106

1238 Words

Wanita itu masih terisak pilu dan menutupi wajahnya di antara kedua tangannya. Dia memeluk lututnya sementara aku dan Mas rusdi hanya memandang dia dengan pikiran kami masing-masing. "Apa untungnya menahanku di sini? Bagaimana kalau aku mati Apakah kalian bisa mempertanggung-jawabkannya?" "Ya tinggal kubur saja," jawab suamiku santai. "... Tidak usah menangis dan makanlah makananmu." "Dasar psikopat, bagaimana aku bisa makan dalam situasi seperti ini. Tunggu saja aku bisa keluar dari tempat ini maka aku akan melaporkanmu ke kantor polisi dan memastikan kau dipenjara sampai kau tidak akan bisa bebas lagi." "Ya, ya, silakan. Makanya aku bilang kau harus makan, agar bisa bertenaga untuk melakukan semua itu," jawab suamiku sambil memberi isyarat padaku agar kita meninggalkan dia. Saat a

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD