Mama meratap sambil menangis seakan terjadi sesuatu yang besar terhadapku, padahal aku hanya kehilangan kenyamanan. Syifa hanya bisa terdiam tak bisa berkata apa-apa, aku berharap dia tidak merasa bersalah melihat hal seperti ini terjadi. "Kami akan tinggal di rumah Mas Hanan, Tante. Rumah itu kosong karena mereka tinggal di luar kota." Akhirnya Syifa membuka suara setelah Mama terlihat tenang. "Benarkah?" tanya Mama memastikan. "Iya benar, rumah itu kosong. Kami bisa tinggal di sana untuk sementara waktu," jawab Syifa meyakinkan Mama. Mama menarik nafas lega, mungkin wanita yang sudah melahirkanku itu berpikir, setidaknya anaknya punya tempat tinggal. "Jaga Wisnu untuk Mama ya, Nak," pinta Mama pada Syifa sambil menggenggam tangan menantunya. Bukankah seharusnya aku yang menjaga

