Pergi

1174 Words
Flashback off Pagi ini Bella berencana meninggalkan kota ini dan pergi ke kota sebelah usai semua urusan terselesaikan dan barang-barang milik Bella telah selesai di kemas. Berjalan kaki menyeret koper menuju tempat pemberhentian Bus. "Selamat tinggal," lirih Bella menatap sekitar Perjalanan menuju kota sebeleh membutuhkan waktu tiga puluh menit naik bus ke stasiun lalu dilanjut dua jam perjalanan menggunakan kereta. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti tepat di depan Bella menunggu bus. "Sedang apa kau di sini Nak?" tanya Nyonya Dobson seteleh membuka kaca jendela mobil di bagian belakang. "Aku sedang menunggu bus menuju ke stasiun Nyonya," jawab Bella sopan "Lalu hendak kemana kau pergi dengn koper besarmu itu," tanya Nyonya Dobson kembali "Aku berencana pergi ke kota sebelah Nyonya agar dapat melupakan semua masalah di sini," ujar Bella "Kalau begitu ikutlah dengan kami, kebetulan kami juga akan kembali pulang ke kota sebelah," ajak Nyonya Dobson "Tidak perlu Nyonya, aku takut malah merepotkan kalian." "Tentu saja itu bukan masalah, jangan sungkan ayo cepat naik," ajak Nyonya Dobson sedikit memaksa Bella. Akhirnya Bella menerima ajakan Nyonya Dobson untuk pergi bersama menuju kota sebelah. Perjalanan terasa lebih cepat dengan mengendarai mobil membutuhkan waktu hanya satu setengah jam. Di sepanjang perjalanan Nyonya Dobson sedikit banyak menasehati dan menyemangatiku. "Bangkitlah kembali seperti Bella yang dulu aku kenal, lupakan dan jangan berlarut-larut dalam kesedihanmu." "Sebaiknya kau tinggal dulu bersama kami sebelum mendapatkan tempat tinggal baru di sini, ada kamar kosong di rumah Jacob sebab putriku dan suaminya akan kembali pulang dari luar negeri untuk sementara waktu, jadi rumahku sudah tidak ada kamar kosong lagi, namun jangan khawatir karna rumah kami dan Jacob bersebelahan," Jelas Nyonya Dobson "Terimaksih Nyonya kau telah sangat baik dan mau menolongku, aku takut malah merepotkan Tuan Jacob nantinya," ucap Bella yang sangat berterimakasih atas kebaikan Nyonya Dobson. "Tidak masalah Jacob akan merasa senang dapat membantu dan tinggal di rumahnya sementara waktu,'Bukankah begitu Jacob ?'" tanya Nyonya Dobson pada Jacob yang dijawab dengan senyuman dan anggukan di balik kemudi mobil. Karena kota sebelah sudah memasuki awal musim gugur, udara yang masuk lewat sedikit celah jendera mobil terasa dingin menyapu kulit Bella. "Sepertinya sebentar lagi akan hujan," gumam Bella "Benar, setiap hari di sini sudah mulai turun hujan dan badai," sahut pria culun di balik kemudi stir yaitu Jacob. Benar saja selang beberapa menit hujan turun sangat deras. Terlihat banyak hewan ternak berlarian menuju kandangnya. "Apakah perjalanannya masih jauh Nyonya?" tanya Bella pada Nyonya Dobson "Sebentar lagi kita akan sampai, jika kau melihat dua rumah dengan hamparan kebun yg luas itu lah Rumah kami," jawab Nyonya Dobson. Dari kejauhan terlihat dua Rumah dengan gaya khas pedesaan dan hamparan kebun yang sangat luas juga peternakan yang cukup jauh berada di belakang. Mobil memasuki pekarangan rumah mereka dengan cuaca yang masih hujan sangat deras di luar sana bahkan mungkin sebentar lagi akan ada badai. Sayangnya hanya terdapat satu payung di mobil itu. "Sebaiknya Bibi saja yang pakai payung ini, biar aku dan Nona Bella berlari dari sini," usul Jacob Kami memutuskan untuk segera keluar dan berlari menuju teras rumah milik Jacob sedangkan Tuan dan Nyonya Dobson menggunakan payung berdua menuju rumah mereka yang berada di sebelah. Meski jarak mobil ke teras rumah Jacob hanya tinggal lima meter saja tetap membuat pakaian Bella dan Jacob basah kuyup hingga mencetak jelas dua gundukan besar di dalamnya. Dengan segera Jacob membuka kunci pintu mempersilahkan Bella masuk. Karna merasa tidak nyaman dengan tubuh sudah basah kuyub Jacob spontan melepas kaos yg di pakainya tanpa menyadari Bella yang tengah melonggo menatapnya dari belakang. "O-oh M-maafkan aku Nona, aku lupa kau ada di sini," ucap Jacob canggung "Lebih kau mandi dulu nona agar kau tidak terkena flu," usul Jacob sambil menyerahkan handuk pada Bella. "Tapi semua pakaianku berada di koper." "Kau bisa memakai pakaianku untuk sementara nona, karna di luar sedang ada badai, Aku tidak berani keluar mengambil kopermu sebelum badai berhenti," Ujar Jacob Bella segera menuju kamar mandi yang di tunjukan Jacob sebelum pergi membersihkan kamar yang akan di tempati Bella. Beruntung pemanas air berfungsi dengan baik karna Jacob bilang pemanas air dikamar mandi luar sering bermasalah hingga Jacob menawarkan kamar mandi di kamarnya jika pemanasnya bermasalah lagi. Berendam air hangat membuat tubuh Bella kembali segar. Selesai ritual membersihkan diri Bella menatap dirinya di pantulan kaca memakai pakaian Jacob yang terlihat sangat kebesaran. Meski mengenakan kaos lengan pendek Jacob yg kedodoran sampai diatas lutut apalagi Bella tidak memakai dalaman sama sekali membuat Bella terlihat menggoda. Sedangkan Jacob sibuk berkutat di dapur membuat minuman hangat untuk Bella setelah menyiapkan kamar yang akan di tempati Bella. Namun na'as, saat Jacob hendak berbalik badan membawa nampan berisi minuman hangat ia di kejutkan Bella yang sudah berada di belakangnya. "Astaga M-maafkan aku nona, aku tidak sengaja," ucap Jacob gugup, melihat penampilan Bella yang terlihat s*xy menggunakan kaosnya yang kebesaran. Semua minuman tumpah membasahi baju Bella yang membuat kedua gundukan bagian depan tubuh wanita itu tercetak jelas bahkan benjolan kecil di tengahnya. Jacob yang panik spontan membantu membersihkan baju Bella yang malah membuat Jacob semakin salah tingkah. Pasalnya Jacob melihat dengan jelas dua benjolan diatas gundukan Bella dan tak sengaja menyentuhnya. Situasi yang membuat keduanya sama-sama canggung dan terdiam sejenak. Jacob yang sebagai pria normal tubuhnya memanas merasakan sesuatu yang mulai mengeras dan mengganjal di bawah sana. Entah mendapat bisikan dari mana tiba-tiba Jacob melangkah mendekat menarik tengkuk Bella dan langsung melumat bibir wanita itu. Mata Bella terbelalak mendapatkan serangan mendadak tersebut, namun ketika lidah Jacob mencoba menerobos bibir manisnya, menyalurkan sensasi yang tak bisa di ungkapkan oleh Bella, kemudian memejamkan mata memiringkan kepala agar Jacob bisa lebih leluasa bermain dengan l*dahnya. Merasakan dan menikmati ciuman dari pria culun di hadapannya yang terasa lebih nikmat luar biasa di banding dengan Gared dulu. Namun ciuman itu terasa begitu cepat ketika Jacob menjauhkan bibirnya, membuat Bella membuka mata. "M-maaf aku bukan bermaksud melecehkanmu, T-ttapi,,,,." Belum sempat Jacob melanjutkan kalimatnya Bella sudah membungkam bibir Jacob dengan lumatan darinya. Seolah tau Bella sama-sama menginginkannya, Jacob ikut melumat dan mengikuti permainan Bella. Jacob mengerang ketika Bella sangat lihai melumat dan menyambut lidah pria itu dengan lidahnya. Dia menarik tengkuk lalu memiringkan kepala wanita itu agar dirinya bisa melumat bibir manis Bella leluasa dengan kedua tangan yang melingkar di lehernya. Tak cukup dengan mencecap bibir manis Bella, kini tangan Jacob mulai turun menelusup di balik kaos yang kebesaran di tubuh Bella. "E-emmhp aahh," desahan Bella lolos ketika Jacob mulai mer*mas buah d*danya. Tak puas dengan hanyanya mer*mas saja, Jacob menuntun Bella naik ke atas meja dapur lalu menyingkap pakaian Bella keatas. Jacob mematung mengagumi keindahan yg terpahat sempurna di hadapannya. "Sungguh ciptaan yang sempurna," lirih Jacob yang kemudian menangkup pay*d*ra Bella yang besar padat berisi melumat dan bermain dengan bibirnya. Bella yang memang sejak awal memiliki desiran aneh saat bersentuhan dengan pria culun di hadapannya sangat puas dengan sensasi yang diberikan Jacob. Des*han dan rintihan lolos dari bibir manis Bella, ditambah kedutan di bawah Bella yang telah basah meronta untuk segera di jamah. "Aku sudah tidak tahan, rasanya aku ingin meledak. Penuhi aku dengan milikmu Jacob," racau Bella ketika jari jemari Jacob bermain di inti wanita itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD