Bab 73

1212 Words

Entah apa yang terjadi dengan Syifa hari ini, pulang kerja sedikit terlambat, dan saat kukatakan aku tak mendapatkan pekerjaan, berbagai kalimat menyalahkan diri sendiri keluar dari mulutnya tanpa henti. Dia mengatakan seolah-olah dialah yang menjadi sebab segala kesusahan yang menimpaku. Sampai dia mengungkapkan perasaannya tanpa basa-basi. Menginginkan aku memberinya buah hati sebagai kenangan-kenangan jika aku meninggalkannya. Bagiamana bisa aku meninggalkan istri dan anakku. Ah, Syifa. Kamu terlihat begitu mengemaskan saat mengoceh seperti ini. Wajah berurai air mata, mulut tak henti bicara, dan sesekali sesenggukan. Tidak ada yang salah denganku hari ini, Syifa. Bagiamana aku bisa mendapatkan pekerjaan, jika yang aku datangi bukan membutuhkan keahlianku tapi membutuhkan hati dan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD