Saat kedua putra dan putriku menangis Felicia tiba-tiba datang dari rumah sakit dan melihat kakaknya di ambang pintu. Putri bungsuku itu melihat mereka dengan iba dan menatapku secara bergantian lalu hanya menarik nafasnya dengan dalam. "Ayolah... Kenapa kalian menangis? jangan ciptakan mendung lagi dalam rumah ini, kita sudah terlalu banyak menghadapi cobaan dan sudah waktunya untuk menghapus air mata lalu bangkit menghadapi hari esok," ucap Felicia. "Feli ...." Heri tidak mampu meneruskan kalimatnya ia tercekat melihat adik bungsunya, sementara felicia yang tidak sanggup menahan rasa ibanya lalu menghambur dan memeluk kakaknya. "Kak, ya Allah, Kak. Kakak harus tegar." "Bagaimana aku akan tegar menghadapi semua ini sementara aku adalah satu-satunya laki-laki yang nantinya diharapkan a

