"Eh, euhm, se-sebaikmya saya masuk..." Aku ingin menghindari percakapan canggung itu karena merasa belum siap mental. Aku belum menyiapkan diriku untuk tertarik kepada seorang lelaki mengingat diri ini baru saja ditinggalkan oleh suami. Bukannya menolak untuk move on dan melangkah ke depan, aku hanya butuh waktu untuk menghilangkan luka yang ada di hatiku kemudian membuka lebaran baru dengan orang lain. "Kenapa Mutia menjadi gugup dan menghindari saya?" Aduh, kini dia menyebut namaku dengan suara yang begitu lembut hingga aku benar-benar gemetar. "Bu-bukan begitu, Mas. Ehm, sa-saya merasa tidak enak saja dengan orang yang ada di dalam karena kita berdua duduk di luar sini." "Bukannya ayahnya Mutia yang meminta saya untuk mengajak kamu duduk ke teras?" "Be-benar juga, ta-tapi ..."

