Dunia Zivana seakan luluh lantak setelah putusan sidang meresmikan jika ia dan Bram sudah bukan lagi suami istri. Meskipun keputusan itu sudah dipikirkan dengan matang, memilih berpisah dan menjalani kehidupan yang baru beserta keempat anaknya, tetapi hati itu begitu rapuh menerima kenyataan, jika kini statusnya sudah menjadi janda untuk yang kedua kalinya.
Omongan orang sebelum jatuh putusan pengadilan, sudah membuatnya risih. Banyak yang mendukung keputusannya untuk berpisah dengan Bram yang tidak bertanggung jawab dan sudsh bertindak kasar, tetapi tak sedikit pula yang menggunjing di belakang, menilainya macam-macam. Tidak bersyukur, tak ada asap kalau tak ada api, tak becus jadi istri, dan berbagai tudingan lain yang dijatuhkan padanya.
Nyeri berdarah-darah. Dunia Zivana terasa hampa dan gelap seketika. Sepi menguasai bagai tinggal di tengah hutan mencekam. Ia terpuruk akan keadaan, entah apa yang akan dilakukan untuk membangkitkan kembali semangat hidupnya yang mulai terpuruk.
Tak ada lagi senyuman meski sekuat apa pun anak-anaknya menghibur, tak ada lagi gairah untuk kembali berdiri dan mulai meniti masa depan. Zivana seakan larut dalam kenangan buruk yang telah mengubur semua kenangan manis masa indah mahligai pernikahannya bersama Bram.
Tak ada juga yang bisa ia harapkan untuk menggantungkan hidupnya kini. Kedua saudara laki-lakinya pun tak bisa banyak membantu. Hanya sang ibu yang masih selalu bersikap sinis sekaligus siap untuk menampung dan menopang kebutuhan hidup ia dan anak-anak.
Berhari-hari Zivana lebih banyak melakukan aktivitas di dalam kamar. Mengurung diri dan larut dalam kesedihan. Meratapi nasib buruk yang tak kunjung mau pergi. Ia lemah tak berdaya. Entah pada siapa mengadukan beban hidupnya agar terasa lebih ringan.
Sejak masuk kuliah, ia sudah jauh dengan sahabat-sahabat semasa sekolah putih biru. Tak ada lagi komunikasi yang terjalin di antara mereka. Zivana makin jauh dari orang-orang yang selalu mendukungnya. Ia kesepian, terpuruk di sudut ruang gelap yang sunyi. Sendiri dan hampa.
Sahabat-sahabatnya pun.sibuk dengan dunia mereka masing-masing yang juga memiliki rumah tangga dengan konflik yang mereka punya, dan Zivana tak ingin merecoki denganasalah rumah tangganya yang sudah kandas.
"Bunda harus makan, kalau ngga, nanti bisa sakit," ujar Virna saat membujuk sang ibu untuk makan bersama.
Zivana bergeming. Tirai yang menutupi jendela berukuran besar di kamarnya selalu tertutup rapat, tak boleh siapa pun membukanya. Evalia dan Virna tentu saja tak berani mengusik perintah sang ibu. Namun, ada kekhawatiran menggelayut saat ibunya tak mau menyentuh makanan yang disuguhkan.
Sebagai anak tertua, Evalia merasakan kesedihan ibunya, meski ia belum pernah mengalami apa yang perempuan itu alami saat ini. Namun, ia beranggapan jika sang ibu tengah mengalami masa terberat dalam hidupnya.
"Bundamu tengah mengalami masa terberat dalam hidupnyqa," ucap Uyut, ibu dari Syam, saat Evalia menanyakan perihal keadaan sang ibu yang berhari-hari mengurung diri di kamar.
"Apa yang harus Kakak lakukan supaya Bunda bisa kembali seperti sebelumnya, Uyut?" tanya Evalia seakan ia bisa membujuk sang ibu jika saran dari uyutnya itu manjur membuat sang ibu kembali seperti sebelumnya.
"Sementara ini, biarkan saja bundamu seperti yang dia inginkan saat ini. Kita banyak-banyak berdoa saja agar Bunda diberikan kekuatan dan kesabaran dalam menjalani kehidupannya," tukas Uyut bijak.
Evalia sedikit lebih tenang. Ia kini memahami, ucapan orang dewasa yang bijak, lebih bisa menenangkan hati.
Tak ada yang bisa dilakukan anak berusia delapan tahun itu. Ia hanya berusaha menyadarkan sang ibu, jika masih ada empat anak yang masih membutuhkan kasih sayang dan perhatian darinya. Itu pun seringkali diabaikan.
Sang ibu seperti hidup dalam dunianya yang ia cipta sendiri. Evalia tak menyerah, setiap kali diabaikan, saat itu juga semangatnya tak pernah surut untuk selalu mengingatkan. Selalu seperti itu setiap hari.
Lain halnya dengan Sari. Sebagai ibu, ia mengurut d**a pilu. Memahami kesedihan yang dirasakan putrinya, tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa. Masa terberat yang Zivana alami, pernah ia rasakan dalam hidupnya. Namun, apa yang dialami anak perempuannya kini, tentu lebih berat dan menyakitkan.
Perang batin dalam jiwa Zivana kini tengah terjadi. Di lain sisi, ia masih merasakan sakit yang luar biasa, hingga untuk berdiri di atas kaki saja terasa lemahnya, tetapi si sisi lain, ada suara-suara yang mengingatkannya tentang empat malaikat yang kelak akan menjaga dan memberinya bahagia. Ia teringat akan keempat anaknya. Mungkinkah secercah bahagia itu akan datang dalam kehidupannya nanti?
Bagiamana caranya memulai babak baru dalam hidup yang sudah begitu gelap dan hampa? Kemana harus mencari kekuatan yang bisa membangkitkan semangatnya untuk berjuang melawan ketidakadilan hidup? Pada siapa ia mengadu dan mencurahkan isi hati, agar bisa lebih tenang dan memulai pertarungan yang sebenarnya nanti?
Perempuan itu mengehela napas panjang, mengeluarkan sedikit beban yang bisa meringankan pundak dan meluaskan dadanya yang sesak. Suara-suara itu seolah terus menghantui, mengingatkannya pad sebuah makna tentang kekuasaan. Siapa yang telah menciptakan takdir yang kini ia terima? Siapa yang lebih berhak memberikan putusan yang ia jalani sekarang?
Berbagai pertanyaan hilir mudik dalam pikiran. Ia telah lalai akan kebesaran yang selama ini memberikannya kehidupan. Ia lupa, jika kekuasaan yang sebenarnya terletak di tangan Sang Mahakuasa. Tuhan yang telah ia tinggalkan sejak lama. Jauh sudah ia percaya, bahwa Dia ada dengan segela kuasa-Nya.
"Allah tak pernah tidur, Teh. Dia ada dengan segala kuasa-Nya. Hanya seringkali kita lupa, jika apa yang terjadi, semua itu atas kehendak-Nya. Maka, kita pun seharusnya kembali dan memasrahakn diri hanya kepada-nya," ujar Kiai Musa menjelaskan saat Zivana dengan sengaja datang ke kediamannya.
Kiai Musa adalah tokoh alim ulama terkemuka di wilayah tempat tinggalnya. Beliau pun terpandang di berbagai kalangan, hingga ke luar daerah. Hal itu terbukti dari para tamu yang sering datang berkunjung menggunakan mobil-mobil dengan pelat nomor luar kota.
Beliau memiliki banyak murid yang diajarkan tanpa adanya pesantren. Didikannya yang menjurus pada ketauhidan beserta makna di dalamnya, menjadikan beliau guru teladan, penasihat bijak dan perantara yang memiliki ilmu setingkat lebih tinggi dari manusia biasa.
Ya, beliau yang kini menjadinalasan Zivana untuk berbagi luka. Tak pernah sekalipun ia datang pada Kiayai yang terkenal baik hati dan dermawan itu. Ini pertama kalinya ia meminta nasihat dan pencerahan hidup. Sudah tak tahu pada siapa lagi bisa menemukan langkah yang harus ia lakukan ke depan.
Tiba-tiba ingatannya tertuju pada sosok bersahaja yang terkadang hanya dengan senyuman saja menanggapi curahan hatinya. Zivana awalnya salah tingkah. Entah harus bicara apa lagi agar bisa menemukan solusi atas permasalahannya kini.
"Berserah dirilah hanya kepada Allah, niscaya kau akan menemukan jalan yang kau anggap buntu, ketenangan yang tak pernah kau rasakan, kebahagiaan yang kau cari. Hanya saja, kau mampu atu tidak melewati setiap ujian yang penuh dengan miateri.
Jika mampu, kau layak mendapatkan semua itu tanpa perlu risau lagi," imbuhnya di sela senyum tipis yang tak pernah hilang dadi bibirnya.
"Sudah lama Teteh ngga salat, Kiai. Teteh lupa caranya," ucap Zivana malu-malu. Ya, ia sudah sangat lama tak pernah melakukan kewajiban itu.
Tak pernah pula ada yang mengingatkannya akan pentingnya ibadah wajib yang tak boleh ditinggalkan meski dalam keadaan apa pun. Ia tak pernah tahu, jika salat merupakan tiang agama, yang jika ditinggakakn sekali saja, maka akan mampu merobohkan pertahanan dalam diri.
Bukan hanya roboh, hal itu telah menghancurkan kehidupan Zivana yang kosong, hampa dan sepi. Kini, ia ingin memulai lagi kembali pada apa yang sudah digariskan sebagai seorang hamba, bahwa Allah adalah tempat satu-satunya kembali.