"Sudahlah Umi..." Heri segera berdiri untuk memeluk dan mengusap air mataku yang menetes. "Sudah ya...." Ia membingkai wajahku lalu melebarkan senyuman yang meneduhkan hati. Anakku juga mengecup keningku. "Air mata bumi terlalu berharga untuk dibuang-buang atas alasan yang tidak berguna, ayo bangkit dan tersenyum karena sejatinya Umi adalah wanita yang mulia dan baik hati. Aku ingat Umi sudah membuatkan makanan untuk anak dan istri Ayah di rumah sakit... Itu sudah membuktikan bahwa umumnya adalah Wanita berhati luas yang penuh dengan kesabaran. Percayalah, Karma baik sudah menunggu Umi di masa depan." "Insya Allah," ucapku sambil memeluk anakku. Kedua putriku yang lain juga tak sanggup untuk tak ikut meneteskan air mata, tapi mereka tidak ikut sedih, justru mereka menangis bahagia kare

