8. cukup

853 Words
"cukup sudah!" Kuhempas tangannya yang masih melingkar di pinggangku, "Bukannya kamu menyesal menyakitiku tapi kau malah menyesal karena tidak segera membawa dia ke dalam rumah ini. Apa yang ada dalam pikiran dan isi kepalamu Mas Kenapa kau begitu egois sekali dan tidak menimbang perasaanku dan anak-anak!" Mau tak mau aku terpaksa marah padahal hari sudah malam dan bisa saja tetangga mendengarkan kami. "Astaghfirullah .... aku minta maaf mutiara niatku adalah niat yang baik. Bukannya kalian menyesali kalau aku tidak jujur sejak awal? dari situ aku menemukan kesadaran bahwa seharusnya aku memang jujur dari awal, karena jika memang itu terjadi pastilah saat ini kita sudah saling menyayangi dan mencintai." "Itu hanya khayalan dan angan-anganmu saja! tidaklah mungkin aku dan rima bisa akur kalau kami berdua bersaing untuk mendapatkan hatimu, cukup satu yang membuatku sangat penasaran, Apakah kau merasa keren dan hebat saat punya dua orang wanita di dalam hidupmu. Yang satunya wanita yang hanya diam di rumah dan mengurusi rumah tangga dan yang satu lagi adalah wanita karir yang sukses dan juga modis, apakah kau merasa keren, Mas?!" "Tidak, astagfirullah sungguh Jangan katakan itu..." "Jangan bawa istighfar dan nama Allah, Aku muak mendengarnya. Aku muak mendengarkan kau mencampur-adukkan kebenaran dan kebohongan. Aku sungguh makan hati, lepaskan aku," ucapku. Mas Faisal tetap saja berusaha untuk menyentuh diri ini menarik bahuku lalu berusaha untuk memelukku tapi aku terus menepisnya. Dia berusaha menyentuh rambutku yang panjang saat aku tadi melepas hijab, tapi aku yang sudah jijik langsung menepiskan tangannya dengan pukulan yang keras. "Jangan sentuh ak, jangan pernah tangan kotor itu menyentuhkan kulitnya ke atas rambutku. Kau tidak ingat ya, betapa aku sangat menjaga aurat dan kehormatanku dari pandangan lelaki lain, tapi entah kenapa kau tidak bisa menjaga pandangan dan kelaminmu hanya untuk diriku saja!" Tak kuasa kuucapkan kalimat-kalimat yang begitu kasar kepadanya. Kutatap matanya dan untuk pertama kalinya aku benar-benar berani menantangnya, tak terberikan betapa luka dan amarah yang terus bergejolak di dalam d**a hingga membuat hati ini memanas. Sebenarnya aku ingin tidur dan beristirahat dengan tenang ingin mengobati mentalku yang terluka serta hatiku yang lelah, tapi tak tahu Kenapa suamiku terus saja mengajakku membicarakan tentang Rima seolah-olah dia memaksaku untuk berdamai dengan keadaan malam ini juga. Terus saja itu adalah harapan yang mustahil kalau kamu yang baru diberitahu akan langsung menerima Rima begitu saja. Juga putranya yang konon hampir seumuran dengan Felicia, ya Allah, sakit sekali d**a ini membayangkan betapa dia dulu membagi kasih sayang antara anakku dengan anaknya Rima. Apa saja yang sudah Mas Faisal berikan untukku dan apa yang dia berikan untuk anaknya Rima, manakah yang lebih banyak jatah diriku atau jatahnya Rima. Kalau dipikirkan seperti itu hati ini semakin dendam dan terluka-luka saja. "Jangan menumbuhkan kebencianmu kepadaku Padahal aku adalah suamimu. Aku adalah imammu, ini hanya perkara poligami dan agama pun bahkan tidak melarangnya." "Agama tidak melarang asal dilakukan sesuai dengan syariat yang ada. Rasulullah memang berpoligami tapi dia berpoligami dengan tujuan untuk memuliakan wanita-wanita lemah dan janda-janda tua yang sudah ditinggalkan suaminya. Rasulullah menikahi mereka untuk melindungi mereka bukan menikahi karena syahwat." "Tidak mungkin Beliau tidak meniduri istri-istrinya!" "Janganlah kita berdebat tentang suri tauladan umat, kau sesekali tidak akan pernah bisa seperti dirinya walau seujung kuku pun! Jangan pernah menyamakan dirimu dengan Rasul, pria yang masih bergelimang dosa dosa jangan sesekali untuk memberi ceramah." "Loh ini adalah tugas dan tujuanku untuk bisa meluruskan kalian dan menyatukan kedua istriku. Tadinya aku sudah berencana untuk mengatur sebuah pertemuan dan liburan keluarga agar kita bisa bicara dari hati ke hati, tapi ternyata Tuhan berkata lain dan memintaku untuk mengungkapkan semua itu hari ini." "Baiklah ikuti saja kata-kata takdir. Sekarang aku mohon diamlah karena aku ingin tidur. Aku tahu juga Mas... Kau tidak akan bisa tidur sementara Anak dan istrimu berada di rumah sakit. Jadi alih-alih merenangkanku gantilah pakaianmu dan pergilah jaga anakmu. Dia pasti sangat membutuhkanmu. Uruslah dengan baik ...." Menetes air mata suamiku saat aku mengatakan semua itu, entah kenapa meski aku terluka dan sakit hati sekali tapi tidak tega rasanya diri ini jika membiarkan anak yang kecelakaan itu berjuang tanpa kehadiran ayahnya. Aku berada di dalam dilema dan ketidaktegaan sekaligus rasa marah yang begitu besar. "Aku berterima kasih atas pengertianmu mutiara Aku sungguh berhutang Budi atas kebaikan dan kerelaanmu." "Ini semata-mata demi putramu yang kau beri nama Reno. Aku tidak menyangka kau menamainya dengan calon nama dari anak yang kita rencanakan kehadirannya, kau merencanakan nama denganku lalu menghadirkan anak itu dengan wanita lain." Aku tertawa getir sambil mengusap air mata sementara suamiku yang sepertinya sudah tidak mau buang waktu lagi segera mau ganti pakaiannya lalu meluncur meninggalkan diri ini yang termangu di atas tempat tidur dan tidak sanggup menahan luka-luka lagi. "Aku pergi ya mutiara, tolong tenangkan anak-anak dan beritahu mereka tentang situasiku yang sangat terhimpit. Oh ya jangan lupa tolong transferkan sejumlah uang ke rekeningku." "Baik." aku mengangguk sambil menahan kegetiran kalau aku juga harus membagi uangku kepada keluarganya. "Aku memohon keridaanmu." "Iya, jaga anakmu." Sakit memang tapi aku tidak bisa bersikap egois terhadap anak itu, Aku ingin balas dendam tapi pada ibunya bukan kepada anaknya. Anak-anak bukanlah dosa. Kita orang tua lah yang memutuskan untuk menghadirkan mereka ke dunia ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD