4

1004 Words
Hari Kamis sesuai jadwal pelajaran, kelas XII IPA 1 mendapatkan jam olahraga pertama di pagi hari ini. Kebanyakan cowok memang sangat menunggu jam pelajaran olahraga. Berbeda dengan beberapa cewek yang terlihat malas-malasan, apalagi jika tidak memiliki bakat dalam bidang tersebut. Selain membenci pelajaran seni budaya karena tidak pandai melukis dan bernyanyi, Aleta jug mengaku kalah untuk pelajaran olahraga. Jika boleh memilih, Aleta lebih bisa menikmati soal-soal yang diberikan pada pelajaran matematika dan fisika. Sebenarnya Aleta suka berolahraga, tetapi bidang bulu tangkis saja. Selebihnya, Aleta angkat tangan karena tidak bisa melakukannya. Tidak handal dalam bidang olahraga dan seni budaya, Aleta tetap percaya diri. Dia sama sekali tidak bisa merasa bahwa dirinya kurang. Karena sang pencipta sudah menciptakan manusia dengan porsi masing-masing. Memiliki kekurangan bukan suatu masalah, karena pada faktanya memang tidak pernah ada manusia yang sempurna di dunia ini. Aleta dan ketiga sahabatnya sudah keluar dari kelas setelah berganti pakaian dan menuju ke lapangan olahraga. "Leta, coba lihat ke sana. itu Devan ganteng banget sumpah." Dinda tersipu malu melihat Devan yang begitu tampan, kalau di film animasi pasti ilernya sudah keluar. "Biasa aja. Eh, emangnya kelas X IPA 1 hari ini juga olahraganya? Barengan sama kelas kita gitu?" tanya Aleta. "Ya ampun Aleta ku yang paling manis, emang dari pertama sekolah kali kalau X IPA 1 olahraga nya hari kamis sama kayak kita. Lo kemana aja sih sampai gak nyadar sama sekali, atau jangan-jangan lo grogi ya karena ada Devan sekarang?" tanya Dinda mengejek sambil menoel pipi Aleta. "Enggak lah, ngapain juga gue grogi sama dia. Gue cuma gak terlalu merhatiin kemarin-kemarin. Gue kira jadwal pelajaran mereka diganti deh. Perasaan kemarin gak barengan. Ya gak sih?" tanya Aleta pada Aluna dan Faya. "Iya emang gak barengan, tapi dari kemarin harinya sama. Cuma kata adik gue jadwalnya emang diganti." Aluna berkata. "Dengerin, Din. Gue enggak salah dan gak grogi karena ada Devan. Tapi emang jadwal mereka yang diganti, makanya sekarang jadi barengan sama kelas kita." Dinda menyengir. "Hahaha, gue emang sengaja bikin lo emosi doang kok." "Ngaco lo," ucap Faya. Setelah berbaris dengan rapi, Pak Ahmad selaku guru olahraga mulai memberikan aba-aba agar mereka berlari memutari lapangan sebanyak tiga kali terlebih dahulu sebagai pemanasan. Setelah kegiatan pemanasan selesai, mereka kembali berdiri sesuai dengan urutan barisan sebelumnya. "Anak anak hari ini kita akan belajar servis atas bola voli, kalian punya tiga kali kesempatan untuk mendapatkan nilai. Jika dalam tiga kali kesempatan kalian tetap gagal, maka nilai kalian hanya akan mendapatkan 70. Itu juga nilai hadiah karena kalian sudah berpartisipasi."  Pak Ahmad mulai membuka absen. "Bapak akan memanggil nama kalian satu persatu untuk mempraktikkannya. Bapak ulangi lagi bagi yang tidak bisa maka nilainya hanya 7. Kita mulai dari absen pertama." Pak Ahmad memberikan intruksi.     "Aluna Khaira Amalia," panggil pak Ahmad. "Iya, Pak," sahut Aluna dan dia pun mulai melambungkan bolanya untuk melakukan servis atas. Dia berhasil meraih nilai sembilan karena pukulan yang sangat bagus. Aluna memang dikenal pandai dalam permainan voli, dia juga sering mengikuti perlombaan bola voli dulu. Hanya saja Aluna tidak bisa terlalu fokus pada turnamen bola voli karena Aluna mengidap penyakit asma yang sering kambuh. "Selanjutnya Aleta Putri Pricillia," panggil pak Ahmad. Aleta pun melangkah masuk ke dalam lapangan bola voli dan mengambil bola, saat hendak melambungkan bola voli matanya tertuju pada seseorang yang berdiri di samping lapangan. Cowok itu sedang melihat ke arah Aleta sekarang. Berusaha tidak menghiraukannya. Aleta fokus kepada bola voli yang berada di tangannya. Sudah dua kali dia gagal mencetak angka hanya ada 1 kesempatan lagi baginya. Aleta memang tidak berbakat dalam olahraga bola voli, jadi mau bagaimana lagi selain pasrah dengan nilai 70. Saat Aleta hendak keluar dari lapangan, sebuah suara menghentikan langkahnya. "Masa udah kelas XII masih gak bisa main voli, emangnya waktu pelajaran olahraga lo ngapain?" Aleta menatap ke arah Devan. Sedikit sakit saat mendengarkan kalimat tersebut diucapkan oleh Devan. "Omongan gue gak salah 'kan? Oh ya lo juga pendek, mana mungkin orang pendek bisa main voli," ucap Devan dengan nada dan tersenyum mengejek. "Udah merasa keren dengan kalimat yang barusan keluar dari mulut lo? Gue emang gak berbakat di bidang ini, kalau emang berani. Mau lo adu matematika ataupun fisika sama gue? Mungkin kalau mata pelajaran itu yang diadu, giliran gue yang bakalan ngatain lo." "Tapi kata-kata gue barusan gak ada yang salah. Kenapa lo harus marah? Lo gak terima karena ada orang yang menilai diri lo gak sempurna." "Gue gak pernah meminta untuk dianggap sempurna. Biar gue kasih tau, sebaiknya lo juga ngaca. Hidup lo juga punya kekurangan, jadi jangan sibuk urusin kekurangan atau menghina orang lain. Emang pantes sih modelan kayak lo dipukulin. Harusnya hari itu sekalian aja lo mati." Aleta berkata pedas. "Gue kira lo beda, ternyata sama aja sifatnya kayak komplotan banci itu." "Wow, ada yang lagi nyoba nantangin senior perempuan nih. Hidup lo gak bahagia kalau gak usik orang lain?" Alvin datang dan merangkul Aleta. "Gue gak ada urusannya sama lo." "Gangguin Aleta berarti lo ngajak ribut gue juga. Bukan cuma gue, tapi seluruh anak kelas XII. Mau apa lo dari Aleta? Mau caper?" Alvin tertawa keras. "Lo salah mangsa kalau mau caper, Aleta paling anti sama orang caper. Apalagi modelan kayak lo." "Oh aja ya kan. Gue juga gak nyari ribut sama lo soalnya." "Kabur, pengecut banget." Alvin tertawa. "Wih, jangan kabur dulu dong. Gue baru juga mau nimbrung," ucap Kevin. "Banci satu lagi datang. Kenapa lo semua pada hobi rusuh sama gue? Kalau ngefans bilang aja. Gue tau banget kok, kalau gue lebih keren daripada lo semua." "Eh anak bau kencur, lo kalau ngomong sama senior punya sopan santun gak? Pantesan banyak siswa di sini yang benci sama lo, lagian gue ketua OSIS di sini. Jadi lo gak usah cari masalah sama gue," jawab Alvin. "Mau lo ketua OSIS, mau lo kepala sekolah gue gak peduli karena gue gak nyari masalah sama lo," sahut Devan. Perdebatan sengit itu pun berlangsung agak lama karena kebetulan pak Ahmad sedang ada keperluan dengan guru lain, jadi beliau sudah meninggalkan lapangan. Saat mereka berdua sedang sibuk berdebat, Kevin tiba-tiba tersenyum dan mengajukan sebuah permainan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD