Beberapa saat kami mengamati daerah disekitar tempat kami berlindung untuk memastikan apakah sudah aman buat kami untuk turun dari pohon besar ini. Marvell tidak merasa kesulitan menuruninya dengan berpijak pada dahan dan ranting hanya bermodalkan kedua tangan yang mencengkram kuat kulit pohon besar tersebut. Aku pun turun dengan mengikuti jalur yang sudah dilewatinya lebih dahulu dengan susah payah karena setelah dilewati oleh malah mengganggu kawanan semut yang sedang mengangkut makanan. Marvell terus saja turun tanpa memperdulikan kerusakan yang telah dia buat. “Woi Vell, kalau turun itu pelan - pelan saja! Apakau tidak menyadari kalau daritadi telah mengganggu kawan semut hutan ini. Kau enak saja sudah lewat dahulu dan tidak merasakan gigitan mereka, sedangkan aku daritadi susah berka

