakan omongan Gared, merasa bersalah karna telah berpikir yang aneh-aneh pada Gared.
Dengan segala penjelasan yang Gared berikan perasaannya mulai luluh kembali dan membuang semua rasa sedihnya semalam.
Jarak penginapan ke rumah Gared tidaklah jauh hanya sekitar lima belas menit naik mobil. Lalu mengapa setelah menikah malah memilih menginap di hotel bukan kembali pulang ke rumah? itu karena mereka memang ingin mengukir momen spesial di penginapan namun ternyata gagal.
Gared dengan romantis membukakan pintu mobil mempersilahkan istrinya itu turun sesaat tiba di depan rumahnya.
"Selamat datang di rumah kita nyonya cadieux." Pipi Bella merona, bukti wanita itu yang sudah di butakan oleh cinta Gared.
Rumah dengan design simple sesuai selera kebanyakan pria pada umumnya. Terdapat dua kamar yaitu satu kamar utama dan satu kamar tamu.
Dapur yang sekaligus terdapat meja makan yg dapat menampung empat orang, ruang tamu dan satu ruangan yang di gunakan Gared sebagai gudang penyimpanan.
Tidak butuh banyak waktu untuk memindahkan barang-barang Bella dari rumah yang sebelumnya ia sewa.
Karna memang Bella tinggal seorang diri dan tidak banyak mempunyai barang-barang berharga.
Seharian hingga malam di habiskan di dalam rumah sebelum kembali di sibukan dengan perkerjaan esok hari.
Memasak bersama, menonton film romantis hingga tanpa sengaja tertidur hingga esok pagi.
Hari ke tiga pernikahan
Pagi hari yang mulai di sibukan dengan pekerjaan kembali. Sebelum pergi berangkat bekerja pasangan yang sudah resmi menjadi suami istri itu menyempatkan sarapan bersama meski hanya dengan segelas s**u dan sepotong sandwich. Keluar rumah berpamitan di jalan depan rumah karna memang tempat kerja yg berlawanan arah.
"Sampai jumpa honey semoga harimu menyenangkan," pamit Gared mencium bibir Bella singkat, sebelum benar-benar pergi bekerja.
"Untukmu juga honey, semangat. Aku mencintaimu."
arah rumah Gared ke tempat Bella bekerja hanya sekitar lima menit jalan kaki sedangkan jarak ke tempat kerja Gared sekitar dua belas menit jalan kaki.
Begitu masuk ke tempat kerja aroma roti yang baru selesai di panggang menyeruak di indra penciuman Bella, aroma yang sudah sangat wanita itu rindukan.
"Selamat pagi Bella, kau sudah mulai bekerja kembali hari ini?" sambut rekan kerja Bella yang sudah hadir lebih dulu.
"Iya Alice, baru tiga hari tidak bekerja aku sudah sangat rindu aroma roti yang baru di panggang di sini," ungkap Bella yang sudah rindu bekerja di toko roti.
Berjalan menuju pintu lalu membalik papan yang tergantung di kaca yang bertuliskan "OPEN".
Seperti biasa Bella selalu menyebar keceriaan ke setiap pengunjung yang datang.
Dengan ramah dan senyum manisnya bella tidak pernah gagal membuat pengunjung datang kembali karna memang roti-roti yang di buat adalah salah satu roti terenak di kota itu.
Senja terlukis indah sore itu menghiasi perjalanan pulang Bella berharap suaminya sudah berada di rumah, karna sebelum pulang pesan yang di kirim Bella belum dibalas sama sekali.
Bella berencana mengajak Gared pergi berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari yang belum tersedia di tempat tinggalnya.
Sekaligus mengajak suaminya itu pergi makan malam di luar.
"Halo Bella," sapa wanita paruh baya dari arah belakang Bella.
Bella pun langsung menoleh ke belakang, dan ternyata itu adalah Nyonya Dobson. "Halo Nyonya Dobson, apa kabarmu? ternyata kau masih di sini," sapa Bella kembali.
"Iya, aku masih di sini untuk beberapa hari untuk berlibur bersama suamiku dan Jacob. Setiap kali datang ke sini, kita belum sempat berlibur ke tempat-tempat indah di kota ini," ujar Nyonya Dobson.
"Maaf Nyonya, aku harus segera pulang, karena suamiku sudah menungguku di rumah," pamit Bella sopan.
"Iya, Hati-hati di jalan," jawabnya.