Setelah pertemuan dengan Faisal di imigrasi tidak ada feeling apapun kecuali kesibukan kami menyiapkan segala sesuatu yang diperlukan Heri untuk berkuliah di Inggris. Aku tidak punya kecurigaan apapun serta firasat yang jelek, tentang kelanjutan dari hidup kami yang sudah penuh liku ini. Kupikir badai itu telah berlalu dan semuanya sudah selesai. Ya, kami hanya ingin hidup dengan tenang, tidak mengganggu dan tidak mau diganggu. Sehari sebelum keberangkatan anakku, tas, koper dan semua dokumen yang diperlukan sudah siap, bahkan aku sudah menyiapkan bekal makanan kesukaan yang sekiranya akan dimakan olehnya nanti selama seminggu. Tiba tiba saja Heri memanggilku dari kamarnya dengan nada yang panik. "Umi! Umi!" Anakku tidak pernah memanggilku dengan cara seperti itu apalagi ini di pagi j

