"Berhentilah kalian bertengkar, susulin Syifa, Kak. Jangan sampai kamu menyakiti wanita yang kamu nikahi. Jika tidak yakin dengan pernikahan itu, kamu harusnya menolaknya. Kita bisa melakukan cara lain untuk meredam kemarahan warga," turut Husniah panjang lebar. Aku menghela nafas dalam-dalam, apa aku memang keterlaluan? Aku hanya perhatian pada adik sepupuku. Apa salahnya? Tanpa menunggu dua kali Husniah menyuruhku, kususul juga akhirnya wanita yang sudah menjadi istriku itu. Aku turun ke bawah untuk mencarinya. Kuketuk pintu kamar mandi yang terdengar suara air gemericik dari dalam sana. "Fa, jangan nangis di kamar mandi. Kalau mau nangis, dadaku nganggur nih." Aku berkata sambil mengetuk pintu. Tak lama berselang, pintu terbuka dan menyembullah wajah Syifa dari dalam sana. "S

